Sentilan Iqbal Aji Daryono

Saat Nilai-Nilai Bergeser dan Siap Menerkam Kita

Iqbal Aji Daryono - detikNews
Selasa, 04 Agu 2020 17:45 WIB
Kolomnis - Iqbal Aji Daryono (Ilustrator: Edi Wahyono/detikcom)
Iqbal Aji Daryono (Ilustrasi: Edi Wahyono)
Jakarta -

"Berat sekarang, Bos. Harus hati-hati pakai banget. Teman-teman bahkan ada yang sampai bilang ke panitia, mereka mau tampil asal nggak ada rekaman video sama sekali. Bahkan penonton pun nggak boleh merekam."

Kawan saya, seorang komika alias stand up comedian yang sering jadi MC di berbagai acara, bercerita dengan raut serius. Cerita demikian baru pertama kali saya dengar. Saya tidak menyangka bahwa hidup sudah sedemikian menegangkan.

Jadi, dulu-dulu para MC panggung itu ya ngoceh asal ngoceh. Ngocehnya pun kadang sedikit lepas kontrol, karena mereka dituntut untuk membikin penonton tertawa. Kalau audiens tidak banyak tertawa, seolah acara dianggap gagal. Walhasil, lawakan jenis apa pun mereka lontarkan. Mulai jenis yang agak akademis hingga lawakan jalanan.

Sialnya, yang disebut lawakan jalanan ya seringkali benar-benar ala jalanan. Nggak ada aturan. Nggak ada sopan santun. Nggak ada akhlak-akhlakan. Tapi dulu pada masanya, yang demikian itu ya normal-normal saja, lazim-lazim saja, tidak ada orang yang protes keras apalagi sampai menyeret para MC itu ke penjara.

Namun kemudian zaman berubah. Peranti-peranti pendukung kehidupan berubah. Akses informasi berubah, dan cara berpikir manusia turut berubah. Maka muncullah istilah-istilah baru. Mulai "body shaming", "seksis", "tidak peka gender", hingga yang paling mengerikan di antara segala yang mengerikan yaitu "penistaan".

"Ya begitulah, Masbro. Kami juga sadar kalau lawakan murahan itu salah. Tapi masalahnya, di masa lalu yang begitu itu biasa saja. Jadi kami yang sudah cukup lama main di situ kadang masih kebawa-bawa. Kalau bisa sih maunya selalu mengontrol mulut macam penceramah. Tapi kami ini kan bukan penceramah yang cara bicaranya tenang, tertata, terkendali."

Saya masih menyimak dia sambil sesekali menyeruput kopi yang mulai mendingin. Dia terus melanjutkan,

"Tugas kami memanaskan acara, Bro! Dan di atas panggung, saat suasana sudah semakin seru, kami bisa macam orang trance! Akhirnya daripada kelepasan tanpa sadar, solusinya ya jangan ada rekaman. Bisa-bisa kami mampus kena dua tahun di LP Wirogunan."

***

Saya menatap iba kepada kawan saya itu. Meskipun demikian, seiba apa pun, tentu saja saya setuju dengan perubahan yang terjadi. Kita memang terus bergerak dari waktu ke waktu. Apa yang dulu dianggap biasa, sekarang jadi tidak biasa. Apa yang dulu terlihat baik-baik saja, sekarang tiba-tiba bisa tampak begitu jahatnya. Demikian pula sebaliknya.

Tidak usah soal norma. Soal yang hari ini dihadapi para orangtua di rumah terkait school from home pun menunjukkan itu. Kemarin-kemarin, anak-anak pegang hape berlama-lama itu bentuk kemalasan, kecanduan, serta kurangnya perhatian. Tapi sekarang, pemandangan seperti itu pelan-pelan akan kita anggap sebagai kenormalan. Bahkan bisa-bisa dua tahun lagi, saat korona sudah menyingkir, bukan mustahil kita justru akan resah melihat anak-anak seharian nggak pegang hape. Hahaha.

Ah, tapi mungkin itu contoh yang kurang pas. Hape toh cuma alat, dan aplikasi yang dibuka anak-anak itu bisa berbeda-beda. Kita lihat game dan komik saja.

Dulu di zaman saya, anak yang kebanyakan nge-game dan baca komik itu ya anak nakal dan nggak serius sekolah. Mau game apa pun, mau komik apa pun, sama saja. Guru BP di sekolah saya sering menggelar inspeksi mendadak untuk menyita peralatan game dan buku-buku komik. Tapi sekian dasawarsa berlalu, dan sekarang para gamers dan komikus keren bermunculan meramaikan dunia kreatif kita.

Itu tadi pergeseran dari yang tampak buruk menjadi tampak baik. Kalau dari yang tampak baik (atau minimal: baik-baik saja) menjadi tidak baik bahkan sangat buruk, contoh kasus teman saya yang MC itu jelas bisa disimak seterang-terangnya. Atau kalau masih kurang, ada contoh lain misalnya hukuman fisik kepada anak sendiri. Sesuatu yang dulu diposisikan sebagai bentuk pendidikan kedisiplinan, sekarang diyakini sebagai tindak kekerasan.

Perubahan ini memang berlangsung dengan sangat cepat. Kita tahu, saluran-saluran informasi baru membentuk segala percepatan pergeseran itu. Coba bayangkan persebaran dan pergeseran nilai pada masa ketika orang belum mengenal alat transportasi cepat, alat telekomunikasi canggih, dan media massa.

Saya teringat satu adegan dalam novel Arus Balik-nya Pramoedya Ananta Toer, saat ada orang Jawa ternganga melihat orang-orang Peranggi (Portugis) datang. Si orang Jawa ini bergumam heran melihat para pelaut Peranggi itu bisa berdiri sejajar dengan "raja" mereka, menatap wajah Sang Raja, sesuatu yang selama ribuan tahun tidak dikenal di Jawa.

Namun kemudian ide-ide kesetaraan disebarkan pelan-pelan. Seiring kolonialisme, seiring proyek-proyek pembaratan, dan seiring masifnya komunikasi kebudayaan. Ada kapal-kapal layar yang berperan di situ, ada perjalanan antarbenua, ada pembangunan jalan pos dan rel-rel kereta api, dan ada revolusi cetak yang melahirkan pamflet-pamflet dan surat kabar.

Dan, setelah sekian ratus tahun, dua pekan lalu saya menyaksikan satu foto melintas di Facebook, yang mengingatkan saya akan adegan di Arus Balik itu. Di foto itu, seorang kawan saya yang lain (yang kebetulan juga MC kondang) bersama beberapa orang lainnya berdiri sejajar dengan Ngarso Dalem Sinuwun Raja Yogyakarta, pewaris takhta sah dari garis tanpa putus sejak Panembahan Senopati pendiri Kesultanan Mataram.

(Andai itu terjadi pada masa Amangkurat, misalnya, saya yakin kawan saya itu akan segera dilemparkan ke kandang buaya.)

Nah, kalau pergeseran soal kesetaraan itu barangkali dirintis oleh jalur-jalur kereta api dan surat kabar Medan Prijaji, lalu apa yang terjadi ketika persebaran ide dijalankan oleh internet, wabilkhusus media sosial? Tentu saja, tak perlu menunggu berwarsa-warsa. Kejutan-kejutan akan selalu tiba tanpa kita sangka-sangka.

***

"Forum macam apa ini? Semua pembicaranya laki-laki! Ini male-dominated panels!"

Saya ternganga membaca komentar itu. Mungkin mulut saya terbuka sama lebarnya dengan mulut nelayan Jawa saat pertama kali melihat para pelaut Peranggi tiba. Sungguh-sungguh saya kaget, tidak menyadari bahwa saya sudah melakukan satu dosa besar yang tak termaafkan di hadapan kemanusiaan.

Ceritanya, ini zaman medsos, dan forum-forum diskusi muncul banyak sekali. Apalagi di masa pandemi, ketika orang-orang dengan beringas menciptakan air bah webinar dan kursus-kursus online. Tak ketinggalan, saya pun ikut sebagai salah satu pelakunya.

Dan, ketika satu forum saya diumumkan dalam bentuk poster digital, lalu disebarkan ke mana-mana, tidak saya sadari bahwa tiga pembicara yang wajahnya terpampang di situ laki-laki semua. Eh, maksud saya, tentu saja saya sadar bahwa semua pembicaranya laki-laki. Namun saya tidak paham sama sekali bahwa dengan hanya melibatkan pembicara laki-laki, itu merupakan kekeliruan yang sangat besar. Sebab setahu saya, panitia cuma mencari mereka yang latar belakangnya pas dengan forum itu, tidak lebih.

Tapi apa pun itu, pada titik itulah saya merasa nista sebagai orang yang sering mengaku-ngaku sebagai aktivis medsos. Saya bermain medsos sampai keranjingan, tapi terlalu lambat untuk menyerap nilai-nilai baru yang terus bergeser dan berkembang, kurang peka untuk menangkap acuan-acuan moralitas baru yang tersebar secara cepat tanpa mungkin dikekang.

Hari ini, perubahan nilai seperti itulah yang terjadi. Maka, forum-forum harus ditata lagi, poster-poster harus diseleksi. Dua-tiga hari lagi, barangkali akan muncul tata krama baru yang belum pernah terlintas dalam imajinasi. Dua-tiga tahun lagi, entah norma mutakhir macam apa pula yang bakal tersaji.

Yang jelas, saya mesti siap. Anda mesti siap. Dan kemampuan untuk mempertajam kepekaan, juga untuk sigap beradaptasi, semakin dituntut sebagai syarat keberadaban. Harus begitu, kan? Tentu saja, daripada kita gagal mengikuti arus zaman, atau sepahit-pahitnya berlabuh dua tahun di LP Wirogunan.

Iqbal Aji Daryono penulis, tinggal di Bantul

(mmu/mmu)