Kolom

Menakar Perseteruan India-China

Abhiram Singh Yadav - detikNews
Kamis, 06 Agu 2020 15:00 WIB
Konflik China-India di Lembah Galwan: China menuduh tentara India melakukan provokasi yang disengaja sehingga memicu konflik fisik yang sengit
Foto: BBC World
Jakarta -

Dalam beberapa pekan terakhir, dunia dikejutkan dengan meningkatnya ketegangan antara dua adidaya kawasan Asia, yaitu China dan India. Kedua negara tersebut mengalami perseteruan di garis perbatasan dengan multiple-front dimulai dari Danau Pangong Lake hingga perbatasan tertinggi di dunia, Himalaya.

Walaupun konflik perbatasan kedua negara tersebut adalah hal yang klasik, tetapi munculnya konflik ini terjadi saat Perdana Menteri India Narendra Modi dan Presiden China Xi Jinping sedang "sering mesra" dalam diplomasi kedua negara, menjadi warna tersendiri jika dikaitkan dengan kondisi geopolitik saat ini. Sebab di Kawasan Laut China Selatan, China juga tengah bersitegang dengan Amerika Serikat, dan juga sejumlah negara ASEAN.

India, yang memiliki hubungan istimewa dengan Amerika Serikat saat ini, memiliki kemampuan menjadi negara yang strategis yang dianggap mampu merangkul hampir semua negara-negara di Asia Timur, Asia Tenggara, Asia Selatan, dan Asia Barat hingga timur benua Afrika dalam membangun konstruksi intersubjektif Indo-Pasifik yang inklusif --konsep yang sesungguhnya juga diwacanakan untuk mengakomodasi China melalui kriteria-kriteria Cooperative Security.

Tetapi kenyataannya justru China tergambar sebagai antagonis dalam narasi yang berkembang. Pada akhirnya, hal ini tak terlepas oleh identitas China yang terbangun melalui proses perjalanan sejarah yang panjang.

Identitas dan Kepentingan

Dalam perjalanan waktu yang berkembang, India dan China memiliki dua identitas yang berbeda; India dengan fondasi demokrasi yang kuat, China dengan yang kerap diistilahkan sebagai Chinese Nationalism yang dilatarbelakangi oleh nilai-nilai komunisme. Yang menarik, kedua negara ini adalah tetangga yang kerap berseteru, dan juga bekerja sama secara intens khususnya dalam konteks ekonomi dan perdagangan.

Dilatarbelakangi oleh identitas berbeda, India dan China tentu menunjukkan kepentingan nasional berbeda juga, walau tujuannya tentu sama yaitu peningkatan ekonomi. Kepentingan geopolitik China mencerminkan bahwa kepentingan nasional yang dicapainya melalui gestur kekuatan yang maksimal (maximum power). Hal ini tercermin melalui program Belt and Road Initiative (BRI) yang sepenuhnya dibiayai oleh China dan penerapannya kerap dianggap sesuai dengan terms and conditions yang diajukan olehnya.

Pola kerja sama internasional China menunjukkan hal yang sederhana, yaitu pragmatis. Keunggulan faktor ekonomi China, yang tentunya telah menjadi proses investasi panjang di masa lalu, menjadi kekuatan geoekonomi China pada abad ke-21 ini.

Bertolak belakang dengan China, identitas India berkembang dari waktu ke waktu hingga kini membentuknya sebagai negara demokrasi terbesar di dunia. Tentu kepentingan nasional India mencerminkan sebagai negara yang mengutamakan asas kerja sama inklusif dalam mencapai tujuan geostrategisnya. Hal ini tercermin dalam kebijakan luar negeri India, yaitu Act East Policy.

Dalam mewujudkan kepentingannya, India memperluas kerangka kerja sama di wilayah Asia-Pasifik dengan menggagas (bersama-sama dengan Jepang, Amerika Serikat, dan Australia) ide Indo-Pasifik di mana ASEAN menjadi titik sentral.

Dalam kerangka itu, geostrategis ASEAN menjadi prioritas kebijakan luar negeri India. Dalam mencapai tujuannya, India mengkonstruksi persamaan persepsi dengan negara-negara ASEAN, tentu dengan mengedepankan kerangka kerja mekanisme dan sentralitas ASEAN sehingga terlahirlah persamaan pemahaman dalam mewujudkan suatu kerja sama regional yang lebih luas dalam tantangan masa kini, yaitu Indo-Pasifik.

Sejak dimunculkannya, istilah geopolitik Indo-Pasifik kemudian menjadi tren baru dalam konstruksi sosial kerja sama internasional. Ditambah lagi, setelah ASEAN mematenkan konsep kerja sama tersebut ke dalam dokumen resmi ASEAN Outlook on the Indo-Pacific.

Sama halnya dengan China, keunggulan India dalam diplomasi internasional merupakan investasi geopolitik, geostrategis dan geoekonomi di masa lalu, yang tak terlepas dari gestur ekonomi dan kemampuan militernya yang kuat serta bersifat damai.

Menguji Ombak

Dalam diskursus perdebatan politik, perseteruan China dengan India kerap dinarasikan sebagai sebuah pertunjukan untuk mengalihkan politik nasionalisme domestik di kedua negara tersebut. Perdebatan ini tidak serta-merta dimentahkan, tetapi dunia perlu menyadari kenyataan persaingan dan potensi konflik yang lebih besar dalam memastikan tatanan geopolitik ke depan.

Menilai perseteruan yang terjadi antara China-India di sejumlah front perbatasan kedua negeri sebenarnya tidak bisa dilepaskan dari kerangka dinamika geopolitik dan geostrategi yang terjadi antara kedua negara di medan Kawasan Indo-Pasifik yang mengular dari Samudera Pasifik hingga ke ujung Samudera Hindia di tanduk Afrika.

Pada konteks itu, India dan China sama-sama menunjukkan kepentingannya di wilayah perairan Samudera Hindia dan Pasifik. China masuk ke kawasan ini melalui tajuk BRI dengan konsep Chinese Nationalism. Sedangkan India, melalui tajuk Indo-Pasifik (juga dikenal dengan istilah Free and Open Indo-Pacific) dengan konsep multilateral yang inklusif.

Sangatlah penting untuk memahami titik awal ini dalam konteks hubungan internasional di abad ke-21 ketika terjadi pergeseran kekuatan dunia dari Barat ke Timur, juga dalam memahami pergeseran potensi konflik utama dunia ke wilayah Asia.

Persoalannya, sikap India yang berusaha mengimbangi China menjadi tantangan tersendiri bagi China. India yang selama ini selalu memiliki hubungan dagang yang baik dengan China, bahkan China merupakan mitra dagang India terbesar kedua setelah Amerika Serikat, menolak untuk bergabung dalam program infrastruktur BRI.

Di sisi lain, India tampaknya berhasil meyakinkan negara-negara ASEAN terhadap konsep inklusif Indo-Pasifik; walau belum menjadi institusi resmi, tapi mulai menemukan jati dirinya dengan persamaan ide dan gagasan. Hal ini bisa saja menjadi ancaman tersendiri bagi kepentingan nasional China.

Dengan kemajuan China sebagai negara super-power, sudah sewajarnya China menganggapnya sebagai "era China" dalam politik global, dan kesempatan ini belum tentu datang untuk kedua kali. Maka persepsi seolah-olah China menguji ombak di lautan Indo-Pasifik menjadi menarik untuk diamati. Sebab pada dasarnya kedua negara ini saling membutuhkan satu sama lain, khususnya dalam konteks perdagangan dan bertetangga secara damai.

Persoalan lainnya, narasi agar proses saling membutuhkan ini bisa berjalan dengan baik diantara mereka adalah berbeda, yang satu "The China way or no way", yang satunya "The Global way, or no way". Di level internasional, kedua narasi tersebut kemudian bertemu dengan narasi adidaya global Amerika --"American first, (or no way)".

Untuk saat ini, dari kacamata politik hubungan internasional, perseteruan China dan India bisa dianggap sebagai sebuah pertunjukan yang akan menentukan nasib kerangka kerja sama Indo-Pasifik ke depan. Tapi dunia masih menanti seberapa jauh Amerika Serikat akan bersikap terhadap salah satu dari dua kekuatan adidaya kawasan Asia tersebut.

Oleh sebab itu, menarik untuk ditunggu, apakah memanasnya konflik perbatasan India-China hanya sebagai latihan militer China, sebagai pemanasan sebelum ketegangan sesungguhnya yang diprediksi terjadi di Laut China Selatan? Lalu, bagaimana sikap negara-negara ASEAN, khususnya Indonesia, yang merupakan inti dari geopolitik kawasan Indo-Pasifik di tengah benturan sejumlah adidaya dunia tersebut?

Abhiram Singh Yadav pengamat politik hubungan internasional, Mantan Vice Chairman Committee for ASEAN Youth Cooperation (CAYC)

(mmu/mmu)