Kolom

Mengapa Kita Indonesia?

Wahyu Sudrajat - detikNews
Selasa, 18 Agu 2020 11:53 WIB
Pembentangan bendera Merah Putih terpanjang dikibarkan dengan bangga dari para warga di sejumlah tempat di Indonesia. Penasaran?
Foto: Antara
Jakarta -

Pernahkah kita bertanya, mengapa kita menjadi sebuah bangsa yang kita sebut sebagai Indonesia? Banyak sekali perbedaan di antara kita yang dapat menjadi alasan untuk berdiri sendiri-sendiri sebagai entitas bangsa yang berbeda. Berbeda pulau atau wilayah, berbeda suku bahkan etnis yang biasanya berbeda pula bahasanya dan berbeda agama adalah alasan yang banyak yang digunakan untuk banyak negara untuk berdiri sendiri-sendiri.

Berbeda agama mayoritas telah membuat Pakistan memisahkan diri dengan India. Berbeda wilayah karena terhalang wilayah India telah membuat Bangladesh memutuskan berpisah dengan Pakistan. Berbeda suku dan etnis telah memecah Yugoslavia menjadi beberapa negara yang kita kenal sekarang sebagai negara Serbia, Bosnia, Krosia, dan beberapa negara lainnya. Atas alasan agama dan etnis pula negara Israel terus berkonflik wilayah dengan Palestina yang masih berjuang untuk benar-benar diakui kedaulatannya.

Kita pernah mendengar sejarah kejayaan kerajaan Majapahit. Namun ternyata semenanjung Malaya, Singapura yang dulu disebut Tumasik dan ada sebagian wilayah Filipina yang dulu pernah masuk menjadi wilayah Majapahit, ternyata sekarang tidak menjadi bagian dari wilayah Indonesia. Kita pernah mendengar hebatnya Sriwijaya di masa lalu, tetapi cakupan wilayah Indonesia sekarang jauh lebih luas dari wilayah Sriwijaya.Oleh karena itu, sejarah Majapahit dan Sriwijaya belum dapat kita jadikan alasan bagi kita bersatu sebagai sebuah bangsa.

Istilah Indonesia pun ternyata pada mulanya muncul dari cetusan seorang Eropa bernama James Richardson Logan yang pada tahun 1850 menuliskannya dalam Journal of Indian Archipelago and Eastern Asia untuk merujuk kepada suatu kepulauan di wilayah Asia Tenggara yang saat itu dijajah oleh Belanda sehingga disebut Hindia Belanda.

Embrio Indonesia sesungguhnya mulai nyata ketika para pemuda yang mewakili Jong Java, Jong Ambon, Jong Celebes, Jong Batak, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond, Sekar Rukun, PPPI, dan lain-lain dari seantero Nusantara, termasuk beberapa pemuda Tionghoa diantaranya Kwee Thiam Hong, Oey Kay Siang, John Liauw Tjoan Hok, dan Tjio Djin Kwie mengkonkretkan tekad mereka dalam sumpah pemuda pada Kongres Pemuda ke-2 di Batavia pada 28 Oktober 1928.

Salah satu ikrar dalam sumpah itu menyatakan, "Kami poetra dan poetri Indonesia mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia." Artinya, sebelum bangsa Eropa terutama Belanda datang, Indonesia mengidentifikasi dirinya bukan sebagai sebuah entitas tunggal. Beragam kerajaan, kesultanan, suku dan etnis yang didominasi ras Melayu Polinesia dengan berbagai bahasa, agama dan kepercayaan yang dianutnya hidup dengan identitasnya masing-masing.

Faktor Pemersatu

Dari kenyataan di masa lalu itu, alasan utama kita menjadi sebuah bangsa bukan karena kita memiliki etnis yang sama, bukan karena bahasa yang sama apalagi karena agama yang sama. Alasan utama kita menjadi bangsa Indonesia adalah karena leluhur kita hidup di suatu bentangan wilayah yang saat ini kita sebut tanah air Indonesia dan di atasnya pernah mengalami masa penjajahan dari Bangsa Belanda. Ini merupakan kenyataan masa lalu yang pahit tetapi harus kita akui dengan lapang dada.

Justru kepahitan hidup di masa lalu dalam kungkungan penjajah yang sama di suatu bentangan wilayah yang dulu dikenal dengan sebutan Hinda Belanda itu yang membentuk rasa senasib sependeritaan. Oleh karena itu, apapun etnisnya, apapun bahasanya dan apapun agamanya sepanjang kita bersepakat kita berhak hidup merdeka di wilayah itu dengan tujuan luhur yang sama guna melindungi segenap warga bangsanya dan seluruh tumpah darahnya serta untuk memajukan kesejahteraannya, mencerdaskan kehidupannya serta ikut menjadi bagian dari penjaga ketertiban dunia, maka itulah alasan suci kita untuk menjadi satu bangsa yaitu bangsa Indonesia.

Tanpa penjajahan Belanda, maka etnis Melayu tidak memiliki alasan menjadi satu bangsa dengan etnis dari Papua dan lebih kuat alasannya untuk menjadi satu bangsa dengan sesama etnis melayu yang hidup di semenanjung Malaya yang kini menjadi negara Malaysia.

Demikian juga orang-orang keturunan Arab di Hindia Belanda tidak memiliki faktor penyatu untuk menjadi sebuah bangsa dengan etnis jawa. Rasa senasib sependeritaan hidup itulah yang menginspirasi A.R. Baswedan, seorang pemuda keturunan Arab untuk memprakarsai sumpah pemuda keturunan Arab pada 4 Oktober 1934 di Semarang sebagai bentuk peleburan keturunan Arab menjadi satu bangsa dengan ragam etnis dan golongan yang lain di Hindia Belanda.

Karena itu pula etnis Papua di Papua Nugini dengan etnis Papua di Papua Barat tidak menjadi satu bangsa, meskipun mereka memiliki tautan etnis yang kuat. Sebab berbeda faktor penjajah pula, meskipun wilayah Enklave Oecusse-Ambenoberada dikelilingi oleh wilayah Provinsi Nusa Tenggara Timur dan dan terpisah jauh di barat daya dari sebagian besar wilayah Timor Leste yang secara geografis berada di wilayah timur Pulau Timor, tetapi Enklave Oecusse-Ambenotetap menjadi bagian dari Timor Leste. Hanya ada satu alasan yang membuat itu terjadi yaitu dahulu Enklave Oecusse-Ambeno adalah jajahan Portugis, bukan bagian Hindia Belanda.

Atas pemahaman yang demikian, ketika bangsa Indonesia berhasil mendirikan sebuah negara pada 17 Agustus 1945, maka UUD 1945 sebagai dasar dibentuknya negara, hal itu adalah wujud kesepakatan suci senasib sependeritaan dari orang-orang yang pernah hidup dalam kungkungan penjajah Belanda di Hindia Belanda, meskipun di antara mereka memiliki perbedaan etnis, bahasa bahkan agama.

Karena itulah ketika Benny Wenda pada waktu wawancara dengan al Jazeera di program The Stream pada 6 September 2019 menyatakan orang-orang Papua Barat bukan bagian dari Indonesia karena ras orang Papua berbeda dengan kebanyakan orang Indonesia lainnya, maka argumen demikian hanyalah argumen tanpa akar. Papua Barat mutlak bagian dari Indonesia karena Papua dahulu sebagaimana wilayah Indonesia lainnya adalah wilayah Hindia Belanda.

Oleh sebab itu pula, meskipun peran umat beragama dalam perjuangan kemerdekaan bangsa ini sangat besar dan menentukan, tetapi ketika ada sebagian anak bangsa yang berpandangan di Indonesia secara formal harus ditegakkan pemerintahan atas dasar agama tertentu yang menjadi mayoritas penduduknya, maka itu adalah langkah awal dari suatu wanprestasi konstitusional.

Negara ini tidak diperjuangkan hanya oleh satu kelompok umat agama saja dan tidak pula diperjuangkan oleh satu etnis saja. Keadaan senasib sependeritaan yang pernah dialami para pendiri bangsa dan para leluhur kita adalah tonggak penentu dimulainya perjuangan seluruh manusia di wilayah jajahan Belanda di Asia Tenggara itu untuk mengidentifikasi dirinya sebagai sebuah bangsa.

Harus Dipelihara

Dengan memahami alasan mengapa kita menjadi sebuah bangsa sebagaimana telah diuraikan di atas, perasaan senasib dan sependeritaan yang dulu pernah dialami leluhur dan para pendiri negara harus senantiasa kita pelihara guna menumbuhkan rasa saling peduli dan toleransi.

Rasa saling peduli dapat melahirkan solidaritas dan kesetiakawanan dalam berbangsa. Sebuah modal penting agar semua elemen bangsa bisa saling bahu membahu menghadapi setiap tantangan dan halangan kemajuan bangsa. Sementara, rasa toleransi dapat menjadi rem bagi kita untuk tidak memaksakan suatu kehendak yang lahir dari kepentingan sepihak semata dengan landasan kesadaran bahwa kita bersama bukan latar belakang kita yang selalu sama, tetapi karena kita punya komitmen yang sama untuk hidup bersama dalam sebuah negara sebagai satu bangsa.

Dalam perayaan hari kemerdekaan kita yang ke-75 ini di mana kita Bangsa Indonesia harus merayakannya dengan penuh pembatasan akibat pandemi global Covid-19 yang hampir melanda seluruh penjuru dunia, rasa saling peduli dan toleransi itu perlu kita gugah kembali agar bangsa kita mampu melewati ujian pandemi.

Seyogianya perayaan kemerdekaan kali ini kita gunakan untuk menguatkan soliditas di antara sesama warga bangsa.Kita harus menggugah kembali kesadaran senasib sependeritaan yang dahulu telah menjadi sebab kelahiran bangsa kita. Kesadaran yang dulu pernah menjadi alasan kita bersatu, harus kita bangkitkan kembali sebagai sebuah amanat penderitaan dari para leluhur kita dan dari para pendiri bangsa.

Nasionalisme sejati kita sebagai Bangsa Indonesia saat ini adalah ketika kita peduli dan saling menguatkan terhadap setiap elemen bangsa agar kita mampu melewati salah satu fase sulit dalam kehidupan bangsa yang sekarang sedang kita hadapi....

Wahyu Sudrajat Hakim Yustisial Mahkamah Agung, pengajar pada FH UII, Yogyakarta

(mmu/mmu)