Kolom

Filsafat Menghadapi Pandemi

Ahmad Sahidah - detikNews
Jumat, 07 Agu 2020 12:03 WIB
Filsuf memikirkan bencana
Jakarta -

Opini dalam surat kabar dan portal berita memuat banyak pendapat tentang bagaimana menghadapi wabah virus korona. Dari pemerhatian, ada pelbagai perspektif yang digunakan untuk memahami dan menangani pandemi seperti teologi, kedokteran, psikologi, dan ilmu sosial. Jelas, pandangan kaum sarjana membantu khalayak untuk mengerti asal muasal mikroba, bagaimana mencegah penularannya, dan bertahan dalam keadaan terkekang.

Secara medis misalnya, pesan dan kiat untuk mencegah virus didengungkan di pelbagai media, dan pihak-pihak terkait turun ke lapangan untuk memastikan arahan Presiden agar pembatasan jarak fisik berskala besar berjalan efektif. Secara moral, cendekiawan berlatar ilmu sosial menyoal kesadaran warga supaya menahan diri untuk tidak berkegiatan di ruang publik.

Pendek kata, pelbagai disiplin telah dimanfaatkan untuk menghadirkan kajian ilmiah agar bencana virus ini dilihat dan dipertimbangkan secara rasional. Apalagi, rumor bahwa penyebaran Covid-19 adalah konspirasi. Tak pelak, ada sebagian orang yang secara terang-terang menolak bahaya yang ditimbulkan oleh pandemi ini bila tidak dikontrol. Jerinx, musisi, adalah salah satu pesohor yang dikenal menyangkal dengan ketus virus tersebut.

Semangat Jeda

Setelah ratusan tahun pasca revolusi industri pertama manusia memanfaatkan mesin uap, eksploitasi terhadap alam mulai dilakukan secara besar-besaran. Pembukaan lahan untuk perkebunan memaksa pekerja untuk menggunduli hutan, yang menyebabkan habitat binatang dan ekosistem terganggu. Kini, kita menyaksikan betapa mesin-mesin raksasa juga menggali bumi untuk mengaut sumber daya alam demi kerakusan manusia untuk menumpuk modal.

Selain itu, mereka memenuhi kebutuhan (yang sengaja dibuat) untuk keperluan pencitraan. Sepatutnya, setelah sekian lama alam dieksploitasi, manusia telah menyimpan banyak kekayaan bersama. Malangnya, sistem kapitalisme dan neoliberalisme memberikan jalan pada segelintir untuk meraup kentungan dan menyimpan pundi-pundi untuk kepemilikan pribadi.

Tiba-tiba, virus korona mengentak kesadaran publik, menyerang manusia secara eksponensial. Penutupan (lockdown) terbatas telah menghalang manusia untuk bekerja secara bebas. Tanpa melihat latar belakang agama, bangsa, dan profesi, Covid-19 bisa menyerang siapa saja. Dari seorang buruh migran di Singapura hingga Pangeran Charles Inggris turut merasakan keganasan virus tersebut.

Kenyataan ini meneguhkan kepercayaan bahwa pada hakikatnya manusia itu sama dan memanggul kedudukan yang berbeda karena rekonstruksi sosial dan warisan, bukan bawaan genetik. Di sini, filsafat humanisme mendapat tempat bahwa hakikatnya manusia itu setara dan bebas tanpa terbelenggu oleh kasta atau strata sosial.

Refleksi Filosofis

Atas dasar kesetaraan ini, seeloknya manusia memiliki akses yang sama terhadap alam, berupa pemanfaatan dan rasa nyaman. Apa lacur, kini penguasaan lahan hutan, tambang, dan pantai hanya dikuasai oleh sedikit pemodal. Akibatnya, pembakaran lahan menyebabkan balita terpapar pada penyakit ISPA (infeksi saluran pernapasan akut), penambangan merusak lingkungan, dan industri semen mengganggu keseimbangan lingkungan karena serapan air terhambat.

Malangnya, teknologi yang dihasilkan oleh sains menjadi kutukan. Alih-alih memudahkan pergerakan, justru kemacetan dan polusi mesti ditanggung oleh penghuni ibu kota. Tidak hanya menimbulkan stres, kemacetan juga memubazirkan bahan bakar minyak yang luar biasa. Tak ayal, penaklukan alam oleh kaum modern dikritik oleh pengusung teori kritis karena dianggap sebagai dominasi akal budi instrumental, yang didorong oleh kepentingan jangka pendek.

Tragedi korona hadir sebagai kekuatan kosmos untuk menghentikan hasrat manusia. Ia telah mengilhami Rhoma Irama untuk menggubah lagu dengan judul nama virus ini, yang sejalan dengan keyakinan orang ramai bahwa kita perlu berdoa, yang dilakukan di rumah, dan berikhtiar dengan melawannya sesuai anjuran pihak berwenang. Tidak ada jalan lain selain apa yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Di sini, individu dan kelompok dipaksa untuk kembali ke rumah.

Sebagai kediaman, tempat tinggal adalah ruang untuk berdiam, menikmati kesendirian masing-masing setelah sekian lama larut dalam kerumunan dan berusaha menyemai hubungan kekeluargaan secara otentik. Untungnya, mereka tidak sama sekali terisolasi, karena akses teknologi informasi masih memungkinkan untuk berkomunikasi dan berbagi cerita. Hanya saja, percakapan di media sosial masih disandera oleh pertikaian politik elektoral, sehingga usaha memahami dan menangani bencana ini dalam kerangka konflik kelompok.

Padahal, inilah waktunya untuk menghadirkan diskusi yang jauh lebih substansial dan berfaedah untuk menghadapi krisis dan menyongsong pascakrisis. Ternyata, angka kematian yang disebabkan oleh virus masih lebih rendah dibandingkan dengan kecelakaan lalulintas, korban obat terlarang, dan penderita kanker. Dengan kemajuan teknologi medis dan kemampuan manajemen, sebaran virus Korona bisa ditangani, tetapi ancaman terhadap kesejahteraan manusia datang dari banyak penjuru.

Mengingat perjalanan manusia sapiens telah berlangsung ribuan tahun, sejatinya mereka bisa menimbangkan hierarki kehidupan yang mesti menjadi kesadaran seperti diandaikan oleh Søren Kierkegaard. Betapa kehidupan hedonis dalam fase estetis tidak bisa mengantarkan manusia pada ketenteraman. Sampai sejauh mana alam akan diolah untuk memuaskan nafsu manusia?

Tidak pelak, Horkheimer mengkritik manusia modern karena kepongahannya menundukkan alam adalah semu. Kenyataannya, justru alam berbalik meluapkan amarahnya akibat penggundulan, pengurasan energi fosil, dan efek rumah kaca. Betapapun kita hendak beranjak dari pesta foya-foya ini dengan berbuat baik sebagai wujud dari fase etis, namun kebaikan tak mampu menolak kenyataan bahwa korban berjatuhan, yang juga menimpa orang-orang lemah dan tak berdosa.

Betapapun alam sedikit pulih akibat kegiatan industri dan manusia berhenti sejenak, kehidupan tetap tampak "absurd" atau celaru. Untuk itu, lompatan iman sebagai fase religius adalah pilihan. Namun, kepercayaan ini lahir dari pencarian otentik, yang tidak dikerangkeng oleh agama institusional. Inilah benteng terakhir di mana pesan Tuhan yang bersifat normatif dan pencairan diri manusia bertemu.

(mmu/mmu)