Kolom

Bakat Anak-Anak Kita

Ahman Sarman - detikNews
Sabtu, 22 Agu 2020 13:45 WIB
Lomba baca puisi tingkat sekolah di Kabupaten Boalemo, Gorontalo
Jakarta -
Ketika dipercaya untuk menjadi juri Lomba Festival Seni Siswa Nasional (FLS2N) tingkat SMP se-Kabupaten Boalemo, saya berharap agar dipercayakan menjadi juri pada lomba menulis cerpen saja. Beberapa alasan yang menjadi pertimbangan di antaranya; pertama, sejak tiga tahun terakhir ini saya mendalami cerpen, membaca karya cerpenis-cerpenis Indonesia dan cerpen-cerpen dari negara Barat, termasuk Inggris.

Kedua, ketika hendak menyelesaikan program magister di Universitas Negeri Surabaya (Unesa) saya menulis tesis dengan memfokuskan penelitian pada kajian intertekstual kumpulan cerpen Indonesia dan kumpulan cerpen Inggris. Sehingga, dengan penelitian itu, banyak pengalaman bahan bacaan berkaitan dengan cerpen.

Ketiga, ikut terlibat langsung dalam penulisan cerpen yang dimuat dalam media cetak setiap pekan, di antaranya surat kabar Harian Gorontalo Post (edisi Sabtu-Minggu). Pengalaman-pengalaman itu sangat membantu dalam menelusuri jika ada unsur plagiat yang dilakukan oleh peserta lomba.

Tampaknya harapan itu lain dari kenyataan. Saya dipercayakan untuk menjadi juri lomba cipta syair, cipta pantun, cipta puisi, dan baca puisi. Maka dari itu, saya harus kerja ekstra untuk menambah pengetahuan tentang bentuk-bentuk syair dari berbagai daerah, pantun dalam berbagai bentuk, membaca puisi-puisi penyair ternama Tanah Air, dan lain sebagainya, termasuk menonton video pembacaan puisi yang dilakukan oleh penyair terkenal seperti W.S. Rendra, Taufiq Ismail, Sutardji Calzoum Bachri, Sapardi Djoko Damono, dan Amir Hamzah secara berulang-ulang.

Nama-nama itu bukan saja hanya sebagai penulis puisi, tetapi mereka juga membacakan puisinya dalam berbagai ajang kegiatan, baik tingkat nasional maupun internasional. Hal itu saya lakukan untuk menambah pengetahuan dunia tentang pembacaan puisi yang dilakukan langsung oleh penyairnya di hadapan khalayak. Selain itu, dapat dijadikan bahan komparasi antara pembacaan puisi yang dilakukan oleh penyairnya dengan pembacaan puisi yang dilakukan oleh peserta lomba.

Singkat kalimat, pembacaan puisi yang dilakukan langsung oleh penyairnya akan sulit bila ditiru oleh peserta lomba. Rasa pesimis sekaligus berhipotesis, sebab saya yakin para peserta lomba tidak banyak menyukai pembacaan puisi. Selain ajang lomba pembacaan puisi baru pertama kali dilakukan di tingkatan sekolah menengah pertama secara nasional, faktor lain turut berpengaruh di antaranya anak-anak belum menemukan peniruan yang tepat karena pembacaan puisi tidak seperti menyanyikan lagu.

Kalau menyanyikan lagu banyak sumber yang bisa dijadikan pengalaman tambahan, misalnya menonton acara-acara live di televisi seperti D'Akademia Indosiar, Indonesian Idol, KDI, dan lain sebagainya. Banyak media yang menyediakan itu, sehingga kapan saja bisa belajar. Beda dengan pembacaan puisi, sangat langka disiarkan secara rutin di acara-acara televisi, harus di-download melalui internet, itu pun kadang bukan penyairnya langsung yang membacanya.

Materi pembacaan puisi bagi anak-anak kita lebih banyak diserap melalui pembimbing atau gurunya. Sedangkan guru memperoleh materi pembacaan puisi lewat dosen ketika kuliah. Sedikit yang memperoleh pengalaman pembacaan puisi lewat penyairnya, misalnya melalui kontes baca puisi oleh penyair-penyair Tanah Air. Tentu, pengalaman-pengalaman itu tidak segar lagi jika dikaitkan dengan perkembangan masa kini.

Pembacaan puisi juga sifatnya meraba-raba nada yang bakal dituturkan lewat kata-kata puisi, sebab harus diakui nada puisi lagi-lagi tidak seperti nada lagu yang sifatnya paten. Sehingga, wajar jika ada penafsiran ganda dalam penilaian, berbeda persepsi dalam interpretasi, memunculkan makna bias dalam menganalisisnya.

Hal menarik yang sulit dilupakan adalah sebagian besar peserta lomba memunculkan bakatnya mirip dengan video yang saya tonton, malah melebihi pembacaan yang dilakukan oleh penyairnya. Hipotesis terbantahkan. Mereka dengan semangat membacakan puisi-puisi pilihan penuh penjiwaan, mendramatis penonton, mengungkapkan rasa sedih, menyampaikan kebenaran penuh semangat, dan lain sebagainya.

Mereka dengan sesaat dapat dijuluki junior-juniornya W.S. Rendra, Taufiq Ismail, Toto Sudarto Bachtiar, Chairil Anwar, Sutardji Calzoum Bachri, Ahmadun Yosi Harfanda, dan Sapardi Djoko Damono. Dari pengamatan itu, ada indikasi bahwa anak-anak kita memiliki bakat di bidang sastra yang cukup tinggi. Para kritikus dan sastrawan ternama yang pernah diperbincangkan namanya karena kompetensinya bakal digantikan oleh anak-anak kita.

Barangkali H.B. Jassin sebagai Paus Sastra Indonesia (asal Gorontalo) akan digantikan oleh orang-orang yang berasal dari Gorontalo pula. Pandangan itu sangat beralasan, sebab hingga saat ini belum ada pengganti kritikus dan sastrawan secermat H.B. Jassin. Bahkan, sastrawan tidak akan terkenal jika belum diakui atau dipuji oleh H.B. Jassin.

Anak-anak kita, anak-anak Indonesia baik yang beretnis asli Indonesia maupun blasteran, lahir di Indonesia, berdomisili di Indonesia, dan anak-anak Indonesia perantauan memiliki potensi luar biasa. Tinggal sedikit pengasahan serta memanfaatkan peluang dapat menjadi pengganti para pekerja sastra Indonesia. Semoga.

Ahman Sarman Kepala SMP Negeri 12 Wonosari, Kabupaten Boalemo, Gorontalo

(mmu/mmu)