Kolom

Pandemi dan Problem Domestik Bruto

Galih Prasetyo - detikNews
Rabu, 05 Agu 2020 12:32 WIB
Jakarta -

Wabah Covid-19 bukan hanya memukul pertumbuhan ekonomi global yang diprediksi bakal terkonstraksi minus 5,2% tahun ini (Bank Dunia, Juni 2020), namun juga meningkatkan kemiskinan bahkan ketimpangan.

Di Indonesia, menurut Badan Pusat Statistik (BPS) angka kemiskinan menjadi 26,42 juta jiwa atau naik 1,63 juta dari September 2019. Sedangkan, sebagai alat ukur pertumbuhan, Produk Domestik Bruto (PDB) tampaknya lebih tepat disebut "problem domestik bruto".

PDB bukan satu-satunya ukuran keberhasilan pembangunan. Sehingga diperlukan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan yang juga mempertimbangkan kompleksitas sosial.

Problem Pertumbuhan

Tiap negara punya kisah sukses dan gagalnya masing-masing dalam obsesi mendongkrak PDB. Sebagaimana China, tingginya pertumbuhan sebelum pandemi terbukti menyelamatkan warganya dari kubangan kemiskinan.

China menjalankan kebijakan ekspor secara masif dan membatasi ketat impor, juga melarang kehadiran "uang panas" bersifat spekulatif yang sekadar mampir demi keuntungan jangka pendek, tapi hengkang apabila kondisi pasar guncang.

Sementara Indonesia baru saja dinobatkan naik kelas sebagai negara berpenghasilan menengah ke atas dengan Pendapatan Nasional Bruto (PNB) sebesar Rp 4.050 dolar AS pada 2019. Tapi di saat bersamaan ketimpangan melonjak, terkonfirmasi dari posisi rasio gini yang konsisten berada di kisaran 0 – 1 atau persisnya 0,381 per Maret 2020.

Pesatnya pertumbuhan nyatanya tidak berbanding lurus dengan kesejahteraan. Indonesia yang sempat meraih pertumbuhan 5,6% sebelum Covid-19 terkesan tidak berdampak apa-apa. Artinya kue pembangunan tidak menetes ke bawah (trickle down effect). Kenapa demikian?

Buku Gross Domestic Problem: The Politics the World's Most Powerful Number (2013), yang ditulis Lorenzo Fioramonti mencermati PDB mengandung problem bawaan yang sekadar mengejar akumulasi barang dan jasa.

Penemuan PDB memang sangat ajaib sebagai politik angka. Dalam mengukur kinerja ekonomi, apapun harus dapat dikonversi lewat medium pasar jika hendak dihitung sebagai pendapatan negara. PDB merupakan persilangan dari tiap jengkal sirkulasi ekonomi, dari hulu ke hilir, mulai dari produksi, distribusi, dan konsumsi.

Rumusan "keimanan" PDB meliputi pendekatan pengeluaran, pendekatan pendapatan, dan pendekatan nilai tambah (Fioramonti, 2013). Pertama, mengkalkulasi jumlah pengeluaran oleh pemakai barang yang mengacu dari kalkulasi korporasi, pebisnis jasa ataupun aneka ritel.

Kedua, menghitung hasil selama beserta biaya produksi yang mencerminkan harga barang atau jasa. Ketiga, akumulasi nilai tambah dari industri manufaktur atau jasa yang menempatkan ongkos produksi sebagai pengeluaran.

PDB menghitung produksi dalam masa tertentu tanpa melihat produksi itu dipergunakan ke sektor mana --semisal konsumsi atau investasi-- sementara lambat laun nilainya menciut hingga terdepresiasi.

Jika angka penyusutan tidak masuk dalam PDB, maka dinamakan produk domestik 'neto'. Menghitung depresiasi relatif valid ketimbang perhitungan akumulasi yang hanya menampilkan angka-angka kering.

Untuk kasus di Indonesia, sektor informal khususnya UMKM justru menjadi tulang punggung perekonomian ketika krisis 1997/1998 walaupun tidak masuk hitungan statistik. Maka dapat disimpulkan, PDB tidak mencerminkan realitas sesungguhnya.

Barangkali, menebang hutan atau menguras sumber daya alam cepat menaikkan PDB. Tapi mengabaikan ongkos mahal jangka panjang yang harus dibayar kelak, seperti banjir, bencana alam, kerusakan ekologis maupun pemanasan global.

Itu sebabnya dalam kondisi krisis, The Bureau of Economic Analysis AS pada 2013 mengubah haluan PDB dengan memasukkan sisi pengeluaran dalam berbagai hal, bahkan menyasar hingga bidang sastra dan karya seni. Selain muncul dugaan, angka pertumbuhan ditunggangi demi menutupi rasio peningkatan utang (Fioramonti, 2014: 198).

Keganjilan PDB juga tampak terjadi di Amerika Latin pada 1981 – 1993. PDB memang naik 25% namun rata-rata pengeluaran individu per kapita mengalami penurunan tidak lebih dari 2,15 dolar AS. Kategori kelas ini naik jadi 29,5%.

Bahkan di AS dari 1998 – 2004, pendapatan kelas menengah mengalami penurunan 1.500 dolar AS. Sebagai negara yang menjunjung tinggi matra pertumbuhan, padahal pengeluaran rata-rata warga AS naik 11%.

Ikhtiar Bertahan

Menghadapi musim pagebluk yang tak kunjung usai, kita sulit berharap pertumbuhan lekas bangkit. Justru diperlukan inovasi kebijakan segar yang mendorong ke arah transformasi, bukan semata terpaku pada investor dan modal asing. Maka format PDB berkelanjutan sangat dinantikan --kalau perlu ditujukan demi menghadirkan kebahagiaan bagi seluruh rakyat. Sebab pertumbuhan ekonomi belum dikatakan berhasil jika ketimpangan melebar.

Apalagi kekayaan korporasi raksasa kerap melampaui negara. Pada 2004, perusahaan General Motors asal AS tercatat membukukan untung mencapai 191,4 miliar dolar AS atau melebihi PDB gabungan dari 148 negara. Korporasi sejenis ini memiliki daya tawar kuat terhadap pemerintah jika kebijakan suatu negara tidak sesuai selera. Biasanya, mereka "menekan" untuk memindahkan bisnisnya. Tetapi selalu ada negara lain yang menerima dengan tangan terbuka meskipun menerima pajak kecil, janji lapangan kerja dan penanaman modal asing (lihat Stiglitz, 2006).

Untuk itu, sudah saatnya pemerintah merangkul dan mengembangkan sektor informal atau UMKM sebagai representasi ekonomi rakyat. Perintah Presiden Jokowi memberikan relaksasi dan bantuan likuiditas sebesar Rp 123,46 triliun untuk koperasi dan UMKM diharapkan mampu memperkuat perekonomian di tengah pandemi. Sehingga kelak segala kebutuhan dalam negeri dapat diproduksi oleh bangsa sendiri, dan kita tak perlu mendengar lagi adanya impor cangkul, garam ataupun barang remeh temeh lainnya.

Berangkat dari sini, kita bisa mulai berbenah dan tidak melulu mengandalkan investor dan modal asing yang habis-habisan mengeruk sumber daya Tanah Air. Sedangkan rakyat tidak menikmati hasilnya secara sepadan selain berperan sebagai pekerja atau buruh yang upahnya hanya cukup untuk bertahan hidup.

Galih Prasetyo peneliti pada Bening Institute

(mmu/mmu)