Kolom

Membenahi Rumah untuk Masa Normal Baru Anak

Harnita Rahman - detikNews
Rabu, 19 Agu 2020 15:30 WIB
Poster
Ilustrasi: Edi Wahyono
Jakarta -

Terhitung sejak akhir Februari kemarin, rumah akhirnya menjadi sebenar-benarnya tempat kembali. Pandemi yang menghantam dunia tanpa salam pembuka pada awal tahun 2020 mengharuskan setiap kita untuk melangkah pulang ke rumah. Namanya musibah, kita tentu tidak pernah betul-betul siap menghadapinya. Siapa sangka, deru laju keseharian yang kita sebut rutinitas tiba-tiba dipaksa mengambil masa rehat.

Setelah pemerintah memutuskan untuk "hidup berdampingan" bersama corona, skema kenormalan baru mulai mendengung, lalu kehidupan pelan-pelan bangkit berjalan kembali. Tapi, tidak lagi sama. Beberapa kantor mulai menerapkan sistem kerja baru; protokol kesehatan menjadi panduan utama. Ketakutan dan kepanikan akan virus ini mulai menurun dibanding saat kali pertama ia menyerang, padahal kurva penyebaran dan jangkitan virus ini terus meninggi di hampir seluruh kabupaten/kota di Indonesia.

Walau begitu, anjuran untuk tetap di rumah jika tidak mendesak masih dianggap sebagai upaya yang bijak guna mengontrol penyebaran virus ini. Karenanya, keputusan Menteri Nadien Makarim untuk melanjutkan proses belajar daring hingga akhir tahun dianggap sebagai keputusan yang tepat. Rasanya memang agak sulit jika harus membuka sekolah, walau dengan protokol kesehatan yang ketat; terlalu berisiko.

Tapi, tidak bisa dipungkiri proses belajar dari rumah walau sudah berjalan hampir enam bulan, hingga kini belum menemukan metode dan formasi yang tepat. Bukan hanya kendala infrastruktur, metode belajar dalam sistem pendidikan kita tidak beradaptasi dengan sistem virtual yang efisien dan efektif. Masih banyak sekolah yang menggunakan standardisasi penilaian seperti saat proses belajar di masa normal.

Beberapa juga memutuskan waktu belajarnya mengikuti waktu sekolah dari jam 8 sampai jam 12; bayangkan betapa beratnya bagi orangtua yang tidak bisa berlangganan fasilitas akses internet di rumahnya. Hal-hal kecil seperti harus tetap memakai seragam, buku tulis harus dibungkus berdasarkan warna tertentu, tugas yang menumpuk, banyaknya aplikasi yang mesti dipakai adalah beberapa hal yang cukup merepotkan namun tidak substantif untuk mendorong anak-anak antusias dengan proses belajarnya yang baru.

Orangtua mengeluh, pun anak-anak mereka. Membawa pekerjaan ke rumah, mengembalikan anak-anak ke rumah ternyata tidak serta merta diterima sebagai quality time untuk membangun ikatan antara suami, istri, anak, orangtua, begitu pun sebaliknya. Pandemi ini secara gamblang memaksa kita mengevaluasi "rumah" yang dibangun atas nama cinta dan harapan, betulkah ia surga atau justru neraka bagi setiap manusia di dalamnya --khususnya untuk anak-anak kita?

Rumah yang sedang kita bicarakan pastinya bukan hanya ruang, tempat beristirahat, tempat bertemu, atau tempat pulang. Kita sedang membicarakan ruang sosial yang paling kecil dalam kelompok masyarakat kita, yang dibangun dua manusia melalui ikatan pernikahan, beranak-pinak lalu membentuk keluarga. Ruang yang seharusnya disadari sebagai ruang transformatif dan menjadi peletak batu utama pembangunan karakter manusia.

Sejak dulu, dalam sejarah masyarakat kita yang patriarki, pernikahan adalah kebutuhan biologis dan reproduksi semata. Kebanyakan laki-laki dan perempuan yang membangun keluarga tidak dibarengi dengan kesadaran bahwa mereka akan menjadi bagian dalam pembangunan manusia, lalu masyarakat. Keluarga yang merupakan kelompok primer dalam masyarakat justru dimarginalkan dalam proses pembangunan.

Isu keluarga digiring menjadi urusan individu yang tidak boleh diintervensi orang lain. Kesepakatan ini bisa jadi adalah penyebab utama, keluarga yang harusnya menjadi tempat teraman justru adalah tempat tumbuh suburnya kekerasan, tindakan asusila, pelecehan, dan pembunuhan. Menurut laporan tahunan Komnas Perempuan 2019, angka kekerasan domestik yang terjadi di dalam rumah oleh keluarga bertambah sampai 14% dari 2018 dan terus mengalami peningkatan sejak pandemi terjadi. Korbannya lebih dari 85% adalah perempuan dan anak perempuan.

Menyediakan Ruang Bertumbuh

Sejak Covid-19 menyerang kehidupan kita, sedikit sekali perhatian yang ditujukan untuk perkembangan anak-anak. Mengembalikan mereka ke rumah kemungkinan besar bisa mengamankan mereka dari sebaran virus, tapi belum tentu masalah lainnya. Efek psikologi dan sosial menanti mereka di depan jika tidak dibenahi secara menyeluruh hari ini.

Hampir enam bulan anak-anak kehilangan ruang bermain dan tidak bertemu teman-teman mereka. Belum lagi intensitas bersama gadget meningkat lebih dari 100% karena hampir seluruh aktivitas sekolah dipusatkan di sana. Mereka sejak kecil dipaksa menerima keadaan di mana orang-orang dewasa di sekitar mereka juga sama tertekannya. Betulkah keluarga bisa memenuhi hak anak di rumah?

Karenanya, membenahi rumah adalah pekerjaan utama yang mestinya dibicarakan, lalu dirancang sebaik mungkin oleh semua orang hari ini. Demi anak-anak, demi agar mereka punya memori bagaimana orang-orang dewasa di sekeliling mereka menyikapi badai. Setidaknya menyiapkan ruang tumbuh yang nyaman bagi mereka di tengah pandemi. Mungkin dimulai dengan sederhana, bekerja sama, suami dan istri.

Rumah adalah ruang bersama, bertumbuh bagi anak, berbenah bagi orangtua. Anak-anak akan berbahagia dengan menyaksikan bagaimana orangtuanya bekerja bergandengan tangan bersama bertahan melewati badai.

Karena berbenah membutuhkan waktu yang tidak sebentar, sebaiknya masing-masing kita memberikan ruang pada setiap orang untuk menikmati jeda. Rumah tidak perlu harus selalu bersih, cucian tak apa menumpuk sekali dua kali, anak-anak tidak mandi atau bangun tepat waktu tak perlu diambil hati, menikmati makanan instan demi memenuhi nafsu kerongkongan tak apa sesekali.

Orangtua harus coba memberi luang waktu untuk berbicara pada anak, menemaninya bermain, menemaninya menonton, menemani mereka melakukan hal yang mereka inginkan di rumah. Berolahraga bersama, memasak bersama, membersihkan rumah bersama, melibatkan mereka dalam aktivitas keluarga --tanpa tuntutan, tanpa penghakiman.

Upaya berbenah seperti ini menurut saya jauh lebih penting daripada membahas panjang lebar bagaimana sebaiknya anak-anak belajar dan dipaksa mengejar ketertinggalan pelajaran mereka. Yang kita butuhkan adalah memastikan mereka siap menghadapi masa depan yang mungkin akan jauh lebih berat daripada hari ini. Jika mereka sadar bahwa keluarga selalu bersama mereka, bahwa ada rumah tempat mereka kembali, maka tidak perlu lagi mengkhawatirkan hal lain.

Ini serupa kunci yang bisa membuat anak-anak menemukan metode belajarnya sendiri, yakni dengan menyediakan ruang bahagia untuk mereka bertumbuh. Dan, rumah harus memegang kendali kembali akan perkembangan pendidikan mereka. Sekali lagi, dengan mengutamakan bagaimana mereka tumbuh dengan bahagia.

(mmu/mmu)