Kolom

Meluruskan Salah Persepsi New Normal dan Herd Immunity

dr. Theodore Dharma - detikNews
Selasa, 04 Agu 2020 10:54 WIB
New normal gembira loka zoo
Penerapan protokol kesehatan di berbagai tempat (Foto: Pradito Rida Pertana/detikcom)
Jakarta -

Pada 2 Maret 2020, Presiden Joko Widodo mengumumkan dua kasus pertama Covid-19 di Indonesia. Empat bulan semenjak itu sekitar 90.000 orang terkonfirmasi Covid-19 dari 700.000 orang yang telah diperiksa, di mana sekitar 4.000 orang dinyatakan meninggal. Beberapa cara telah dilakukan pemerintah untuk menekan angka penyebaran Covid-19, dari imbauan untuk bekerja dan belajar dari rumah, serta pembatasan sosial berskala kecil hingga besar. Saat ini kita dihadapkan dengan new normal; beberapa tempat kerja dan wisata kembali di buka, pembatasan sosial pun mulai dilonggarkan di beberapa daerah, tentu dengan diterapkannya protokol kesehatan.

New normal bukanlah langkah pemerintah untuk menciptakan fenomena herd immunity alamiah, melainkan kebijakan agar kita tetap produktif dan tetap aman di tengah wabah Covid-19 dengan tetap menjalankan protokol kesehatan seperti mengenakan masker, cuci tangan sebelum dan setelah menyentuh sesuatu, etika bersin yang baik, dan sosial distancing.

Herd immunity terjadi dalam suatu populasi saat mayoritas individu memiliki kekebalan tubuh (antibodi) terhadap suatu penyakit. Ada beberapa hal yang harus dipahami dalam fenomena ini yaitu, hal ini tidak berlaku untuk semua penyakit, hanya pada penyakit yang ditularkan antarmanusia secara langsung. Sebagai contoh adalah tetanus, yang disebabkan oleh infeksi bakteri yang masuk ke tubuh akibat luka yang terpapar bakteri di tempat yang kotor. Walaupun mayoritas populasi telah memiliki antibodi terhadap tetanus, hal tersebut tidak akan melindungi orang yang tidak memiliki antibodi terhadap tetanus.

Herd immunity bisa dicapai melalui dua hal, yaitu kekebalan buatan dengan pemberian antibodi melalui vaksin dan kekebalan alamiah --pembentukan antibodi setelah seseorang terinfeksi. Vaksin adalah produk yang terbuat dari virus atau bakteri yang sudah mati atau dilemahkan. Pemberian vaksin akan membentuk antibodi pada tubuh seseorang untuk melawan suatu virus atau bakteri tertentu.

Contoh fenomena herd immunity buatan adalah penyakit campak. Campak adalah penyakit yang sangat menular. Sebelum vaksin ditemukan dan disebarkan pada tahun 1963, angka kematian akibat campak diperkirakan mencapai 2.6 Juta orang tiap tahunnya.

Setelah vaksin ditemukan dan disebarkan di seluruh dunia, angka penyebaran dan kematian akibat campak terus berkurang. WHO mengklaim vaksin campak mencegah kematian sekitar 23 Juta orang antara tahun 2000 – 2018 . Angka kematian akibat campak pada tahun tersebut turun 73% dari 536.000 kasus menjadi 140.000 kasus.

Pada tahun 2018 diperkirakan 86% anak di dunia sudah mendapatkan vaksin campak yang pertama sebelum usia 1 tahun. Dengan terbentuknya antibodi pada mayoritas populasi, maka fenomena Herd Immunity akan terjadi, fenomena tersebut tidak hanya melindungi orang yang memiliki antibodi, namun orang yang tidak memiliki antibodi juga akan terlindungi karena kemungkinan penyebaran yang berkurang.

Wabah Flu Spanyol pada tahun 1918-1920 merupakan salah satu contoh partial herd immunity alamiah. Dikatakan partial atau sebagian dikarenakan jumlah kasus saat itu sekitar 30% populasi dunia, di mana herd immunity dikatakan terjadi jika 60-85% individu sebuah populasi memiliki antibodi terhadap suatu penyakit.

Berbeda dengan herd immunity buatan di mana antibodi didapat dari pemberian vaksin, pada herd immunity alamiah antibodi terbentuk setelah seseorang terinfeksi suatu penyakit. Pembentukan antibodi secara alamiah memiliki proses yang lebih lama dan rumit. Hal-hal yang mempengaruhi proses pembentukan antibodi secara alamiah adalah jumlah virus yang ada dalam tubuh, sifat virus, serta jumlah sel pertahanan tubuh pada seseorang. Proses tersebut yang nantinya akan membentuk kekebalan terhadap suatu penyakit.

Wabah Flu Spanyol diperkirakan menginfeksi sekitar 500 juta orang atau sepertiga populasi dunia saat itu, dengan jumlah kematian sekitar 50 juta orang. Wabah Flu Spanyol terbagi dalam tiga gelombang, yaitu saat musim semi, gugur, dan musim dingin dengan penyebaran diperkirakan terjadi selama Perang Dunia I melalui jalur udara, darat, dan jalur laut. Usaha yang dilakukan oleh tiap negara pada saat itu ialah memutus rantai penyebaran dengan cara menutup sekolah, tempat berkumpul, membatasi transportasi umum, penggunaan masker, dan social distancing sembari menunggu ditemukannya vaksin dan obat.

Penyebaran Flu Spanyol pada akhirnya dapat terkendali pada pertengahan 1920 tanpa adanya vaksin dan obat khusus, melainkan akibat fenomena herd immunity di mana mayoritas populasi mendapatkan antibodi secara alamiah, serta social distancing sebagai salah satu cara memutus rantai penyebaran.

Herd immunity adalah sebuah fenomena yang baik jika dijalankan dengan cara yang tepat. Herd immunity dikatakan berhasil jika 60-85% populasi memiliki antibodi terhadap suatu penyakit. Jika kita ingin menerapkan herd immunity alamiah pada kasus Covid-19 di Indonesia, maka 160-226 juta orang harus terinfeksi Covid-19 (tercatat populasi di Indonesia saat ini 267 juta). Dari penduduk yang terinfeksi tersebut dengan angka kematian mencapai 4,7%, maka diperkirakan 7,5 – 10,6 juta orang akan meninggal. Selain sangat berbahaya, sampai saat ini masih belum ada bukti bahwa orang yang berhasil sembuh tidak akan mengalami infeksi serupa ke depannya.

Selama new normal kita diharapkan tetap produktif dan tetap aman dari Covid-19, bukan berarti kita sengaja diberikan paparan terhadap Covid-19 agar tubuh kita membentuk antibodi. Jadi harus dimengerti bahwa new normal bukanlah kebijakan pemerintah untuk menciptakan fenomena herd immunity alamiah. Namun fenomena tersebut bisa saja terjadi jika protokol kesehatan tidak dijalankan dengan baik, dan kesadaran kita terhadap bahaya Covid-19 ini berkurang. Walaupun kembali lagi ditekankan bahwa sampai saat ini belum ada bukti seseorang yang memiliki antibodi Covid-19 tidak akan mengalami infeksi serupa ke depannya.

New normal bisa dikatakan berhasil apabila kasus Covid-19 dapat terkendali. Sembari menunggu obat dan vaksin, pemerintah, tenaga medis, dan masyarakat harus saling bahu-membahu sesuai peran dan kemampuan masing-masing. Pemerintah membuat kebijakan yang tepat, tenaga medis memberikan penanganan yang terbaik bagi pasien terkonfirmasi Covid-19, masyarakat dengan kasus suspek atau kontak erat diisolasi sesuai batas waktu yang telah ditentukan, dan orang tanpa gejala dapat tetap produktif namun dengan mengikuti protokol kesehatan yang berlaku.

Penerapan protokol kesehatan dan kesadaran kita terhadap bahaya Covid-19 adalah kunci keberhasilan kita menjalani new normal. Mari kita bersama-sama berpartisipasi untuk mewujudkan hal tersebut.

(mmu/mmu)