Kolom

Trisula Pemulihan Ekonomi

Jusman Dalle - detikNews
Rabu, 12 Agu 2020 11:13 WIB
Penerbangan Jakarta-Bali New Normal
Pembukaan kembali penerbangan Jakarta-Bali (Foto: Ahmad Masaul Khoiri)
Jakarta -

Konsumsi, kelas menengah, dan ekonomi berbasis kota menjadi tumpuan ekonomi Indonesia. Kita menyebutnya trisula ekonomi. Tiga ujung mata tombak yang diandalkan di tengah upaya pemulihan. Saban tahun sektor konsumsi selalu tampil memukau.

Pada Kuartal I - 2020 bahkan jadi penyelamat ekonomi negeri. Ketika gelombang pasang pandemi mulai melanda, saat pertumbuhan ekonomi Triwulan I - 2020 terkulai jauh di bawah ekspektasi, sektor konsumsi rumah tangga tampil menopang, menyumbang 1,56% dari angka 2,97% yang dicapai.

Menurut tradisi, pertumbuhan ekonomi Kuartal II dirilis awal Agustus. Sektor konsumsi kembali diprediksi tampil unjuk gigi jadi tumpuan ekonomi --meski diramal tak seandal Kuartal I, lantaran tiga bulan terakhir sektor konsumsi diadang masa-masa berat.

Pemerintah sudah berikhtiar memacu kembali mesin konsumsi. Sejak dua bulan lalu, melalui penerapan masa transisi pembatasan sosial berskala besar (PSBB), kebijakan pelonggaran itu diikuti oleh pembukaan pusat perbelanjaan dan aktivitas perkantoran.

Kita tidak sedang berbicara bagaimana dampak kebijakan transisi itu justru memicu tingginya gelombang Covid-19, mengakibatkan spektrum penyebaran tambah luas dan memunculkan kluster-kluster perkantoran yang kian meresahkan.

Secara kasat mata, tampaknya frasa transisi new normal sukses menggiring masyarakat beraktivitas ke luar rumah. Kafe-kafe kembali ramai. Banyak orang nongkrong, melepas rindu setelah empat bulan terkurung di rumah.

Piring dan gelas di restoran dan mal kembali beradu. Makan malam bersama di luar rumah sudah lama didamba. Wisatawan bahkan kembali bergeliat. Masyarakat beranjak membanjiri destinasi anjangsana.

Pengalaman Sabtu (1/8) malam melintas di Puncak, Bogor parkiran restoran-restoran sepanjang Jalan Raya Puncak tumpah ruah --mobil parkir memakan jalan. Bahkan mengakibatkan macet panjang dari Cipanas sampai Cisarua hingga tengah malam.

Fenomena tersebut tidak cuma terjadi di satu atau dua tempat, tapi di berbagai daerah. Jika aktivitas konsumtif itu disebut sebagai paramater upaya pemulihan ekonomi, secara kasat mata dan simplistis bisa disimpulkan membawa kabar gembira.

Bila dilacak, kita akan menemukan fakta bahwa motor penggerak sektor konsumsi yang meramaikan mal dan destinasi-destinasi wisata adalah kelas menengah. Populasinya 167 juta jiwa atau 65% dari total penduduk Indonesia. Menurut data paling anyar yang dirilis oleh Bank Dunia, kelas menengah ini kategorinya ada dua, yaitu kelas menengah atas yang jumlahnya 52 juta, dan kelas menengah harapan 115 juta jiwa.

Kelas menengah umumnya tinggal di kota, tempat kebutuhan gaya hidup dapat dipenuhi dengan mudah, mulai dari urusan pekerjaan hingga hiburan. Proyeksi Worldmeters 2020 ada 152,4 juta jiwa atau 56,4% penduduk Indonesia yang merupakan warga kota. Mereka sebagian besar kelas menengah.

Konsentrasi penduduk dan kelas menengah itu yang mengubah kota menjelma menjadi pembuluh darah ekonomi. Ketika ekonomi kota terinfeksi corona, amat dalam dampaknya. Lihatlah, bagaimana episentrum corona yang terjadi di Jabodetabek dan beberapa kota utama di Pulau Jawa berimplikasi signifikan terhadap ekonomi nasional.

Rapuh. Tidak solid. Itulah masalah bawaan ketika terjadi pemusatan ekonomi secara spasial, namun telanjur menjadi potret peta ekonomi Indonesia. Pemusatan ekonomi di kota juga merupakan masalah global. Banyak faktor pemicunya, termasuk urbanisasi, perpindahan penduduk secara masif ke kota-kota.

Untuk jangka panjang, tantangannya adalah pemerataan. Dientaskan dengan pembangunan infrastruktur fisik yang bertumpu pada investasi. Juga berselancar di atas gemuruh ekonomi digital yang menawarkan alternatif pemerataan dan pembukaan potensi-potensi ekonomi baru di luar wilayah kota. Dua hal ini sedang ditempuh Indonesia.

Saat ini, upaya paling efektif menghela ekonomi nasional yang terkulai adalah memulihkan ekonomi kota, pusat konsentrasi motor ekonomi. Di kota, kelas menengah dengan kekuatan konsumsinya didaulat maju ke muka.

Sejak Indonesia menjadi negara berpendapatan menengah menurut kategori yang dibuat Bank Dunia, kelas menengah berperan signifikan dalam peta leisure economy. Yaitu, pergeseran pola konsumsi masyarakat dari konsumsi berbasis barang ke konsumsi berbasis pengalaman. (Linda Nazareth, 2007).

Leisure economy ditandai dengan menanjaknya popularitas industri yang menopang gaya hidup. Bagi masyarakat perkotaan, pusat belanja dan destinasi wisata menjelma jadi ruang aktualisasi gaya hidup. Kawasan wisata yang mudah dijangkau dari kota jadi pilihan favorit, seperti Puncak Bogor atau Bandung.

Setelah terinfeksi Covid-19, primadona leisure economy memudar, tidak lagi sememukau sebelum pandemi. Leisure economy bahkan diprediksi berada dij ajaran tren yang mati karena terinfeksi corona, karena kebiasaan yang bergeser atau tereduksi aturan physical distancing.

Kini, di tengah upaya pemulihan ekonomi, kita disergap rasa cemas. Pandemi belum melandai. Spektrumnya bahkan meluas. Kasus positif melampaui angka psikologis 100.000. Jika dirata-rata sebulan terakhir, setiap menit lebih dari satu nyawa melayang karena Covid-19.

Covid-19 serasa menghantui. Di stasiun KRL, di terminal, di halte busway, atau di bandara ia mengintai, siap menerkam. Kita bak menggantung di antara was-was dan upaya untuk optimistis. Berpacu menghindar dari bayang-bayang resesi yang rasanya sudah semakin dekat.

Trisula ekonomi jadi pegangan. Membawa bangsa ini selamat meniti pemulihan. Melindungi dari resesi yang mengancam. Tanpa harus terus menerus menimbun pusara duka korban yang berjatuhan.

Jusman Dalle Direktur Eksekutif Tali Foundation dan Praktisi Ekonomi Digital

(mmu/mmu)