Kolom

Hilangnya Senyum Pramugari

Ulwan Fakhri - detikNews
Selasa, 04 Agu 2020 15:30 WIB
masker unik
Masker unik yang memberi kesan ekspresi wajah (Foto: Bored Panda)
Jakarta -

Namanya hidup di era kenormalan baru (new normal), yang belakangan diganti dengan istilah adaptasi kebiasaan baru, wajar kalau kita canggung melihat situasi di sekitar kita sekarang. Ambil sebagai misal para penumpang Garuda Indonesia yang beberapa waktu lalu melayangkan protes lantaran tidak bisa lagi melihat senyum para pramugari dalam memberikan pelayanannya.

Memang, demi mematuhi protokol kesehatan, senyuman ramah mereka terpaksa "disembunyikan" dahulu di balik masker dan face shield. Banyak pihak yang mendukung aturan maskapai untuk tetap memprioritaskan kesehatan kru kabin dan penumpang, walaupun mengorbankan aspek keramahannya. Namun, ya namanya juga "raja", saya yakin pasti masih ada saja customer yang merasa tidak puas dengan aturan tersebut.

Kendati demikian, saya masih merasa wajar kalau kita adalah bangsa yang begitu terobsesi terhadap senyum. Pasalnya, kita pernah lama dicap sebagai negara yang ramah dan suka tersenyum --mungkin capnya juga masih ada sampai sekarang meski sudah mengering.

Bahkan O. G. Roeder yang selama bertahun-tahun mengobservasi masyarakat Indonesia menyebut bahwa kita "terlahir untuk tersenyum." Di bukunya Smiles in Indonesia (1972), kita dideskripsikan tidak hanya tersenyum karena berbahagia, tetapi juga bisa tersenyum saat menangis.

Lalu, mencatut A Brief History of Smile (Tumble, 2004), secara linguistik kita turut "didesain" untuk tersenyum. Contohnya, pelafalan konsonan c, j, t, atau p dalam bahasa Indonesia yang benar mengharuskan kita untuk membuka bibir kita agak lebar, sehingga otot-otot di wajah kita seperti dipaksa untuk tersenyum ketika melafalkannya.

Tak terhenti di sana, senyum pun sudah terlegitimasi sebagai salah satu unsur pelayanan publik yang prima. Dulu, kita mengenal slogan 3S (Senyum, Sapa, Salam). Seiring berjalannya waktu, slogan itu terus berkembang hingga di era new normal ini telah menjadi 6S (Senyum, Sapa, Salam, Sopan, Santun, dan Safety).

Bayangkan, ketika kita sudah mulai mengutamakan standar keamanan dengan memakai alat perlindungan diri, unsur senyum pun tidak dihilangkan walau mustahil juga untuk ditampakkan secara harfiah.

Akhirnya, penyedia jasa dan layanan publik mulai beradaptasi. Nada bicara, gestur, hingga berbagai gimmick pun kini diatur dan dimanfaatkan sedemikian rupa untuk tetap menunjukkan bagaimana sejatinya mereka tetap melayani dengan hati yang ikhlas dan tersenyum.

Pihak Garuda Indonesia, misalnya, merespons keluhan penumpangnya tadi dengan menggenjot kembali edukasi antisipasi penyebaran virus Covid-19 di media sosial sambil memopulerkan kampanye "Tersenyum Lewat Mata" (#SmilesThroughOurEyes). Beberapa instansi pelayanan publik pun berdasarkan pengamatan saya mulai mewajarkan penggunaan masker bagi karyawannya dengan desain dan warna yang ceria.

Ada juga yang memakai masker berdesain gambar bibir yang tengah menyunggingkan senyum.

Menyebarkan Rasa Senang

Berangsur-angsur, kita terpaksa menjalankan kehidupan kita seperti sedia kala. Namun, keadaannya tidak akan pernah sama lagi.

Kini, ke mana pun kita berada, rasa was-was tertular virus Covid-19 terus menghantui. Sektor ekonomi juga belum pulih benar, sehingga para pekerja rentan terganggu pikirannya ketika menjalankan tugasnya. Interaksi antarmanusia, terkhusus dengan orang terdekat, pun tidak sehangat dulu karena ada "sekat" yang memisahkan kita bernama protokol kesehatan.

Dalam menyongsong babak baru peradaban, kita perlu berubah. Kalau boleh saya sarankan, ini adalah momentum bagi pelbagai pihak, terutama penyedia jasa layanan umum, untuk lebih giat lagi menyebarkan rasa senang. Caranya, pertontonkanlah sisi paling humanis dalam perusahaan Anda, yakni humoris.

Kalau bisa, tidak hanya kepada para pelanggan, tetapi juga merasuk sampai di dalam organisasi dan dirasakan betul oleh karyawan Anda. Sebab ketika kita bisa membuat orang lain berbahagia, mereka akan melupakan rasa was-was, sedih, hingga sakitnya.

Coba buatlah iklan atau konten media sosial yang humoristis untuk membuat masyarakat terhibur sekaligus tertarik dengan produk atau jasa yang Anda tawarkan. Gandenglah para komedian atau orang-orang dengan selera humor tinggi untuk berkolaborasi membahagiakan konsumen Anda. Juga, inisiasilah budaya perusahaan new normal yang nyaman nan menyenangkan untuk menunjang produktivitas kolega Anda.

Daripada sekadar melempar senyum, lebih baik sekalian saja membuat orang lain merasa senang. Toh, senyum yang ditampilkan secara harfiah tidak selalu membuat orang lain senang kok. Buktinya, ada saja segelintir orang yang kesal dengan mantan Presiden Soeharto. Padahal beliau rajin tersenyum di depan publik sampai punya titel The Smiling General.

Publik internasional juga pernah dibuat geram oleh orang Indonesia bernama Amrozi. Sebabnya, di persidangan maupun di media massa, otak aksi terorisme Bom Bali 2002 itu seringkali tampak tersenyum, seakan-akan tidak merasa menyesal atau bersalah. Amrozi kemudian akrab dengan julukan The Smiling Bomber atau The Smiling Assassin.

Nah, terbukti kan senyum yang umumnya lekat dengan simbolisasi keramahan pada momen tertentu juga tidak berfungsi demikian?

Jadi, kapan kita mulai aplikasikan secara masif slogan "Sapa, Salam, Sopan, Santun, Safety, dan Senang"?

Ulwan Fakhri peneliti Institut Humor Indonesia Kini (IHIK3)

(mmu/mmu)