Pustaka

Mengasuh Anak dengan Hewan-Hewan Humanis

Rizka Nur Laily Muallifa - detikNews
Sabtu, 22 Agu 2020 12:18 WIB
Foto: Instagram @kecelakaanwarna
Jakarta -
Judul Buku: Si Jlitheng; Penulis: Impian Nopitasari; Penerbit: Babon, 2020; Tebal: iv + 52 halaman

Internalisasi ragam nilai kehidupan lumrah terjadi dalam keseharian anak-anak. Orangtua atau orang dewasa pada umumnya menanamkan sejumlah banyak nilai yang mereka amini kepada anak-anak di sekitarnya. Orangtua yang konservatif berpeluang membentuk diri anak menjadi patuh. Namun, kepatuhan itu sangat mungkin dilatarbelakangi oleh rasa takut yang berlebihan. Sang anak memilih patuh karena takut dimarahi atau malah dijatuhi hukuman oleh orangtua.

Orangtua yang konservatif biasanya memposisikan dirinya sebagai pusat kebenaran. Permasalahan yang muncul dalam relasi orangtua dan anak selalu dianggap sebagai kekeliruan sang anak. Orangtua jenis ini sering tidak bisa menerima pendapat sang anak, termasuk misalnya pembelaan sang anak saat mereka dinilai melakukan kesalahan.

Dalam proses perkembangan anak, tak jarang oran tua latah terlalu menentukan pertumbuhan karakter seorang anak. Sehingga karakter asli anak-anak seperti rasa ingin tahu yang tinggi, keberanian mencoba hal-hal menantang, keinginan melawan aturan yang sudah ada kadangkala tenggelam. Anak-anak sangat mungkin menjadi penurut dan serba takut mencoba hal-hal yang sebenarnya sangat membuat mereka penasaran dan penting dalam pertumbuhannya. Tapi, bayangan ekspresi seram orangtua saat marah mengurungkan niatnya mencoba banyak hal.

Di sisi lain, perkembangan zaman juga merekam geliat perubahan pola asuh anak yang lebih inklusif. Kita misalnya melihat demonstrasi pola pengasuhan anak sarat inklusivitas dalam Komunitas Rangkul yang diinisiasi psikolog dan pegiat pendidikan Najeela Shihab. Komunitas ini sudah tersebar di sekian daerah/kota di Indonesia. Pegiatnya terdiri dari para ibu rumah tangga maupun ibu pekerja, serta para bapak rumah tangga maupun bapak pekerja.

Selain mengampanyekan kesadaran mengasuh anak secara inklusif, fokus gerakan komunitas tersebut membangun keluarga humanis, di mana setiap anggota keluarga mempunyai peran masing-masing yang saling bersinergi. Setiap anggota keluarga dibangun kesadarannya untuk melakukan tanggung jawab serta menghargai hak-hak anggota keluarga lain. Titik tekannya ada pada pembangunan kesadaran, bukan menggunakan dominasi atau pemaksaan oleh satu pihak ke pihak lain.

Baik orangtua maupun anak memiliki peluang sama untuk salah dan menciptakan permasalahan dalam keluarga. Orangtua maupun anak juga wajar didera rasa sedih, marah, senang, dan lain sebagainya. Oleh karena itu, masing-masing anggota keluarga perlu diajak menyelami hidup dengan hal-hal wajar yang senantiasa melingkupi keseharian manusia.

Upaya itu jugalah yang terbaca dari buku dongeng anak berbahasa Jawa yang ditulis Impian Nopitasari dan digambari dengan apik oleh Na'imatur Rofiqoh. Empat cerita bertokoh hewan yang terpacak dalam buku berjudul Si Jlitheng ini menghamparkan semesta kehidupan yang rasanya tak berjarak dengan keseharian manusia. Hewan satu berkawan karib dengan hewan lain, saling membandingkan nasib dan peruntungan diri, marah, menyerang yang lain, mempertahankan hidup dan eksistensi, berniat culas, juga saling membantu dan sanggup menarik hikmah hidup dari bencana atau kemalangan yang menimpa.

Semesta hewan ciptaan Impian dan Na'im memilih wajar dengan mengalami ragam ujian hidup. Hingga kemudian sampai pada taraf bersyukur setelah sanggup melalui kerikil-kerikil yang mengganjal perjalanan. Alih-alih memposisikan dirinya sebagai pendakwah yang boros menggunakan kata-kata heroik dan dogmatis, hewan-hewan yang menjadi tokoh cerita dalam buku ini menjadi kawan asyik bagi anak-anak serta orangtua untuk mengalami keseharian bergejolak dan berkembang.

Kadhang kala bekicot sok rumangsa Gusti Allah ora adil. Geneya kodhok bisa sakepenake mencolot mrana mrene dene dheweke mlaku wae rekasa kathik isih kudu nggawa omah sisan. (Kadang kala bekicot merasa Tuhan tidak adil. Kenapa katak bisa seenaknya melompat ke sana kemari sementara untuk berjalan saja ia susah dan masih harus membawa rumah di punggungnya). Pembaca diajak mengerti kesusahan hidup lekat dengan gerutuan. Bahkan menuding Tuhan tidak adil itu juga kewajaran yang kiranya tak susah kita temui di keseharian.

Membentuk Diri Anak

Pengalaman hidup pada masa kecil punya peran besar membentuk diri anak pada masa depan. Termasuk ragam bacaan yang sempat menemani hari-hari sang anak. Baik saat ia masih memerlukan orangtua untuk mengisahkan cerita, sampai kemudian ia mengenali gambar dan cerita oleh mata bacanya sendiri.

Setyaningsih (2020) dalam Kitab Cerita (Esai-esai Anak dan Pustaka) mengisahkan betapa bacaan anak menjadi pembentuk resepsi anak atas sekitar, pembentuk mentalitas, penentu nasib literasi, dan penguji cara berindonesia. Ragam bacaan tidak sekadar mampir lewat untuk mengisi keluangan hidup. Bacaan anak menentukan setiap generasi untuk memantapkan diri bertarung dalam kehidupan sosial, intelektual, dan kemanusiaan.

Hewan berhati baik menjadi idaman anak-anak. Seperti tokoh Si Ala, anak ayam yang terlahir sebagai bebek. Meskipun sempat dijauhi saudara-saudaranya karena parasnya yang berbeda, Si Ala tetap berhati mulia dan tidak pendendam. Dheweke kelingan welinge simboke yen urip iku kudu tansah nglakoni kabecikan, rupa bagus utawa ala ora dadi ngapa --Ia mengingat wejangan sang ibu bahwasanya hidup harus senantiasa melakukan kebaikan, wajah bagus atau jelek tidak menjadi persoalan.

Berbeda dengan pemahaman anak usia tiga tahun, anak-anak di tingkat sekolah dasar yang tingkat pemahamannya sudah lebih kompleks mungkin akan terkesan dengan pesan-pesan yang muncul dari setiap cerita dalam buku Si Jlitheng. Mereka bisa dengan mudah mendapati pesan-pesan moral yang ada dalam setiap cerita. Pesan moral itu berhasil tersampaikan dengan cara reflektif, tanpa kesan menggurui. Salah satunya karena tokohnya berupa hewan. Sang anak sangat mungkin lebih objektif menyerap nilai-nilai kebajikan dari hewan justru karena makhluk hidup itu berbeda dari spesiesnya.

Bekicot ayem atine ora sida dadi mangsane si wulung. Saeba kegete nalika dheweke weruh wulung mau oleh mangsa kang tumrap bekicot banget ditepungi saben dina. Ora liya si kodhok. Kahanane nrenyuhake. Kulite disuwek-suwek lan daginge dithotholi. Ing kahanan antarane urip lan mati kodhok mbengok marang bekicot. Ya iki sing dakkarepake yen kowe aja nggresula terus marang Gusti Allah. Bekicot rumangsa getun. Sasuwene iki ora tau muji sukur marang Gusti, malah suwalike, dheweke kerep nggresula amarga rumangsa ora duwe guna urip ing donya iki.

(Bekicot tenang hatinya karena tidak menjadi mangsa Burung Elang. Namun, ia kaget ketika mengetahui burung itu memangsa katak yang setiap hari ia temui. Sangat menyedihkan. Kulitnya dirobek-robek dan dagingnya dipatuki. Antara hidup dan mati katak meneriakkan sesuatu pada bekicot. Ya ini yang kumaksud supaya kamu tidak merutuki nasibmu terus-menerus kepada Tuhan. Bekicot menyesal. Selama ini tidak pernah bersyukur kepada Tuhan, sebaliknya ia sering merutuki nasib karena merasa tidak berguna hidup di dunia ini).

Empat cerita dalam buku dongeng Si Jlitheng menjadi demikian berkesan bagi pembaca karena keberadaan ilustrasi yang representatif. Ilustrasi karya Na'im tidak hanya berperan sebagai penggenap cerita, tetapi lebih kepada pendamping yang memiliki peran sejajar. Karya ilustrasi yang memikat sangat menentukan nasib imajinasi pembaca dongeng. Terlebih, bagi kanak-kanak yang belum bisa membaca. Ilustrasi menemani kanak-kanak berpelesir imajinasi sampai ke ruang-ruang yang jauh. Sebab, kanak-kanak terlebih dahulu lahir untuk mengeja rupa sebelum kata.

Rizka Nur Laily Muallifa reporter media daring dan sukarelawan Podcast Jangan Nyasar

(mmu/mmu)