Kolom

Takbiran di Sepuluh Hari Pertama Dzulhijjah

Ahmad Kusyairi Suhail - detikNews
Kamis, 30 Jul 2020 18:10 WIB
Seluruh umat muslim di Indonesia penuh suka cita menyambut Hari Raya Idul Fitri. Sejumlah masjid di Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, mengumandangkan takbir.
Foto: Dadang Hermansyah
Jakarta -

Takbir yang secara sosiologis dalam bahasa masyarakat kita populer dengan istilah takbiran adalah ibadah yang sangat dianjurkan untuk dikumandangkan berhubungan dengan dua momentum besar bagi kaum muslimin, yaitu hari raya Idul Fitri dan Idul Adha.

Untuk Hari Raya Idul Fitri, setelah kaum muslimin menyelesaikan lengkapnya ibadah puasa Ramadhan, Allah memerintahkan untuk mengagungkan asma-Nya dengan takbiran sekaligus sebagai wujud syukur atas segala nikmat dari-Nya, sebagaimana firman-Nya:

"Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu bertakbir (mengagungkan) Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur" (QS Al-Baqarah: 185).

Menurut Imam Qurthubi, ayat ini (terdapat dalil) perintah bertakbir di akhir Ramadhan menurut pendapat jumhur (kebanyakan) ulama tafsir (Tafsir Al Jaami' Li Ahkaami'l Qur'an atau populer dengan nama Tafsir Al Qurthubi, II/205).

Berarti takbiran dimulai di malam Hari Raya Idul Fitri, atau tepatnya sejak terbenam matahari bulan Ramadhan (maghrib) dan setelah dipastikan terlihat (rukyah) bulan Syawal, hingga imam melakukan takbiratul ihram Salat Idul Fitri. Setelah itu sudah tidak diperintahkan takbiran lagi (Fathul Qarib, Syekh Abu Abdillah Muhammad bin Qasim As Syafi'i)

Takbiran boleh dilakukan sendiri-sendiri, boleh juga dilaksanakan secara berjamaah. Imam Qurthubi mengutip ucapan Imam As Syafi'i ketika melihat bulan (rukyah hilal) Syawal, "Aku senang masyarakat melakukan takbiran jamaa'atan wa furooda, berjamaah maupun sendiri-sendiri (Tafsir Al Qurthubi, II/205).

Takbir atau takbiran adalah manifestasi ketundukan dan kepasrahan diri seorang muslim kepada Allah yang Maha Besar. Takbir merupakan pengakuan jujur ketidakberdayaan kita sebagai makhluk yang lemah kepada Sang Khaliq, Allah, yang Maha Kuat. Kumandang takbir juga merupakan pernyataan dan deklarasi ego kita sebagai manusia yang kerdil di hadapan kemahabesaran Allah.

Dengan mengumandangkan takbir, karat-karat kesombongan, kepongahan jiwa dan arogansi kita sebagai manusia dapat terkikis habis. Dengan takbir yang menggelegar dibarengi kekhusyukan hati diharapkan dapat melahirkan kebugaran spiritual dan memunculkan sikap tawadu dan rendah hati.

Ada beberapa pilihan lafaz takbir, di antaranya:

Allaahu akbar allaahu akbar allaahu akbar. Laa ilaaha illallaahu wallaahu akbar. Allaahu akbar wa lillaahil-hamd

Artinya:

Allah maha besar Allah maha besar Allah maha besar. Tidak ada Tuhan melainkan Allah dan Allah maha besar. Allah maha besar dan segala puji bagi Allah.

Lalu bagaimana dengan takbiran di sepuluh hari pertama Dzulhijjah dan Hari Raya Idul Adha?

Masalah memperbanyak takbir atau takbiran di sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah sesungguhnya bukanlah masalah baru. Tapi, sudah disinggung oleh banyak para ulama dalam kitab-kitab klasik. Sehingga, ini merupakan amal ibadah, dan tidak perlu meragukan orisinalitas dan validitasnya. Karena ternyata hal ini merupakan amalan generasi terbaik; para sahabat dan tabi'in dan tabi't tabi'in.

Dasar pijakannya, di antaranya firman Allah: Dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan. (QS. Al Hajj: 28).

Ayyam ma'lumaat menurut salah satu penafsiran adalah sepuluh hari pertama Dzulhijjah. Pendapat ini adalah pendapat jumhur (mayoritas) ulama. (Tafsir Ibnu Katsir III/429), dan lihat pula perkataan Imam Ibnu Rajab Al Hambali dalam kitab Lathoif Al Ma'arif:

Imam Bukhari menyebutkan: Ibnu 'Abbas berkata, Berdzikirlah kalian pada Allah di hari-hari yang ditentukan yaitu 10 hari pertama Dzulhijah dan juga pada hari-hari tasyriq.

Ibnu 'Umar dan Abu Hurairah pernah keluar ke pasar pada sepuluh hari pertama Dzulhijah, lalu mereka bertakbir, lantas orang-orang pun ikut bertakbir. Muhammad bin 'Ali pun bertakbir setelah salat sunah. (HR Bukhari secara mu'allaq, tanpa sanad, pada Bab "Keutamaan Beramal di Hari Tasyriq").

Imam Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya (III/429) menyebutkan hadis Imam Ahmad dengan sanad dari sahabat Ibnu Umar RA berkata, Rasulullah SAW bersabda:

Tidak ada hari-hari yang amal lebih agung di sisi Allah dan lebih dicintai oleh-Nya melebihi amal yang dilakukan di hari-hari sepuluh (pertama Dzulhijjah) ini. Maka, perbanyaklah kalian di hari-hari sepuluh pertama Dzulhijjah, tahlil, takbir, dan tahmid.

Lalu Imam Ibnu Katsir juga menukil perkataan Imam Bukhari di atas, yaitu bahwa sahabat Ibnu Umar dan Abu Hurairah pernah keluar ke pasar pada sepuluh hari pertama Dzulhijah, lalu mereka bertakbir, lantas masyarakat pun ikut bertakbir (Tafsir Ibnu Katsir, III/429).

Takbir yang dimaksudkan dalam penjelasan di atas adalah sifatnya muthlaq, artinya tidak dikaitkan pada waktu dan tempat tertentu. Jadi boleh dilakukan di pasar, masjid, dan saat berjalan. Takbir tersebut dilakukan dengan mengeraskan suara khusus bagi laki-laki.

Di dalam salah satu kitab rujukan fikih mazab Syafi'i, yaitu Al Fiqh Al Manhaji 'Ala Madzhab Al Imam Asy Syafi'i (Juz I hal. 226) disebutkan bahwa sahabat Ibnu Umar RA melakukan takbir itu di Mina, lalu didengar ahli masjid, mereka pun bertakbir, dan bertakbir pula orang-orang di pasar hingga takbir bergemuruh menggoncang Mina.

Ada juga takbir yang sifatnya muqoyyad, artinya dikaitkan dengan waktu tertentu, yaitu dilakukan setelah salat fardu berjamaah.

Takbir muqoyyad bagi orang yang tidak berhaji dilakukan mulai dari Salat Subuh pada hari Arafah (tanggal 9 Dzulhijah) hingga waktu Ashar pada hari tasyrik yang terakhir (tanggal 13 Dzulhijjah). Adapun bagi orang yang berhaji dimulai dari Salat Zuhur hari Nahr/Hari Raya Idul Adha (tanggal 10 Dzulhijjah) hingga hari tasyrik yang terakhir.
Syekh Dr. Wahbah Az Zuhaili di dalam kitabnya yang populer, Al Fiqh Al Islami wa Adillatuhu (II/h. 386) mengatakan:

Dan disunahkan takbir juga di sepuluh hari pertama Dzulhijjah, dan itu adalah ayyam ma'lumat (hari-hari yang telah ditentukan), berdasarkan firman Allah, "Dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan." (QS Al Hajj: 28). Sebagian lagi, memasukkan takbir di sepuluh hari pertama Dzulhijjah termasuk amal salih yang dicintai Allah sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh Ibn Abbas:

Tidak ada hari yang amal salih lebih dicintai Allah melebihi amal salih yang dilakukan di sepuluh hari ini (yakni sepuluh hari pertama Dzulhijjah). Para sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah, termasuk lebih utama dari jihad fi sabilillah? Nabi SAW menjawab, "Termasuk lebih utama dibanding jihad fi sabilillah. Kecuali orang yang keluar dengan jiwa dan hartanya (ke medan jihad), dan tidak ada satu pun yang kembali (yakni mati syahid dan hartanya dirampas musuh)." (HR. Bukhari dan Turmudzi dan Ahmad)

Dalam riwayat yang lain, Nabi SAW bersabda: Tidak ada amalan yang lebih suci di sisi Allah dan tidak ada yang lebih besar pahalanya dari pada kebaikan yang dia kerjakan pada sepuluh hari al-Adha. (HR. Ad-Daruquthni di-hasan-kan oleh Syekh Albani). Imam Ibn Rajab mengatakan, hadis ini menunjukkan bahwa beramal pada sepuluh hari bulan Dzulhijjah lebih dicintai di sisi Allah daripada beramal pada hari-hari yang lain, tanpa pengecualian.

Dan apabila suatu amal itu lebih dicintai oleh Allah, artinya amal tersebut lebih afdhal (lebih utama) di sisi-Nya (Lihat: Lathaiful Ma'arif).

Dalam kitab At Targhib wa At Tarhib (II/150), Imam Al Mundziri menceritakan bahwa Sa'id bin Jubair (murid senior sahabat Ibnu Abbas), ketika memasuki tanggal satu Dzulhijjah, beliau sangat bersungguh-sungguh dalam beribadah, sampai hampir tidak mampu melakukannya, saking semangatnya.

Takbiran di sepuluh hari pertama Dzulhijjah juga termasuk dalam keumuman keutamaan zikir sebagaimana hadits riwayat Samurah bin Jundub , Rasulullah SAW bersabda: Kalimat yang paling Allah cintai ada 4: Subhanallah, Alhamdulillah, Laa ilaaha illallah, dan Allahu akbar. Kamu mulai dengan kalimat mana pun, tidak jadi masalah. (HR. Muslim).

Dari pemaparan di atas, jelaslah bagi kita tentang dianjurkannya) dan orisinalitas takbiran di sepuluh hari pertama Dzulhijjah, tentu dengan tetap menghormati kalau ada pendapat lain. Masalah ini termasuk bagian dari keluasan dan keluwesan ajaran Islam. Yang paling penting kesungguhan kita, khususnya di hari-hari mulia ini untuk memperbanyak amal salih, dan semangat dalam melakukan kebaikan dan perbaikan, sehingga terwujud kebaikan kehidupan individu, keluarga, dan masyarakat serta kebaikan bangsa dan negara.

Dr. Ahmad Kusyairi Suhail, MA dosen FDI UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Sekjen Ikatan Dai Indonesia dan Pengurus Ponpes Yapidh Bekasi

(mmu/mmu)