Kolom

Bebas dari Jerat Pandemi ala "One Piece"

Fadel Muhammad - detikNews
Senin, 03 Agu 2020 11:15 WIB
Manga One Piece
Jakarta -

Aku tak ingin menaklukkan apapun, yang kuinginkan hanyalah menjadi orang paling bebas di lautan....

Kata-kata itu bukanlah milik seorang akademisi ternama, filsuf, atau siapapun di dunia nyata. Itu hanyalah kutipan percakapan dari seorang raja bajak laut masa depan pada seorang pria tua. Dan, kalian tahu? Mereka adalah tokoh fiksi. Pernyataan tokoh utama, Luffy, kapten dari bajak laut topi jerami, dari serial manga One Piece karya Eichiro Oda ini seperti mengungkap keinginan paling mendasar yang dipendam oleh seluruh manusia di muka bumi. Keinginan untuk bisa bebas.

Entah bebas dari tuntutan pekerjaan yang memiliki tenggat waktu, banyaknya tugas kuliah, atau tuntutan untuk segera memiliki pasangan dan berkeluarga. Senyaman apapun seseorang dengan segala hiruk-pikuk kesibukan yang ia kerjakan, pasti ingin sesekali keluar dari hal itu dan beristirahat. Membebaskan diri sejenak dan memiliki waktu untuk diri sendiri.

Permasalahannya, sampai sejauh mana batas kebebasan yang manusia inginkan? Pertanyaan ini tak akan terlintas di pikiran kita masing-masing (atau setidaknya pikiran saya) sampai beberapa bulan lalu sejenis makhluk yang sangat kecil muncul ke permukaan dan melabeli setiap manusia yang dihinggapinya dengan gelar "positif mengidap Covid-19". Makhluk hidup berjenis virus ini seketika mengubah gaya hidup --sekolah diliburkan dan kantor-kantor ditutup-- sehingga dapat saya teriakkan dengan lantang hal ini merenggut kebebasan manusia.

Namun, tunggu dulu! Bukankah dengan ditiadakannya kegiatan belajar di sekolah dan kampus, juga semua tempat kerja ditutup, atau paling tidak dilaksanakan di rumah, keinginan mendasar kita justru tercapai? Beberapa hari di awal, iya, mungkin demikian. Namun dengan belum ditemukannya vaksin dan cara paling ampuh untuk menyembuhkan penyakit ini, justru kita sadar, kita hanya berpindah, "direnggut" kebebasan dari satu hal ke hal yang lainnya.

Kebebasan untuk tak lagi memakai seragam bagi anak sekolah telah didapatkan, tentu saja. Tapi bersamaan dengan itu kebebasan untuk memperoleh pendidikan yang layak secara bertatap muka justru tak ada lagi. Dan secara umum, kebebasan untuk beristirahat dari semua bentuk aktivitas di luar ruangan sekarang kita dapatkan dengan membayar mahal; tak lagi bebas berada di luar rumah.

Tak berhenti sampai di situ, bahkan bernapas dengan bebas pun "dihalangi" kewajiban memakai masker.

Waktu terus berlalu, vaksin yang ditunggu belum lagi ditemukan. Orang-orang mulai bertindak sedikit '"iar"; aturan-aturan dari pihak pemerintah pelan-pelan dilanggar. Inilah bentuk hakikat manusia yang sebenarnya, yaitu ketika kebebasan mereka direnggut, akan ada perlawanan terhadap segala pihak yang berusaha mengatur.

Bagi penggemar One Piece, hal semacam itu cukup familiar, bukan? Orang-orang yang melawan diibaratkan para pasukan revolusi, pimpinan Monkey D Dragon, melawan aturan dari World Government dalam hal ini diwakili oleh WHO. Pihak pemerintah yang mengeksekusi himbauan WHO tak lain laik kerajaan-kerajaan diktator di bawah bendera Wold Government.

Entah ini merupakan kebetulan atau tidak, kerajaan-kerajaan yang pro rakyat seperti Dressrosa dan Alabasta juga terwakili oleh satu daerah di bagian timur Indonesia yang lebih memilih melawan standar new normal yang diberikan WHO. Media cukup heboh memberitakan pernyataan kepala daerah mereka yang lebih memilih mati karena Covid-19 daripada rakyatnya mati lebih dulu karena kelaparan.

Sampai pada titik ini, untungnya (atau malangnya), belum terorganisasi betul segala bentuk perlawanan ini, dan sosok Dragon belum dilahirkan. Sosok Dragon malah terlihat sedikit demi sedikit bukan pada sosok satu orang, melainkan pada diri setiap orang yang mulai "muak" pada fakta-fakta yang ditemukan di lapangan. Beberapa fakta ini terlihat dari riwayat penyakit korban meninggal Covid-19 yang menunjukkan tak ada satu pun korban meninggal murni diakibatkan oleh Covid-19.

Rata-rata pasien yang meninggal malahan karena kondisi tubuh pasien yang menurun akibat pemberitaan berlebihan oleh media, serta faktor utama adanya komplikasi penyakit bawaan lainnya oleh pasien seperti penyakit jantung dan diabetes.

Di luar dari fakta tersebut, banyak juga teori-teori konspirasi yang dapat kita temukan. Dan, bersiaplah ketika membaca hal-hal tersebut. Karena, mungkin saja, kita akan tenggelam lebih jauh ke dasar lautan Grand Line yang penuh Sea King dan justru menemukan "kebusukan-kebusukan" (entah benar atau tidak) mereka, pihak penguasa, dan memilih bergabung dengan panji pasukan revolusi bersama Dragon, Sabo, dan kawan-kawan lainnya.

Atau, memilih jalan netral, menjadi bajak laut layaknya tokoh utama dengan mimpi temukan kebebasan di ujung perjalanan.

Sampai di sini cukup terdengar berlebihan; memojokkan pihak pemerintah yang ingin melindungi rakyat dan menyamakannya dengan pihak World Government yang jelas-jelas merupakan tokoh antagonis. Ini hanyalah bentuk kebebasan saya, jadi tolong jangan direnggut ya hehehe.

Hal yang paling saya harapkan dan ingin agar para pembaca tanamkan pada pikiran masing-masing adalah bahwa sosok-sosok Angkatan Laut, World Government, atau antagonis lainnya merupakan perspektif yang dibentuk oleh pikiran kita sendiri dan dapat berubah fungsi sesuai dengan tujuan kita melakukan suatu tindakan.

Dalam diri satu orang bahkan dapat ditemukan jiwa bajak laut dan angkatan laut sekaligus. Terserah kita ingin condong ke arah mana. Terdengar cukup klise?

Akhir kata, entah persepsi saya tentang Covid-19 di atas benar adanya (yang saya tak ingin sekali aminkan) atau malah sebaliknya, akan sangatlah bijak jika segala aturan yang telah ditetapkan kita jalankan sebagaimana adanya. Sebagaimana Luffy dan Straw Hats bersabar dan tekun berlatih ketika masa time-skip dua tahun, terdengar cukup bagus untuk dicontoh dengan cara tetap produktif pada masa karantina ini.

Dengan penuh harapan, setelah ini semua berakhir, kita akan lebih tangguh mengarungi lautan Dunia Baru yang menanti manis di depan.

(mmu/mmu)