Kolom

Fitrah Puskesmas di Masa Pandemi

Noerolandra Dwi S - detikNews
Selasa, 04 Agu 2020 14:09 WIB
Puskesmas pogalan trenggalek tutup
Foto: Adhar Muttaqin
Jakarta -

Tak sekali-dua berita tentang Puskesmas ditutup karena nakesnya positif Covid-19. Puskesmas Cempaka, Banjarbaru, Kalsel ditutup lima hari mulai tanggal 15 hingga 20 Juli lalu. Dari pemeriksaan ditemukan tujuh nakes dinyatakan positif corona. Mereka empat orang bidan, satu perawat, dan dua orang pegawai umum. Kepala Dinas Kesehatan Banjarbaru menyatakan bahwa masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap penularan virus Covid-19 saat ke Puskesmas. Artinya mengajak masyarakat patuh protokol kesehatan.

Penutupan juga terjadi di Puskesmas Kasihan I Kabupaten Bantul pada 20-21 Juli. Gara-garanya terdapat seorang nakes yang positif corona. Dari hasil tracing diketahui nakes tersebut tertular dari menantunya yang pulang dari Jakarta. Pelayanan dialihkan ke Puskesmas lain terdekat. Menurut Gugus Tugas Covid-19 Bantul, sesuai standar penanganan yang ditetapkan, apabila ada satu pegawai dinyatakan positif, Puskesmas ditutup dua-tiga hari untuk disemprot disinfektan dan disterilkan.

Berita yang menghebohkan sebelumnya datang dari Surabaya, yakni di Puskesmas Banyu Urip. Sebanyak dua puluh karyawannya positif terinfeksi corona pada 14 Juli. Namun Puskesmas tidak ditutup dan pelayanan berjalan seperti biasa. Kejadian positif massal terbaru juga terjadi di Puskesmas Kolakaasi, Kolaka, Sulawesi Tenggara. Delapan belas tenaga kesehatan positif corona, dan Puskesmas ditutup sejak 22 Juli hingga waktu yang belum ditentukan. Nakes yang terinfeksi hampir semuanya, meliputi dokter, perawat, bidan, apotek, laboratorium, administrasi, bagian umum, sampai tukang parkir.

Terdepan Terancam

Berita ditutupnya pelayanan Puskesmas masih terus saja terjadi di berbagai tempat. Sering juga berbarengan dengan berita sedih meninggalnya nakes. Covid-19 telah mengganggu pelayanan kesehatan esensial di Tanah Air karena Puskesmas tutup dan masyarakat kehilangan akses terdekat. Terganggunya pelayanan kesehatan mengancam status kesehatan masyarakat yang masih dibebani penyakit menular ditambah penyakit tidak menular yang terus melambung. Betapa Covid-19 telah mengancam sistem kesehatan paling bawah yang telah kita bangun bertahun-tahun.

Tak kurang 10.134 Puskesmas berada tersebar di pelosok. Merekalah basis terjaganya sistem pelayanan kesehatan. Di masa pandemi Puskesmas diharapkan memberikan pelayanan menyesuaikan dengan situasi Covid-19, melaksanakan manajemen Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM) dan Upaya Kesehatan Perorangan (UKP) di masa pandemi dan memperhatikan Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI). Di sinilah kita melihat titik lemah Puskesmas dalam pencegahan dan pengendalian jumlah kasus Covid-19. Alih-alih menjaga masyarakat, Puskesmas terdepan terancam pandemi ini.

Pertama, karena dekat masyarakat gampang datang ke Puskesmas. Akses manusia ke Puskesmas tak terbendung baik dalam status dia sebagai suspek, probable, terkonfirmasi, kontak erat, discarded maupun selesai isolasi Covid-19. Kepatuhan mereka terhadap protokol kesehatan lemah dan cenderung mengabaikan. Kedua, Puskesmas kurang patuh terhadap PPI. Berbagai faktor risiko infeksi berseliweran di lingkungan Puskesmas mulai dari petugas tidak peduli, peralatan tidak steril, lingkungan tidak sehat, dan antibiotika tidak rasional.

Ketiga, kegiatan di masyarakat dalam masa pandemi meningkatkan risiko terpapar Covid-19. Pelaksanaan sweeping orang dengan riwayat perjalanan dari zona merah, pemantauan harian kasus suspek, probable dan terkonfirmasi ringan, dan melakukan tracing jika ada kasus konfirmasi. Hanya 20 persen kasus konfirmasi memerlukan perawatan di rumah sakit, sedangkan 80 persen karantina mandiri dan isolasi diri di rumah. Semua ini merupakan tugas Puskesmas melakukan pengawasan harian. Maka tak heran kasus demi kasus nakes di Puskesmas positif Covid-19 akan terus terjadi selama pandemi belum dapat dikendalikan dengan efektif.

PPI di Puskesmas harus dilaksanakan secara tegak, baik di dalam maupun di luar gedung. Apa yang dinamakan kewaspadaan standar sekarang tidak bisa diabaikan penerapannya. Seperti misalnya penggunaan APD, kebersihan tangan, dekontaminasi lingkungan, kebersihan pernapasan/etika batuk, pengaturan ventilasi, dan pengelolaan limbah infeksius dalam pelayanan. Urgen dilakukan monitoring dan evaluasi (monev) berjenjang dan berkesinambungan yang tak mengenal lelah. Tanpa monev yang baik Puskesmas selalu terancam dan upaya pengendalian kasus Covid-19 tidak akan berhasil.

Kembali ke Fitrah

Jumlah kasus Covid-19 di Indonesia terus meningkat. Data per 25 Juli jumlah positif 97.286, naik 1868 dibanding hari sebelumnya. Rata-rata kenaikan masih di atas seribu. Memasuki new normal yang sekarang menjadi adaptasi kebiasaan baru, situasi tidak pernah surut. Saat aktivitas ekonomi dibuka diharapkan menjaga protokol kesehatan. Banyak pihak menilai masyarakat tidak disiplin protokol kesehatan yang ditetapkan yaitu tidak memakai masker, belum biasa cuci tangan pakai sabun, dan tidak jaga jarak saat berkerumun. Apakah Puskesmas sebagai garda depan gagal mengemban tugas dan fungsinya dalam pengendalian Covid-19?

Kemenkes dalam Petunjuk Teknis Pelayanan Puskesmas Pada Masa Pandemi Covid-19 (Edisi Mei 2020) menetapkan fungsi utama Puskesmas dalam pengendalian Covid-19 yaitu prevensi, deteksi, dan respons. Dalam prevensi, Puskesmas membangun UKM yang kuat dalam membangkitkan kebiasaan hidup sehat. Dalam deteksi, Puskesmas melakukan kegiatan surveilans dan pelacakan kasus mendukung upaya kekarantinaan dan isolasi mandiri. Sedangkan respons adalah upaya penyelidikan epidemiologi dan notifikasi kasus dalam waktu 1 x 24 jam. Tiga upaya tersebut bukan perkara mudah dan Puskesmas harus memilah dan memilah.

Maka tantangan besar Puskesmas di masa pandemi Covid-19 adalah kembali ke fitrah dengan sebenar-benarnya. Kebutuhan kembali ke fitrah kian relevan memasuki adaptasi kebiasaan baru. Menjamin wilayah kerja dapat menegakkan protokol kesehatan butuh perjuangan melelahkan. Kebiasaan pakai masker, cuci tangan pakai sabun, dan jaga jarak di luar rumah. Butuh energi dan waktu bagi Puskesmas membangkitkan kesadaran dan kedisiplinan. Perlu pengelolaan SDM terencana, pemberdayaan masyarakat, dan penggerakan lintas sektor untuk menjawab tantangan preventif promotif di masa pandemi sekarang.

Beban berat di pundak Puskesmas membuat sumber daya manusia yang tersedia kelelahan dan dalam tekanan. Maka dalam menjalankan prevensi, deteksi, dan respons Puskesmas harus kembali dalam ranah promotif preventifnya. Pilihan kegiatan ini sudah luar biasa beratnya. Oleh karenanya, maka yang bersifat penanganan kesehatan perorangan dan medis Covid-19 menjadi wewenang Fasilitas Kesehatan Tingkat Lanjut (FKTL), dalam hal ini rumah sakit rujukan.

Jika Puskesmas masih terlibat dalam pelayanan medis seperti sekarang, dikhawatirkan makin banyak nakes Puskesmas terinfeksi Covid-19, pelayanan ditutup, yang berakibat terganggunya sistem pelayanan kesehatan masyarakat secara umum.

Noerolandra Dwi S surveior akreditasi FKTP Kemenkes, alumnus Magister Manajemen Pelayanan Kesehatan Unair

(mmu/mmu)