Kolom

Kurban, Dialektika Teologis, dan Kemanusiaan Universal

Afrizal Qosim - detikNews
Kamis, 30 Jul 2020 15:00 WIB
Jakarta -

Besok, 1,7 miliar Muslim akan merasakan pengalaman ber-Idul Adha di tengah pandemi. Negara melalui beberapa kementerian telah menerbitkan protokol kesehatan dalam penyelenggaraan Salat Id dan penyembelihan hewan kurban. Pemberlakuan ini beraras pada tujuan baik menuju "hospitalisasi ruang publik" yang mengarah pada mitigasi penyebaran virus Covid-19. Kebaikan lain dilakukan oleh agamawan dan komunitas filantropis yang memodifikasi festival kurban melalui, salah satunya, kampanye #QurbanDariRumah.

Perayaan kesalehan Nabi Ibrahim yang berlangsung selama empat hari ini ghalab diawali dengan puasa Dzulhijjah lalu orkestrasi seperti takbiran, silaturahmi dan ziarah kubur yang semuanya kini lebih etis jika mengedepankan protokol. Adapun ritual kuncinya terletak pada nomenklatur adha yang berarti "pengorbanan". Disunahkan menyembelih hewan kurban, baik kambing ataupun sapi, bagi Muslim yang mampu.

Secara historis, ritual kurban mengikuti jejak Nabi Ibrahim. Kisah ini jamak termaktub dalam variasi menarik dari al-Quran dan Kitab Kejadian. Dikisahkan bahwa Ibrahim bermimpi menerima perintah mengejutkan dari Tuhan (Qs. Ash-Shaffah: 99) bahwa dia harus mempersembahkan putra terkasihnya sebagai kurban. Status siapa anak yang dimaksud di sini masih musykil dan juga tidak disebutkan dalam al-Quran. Tetapi, orang Islam secara bertahap menerimanya sebagai Ismail.

Menurut Ahmad Ali al-Jurjawi (1938) dalam kitab Hikmat at-Tasyri' wa Falsafatuhu, dalam perayaan kurban terkandung dua hikmah. Pertama, menampakkan pengabdian yang sempurna kepada Sang Pencipta. Sebagai hamba Allah yang berbakti, Nabi Ibrahim mentaati dan membawa anak itu ke Gunung Moriah untuk disembelih. Pada saat terakhir, Allah yang takjub dengan pengabdian Ibrahim menyelamatkan anak itu dengan mengirimkan seekor domba jantan sebagai pengganti.

Dalam tafsir faktual, "mengorbankan nyawa anak" bisa digolongkan sebagai kejahatan kemanusiaan. Namun kiranya terlalu pagi untuk mengatakan bahwa perbuatan Nabi Ibrahim "mengorbankan anaknya" itu keliru sehingga riskan memantik asumsi apabila Tuhanlah yang menghendaki perbuatan keji tersebut. Sebelum beranjak lebih jauh, alangkah baiknya terlebih dahulu kita menyemai transendensi kurban dengan mengenal Nabi Ibrahim dalam dimensi ideologis dan menemukan jawaban atas teka-teki teologis yang menyertainya.

Sebuah Dialektika

Di dalam al-Quran terdapat kisah Nabi Muhammad yang berdebat "secara ilmiah" dengan Ahli Kitab Najran perihal status agama Nabi Ibrahim. Dalam perdebatan itu, Ahli Kitab, baik Yahudi maupun Nasrani masing-masing mengakui pihaknya sebagai agama Ibrahim. Dengan nada yang cukup polemis, al-Quran (QS. Ali Imran:67) menangkis bahwa Ibrahim itu seorang Yahudi dan Nasrani, melainkan seorang Muslim. Ayat ini lalu menjadi jawaban pengantar dari teka-teki teologis atas agama apa yang disyariatkan oleh Ibrahim secara harfiah maupun historis.

Perdebatan teologis yang lebih modern, berkembang pada pembahasan kuasa Tuhan dan kedaulatan manusia (human subjectivity). Immanuel Kant, filsuf Jerman abad-18 mengomentari keraguan Ibrahim atas moralnya sendiri dan semestinya dia curiga tentang suara ilahi yang memerintahkan untuk melakukan sesuatu yang kejam: mengorbankan putranya. Melalui pandangan ini, Kant tidak menyarankan menentang Tuhan, dia, sedang mencoba memberdayakan kedaulatan manusia.

Sementara itu, gairah pencerahan Islam Abad Pertengahan ternyata menduduki posisi yang tidak ortodoks dalam "kisah pengorbanan" untuk tidak gegabah menerima kesimpulan bahwa Tuhan akan memerintahkan sesuatu yang sangat kejam. Adalah orang-orang Mu'tazilah, teologi yang berkembang di Irak sekitar abad ke-9 ini berpendapat bahwa perilaku "baik" dan "buruk" tidak hanya bermuara pada keputusan ilahi semata, ia juga melibatkan keputusan manusia.

Dalam bahasa teolog Asy'ariyyah yang berkembang di abad ke-11, "kemampuan" pada diri manusia untuk berkehendak atau melakukan sesuatu disebut kasb. Dalam konteks ini, Ibnu 'Arabi (1165-1240) seorang filsuf besar Islam dari Andalusia Abad Pertengahan menilai Nabi Ibrahim salah menginterpretasi pesan ilahi dalam mimpi itu, dan Allah menebusnya dengan seekor kambing: "Tuhan menyelamatkan putranya dari kesalahpahaman Nabi Ibrahim".

Dari dialektika tersebut, buah yang bisa dipetik adalah agar kita lebih berhati-hati dalam menyikapi apa yang "tampaknya" berasal dari kehendak Tuhan dan menguatkan pengambilan keputusan dengan kondisi moral kita sendiri. Ibnu Atha'illah dalam al-Hikam menegaskan, "Tanawwa'at ajnas al-a'mali litanawwu'I waaridaat al-ahwaali," -- amal dan pekerjaan kita berbeda-beda kualitas dan jenisnya karena perbedaan keadaan spiritual yang kita alami.

Peringatan ini khususnya berlaku bagi manusia biasa seperti kita, yang membaca wahyu tidak langsung dari sumbernya seperti Nabi, melainkan dari transmisi dan interpretasi manusia yang berkemungkinan salah. Umar bin Khattab, pengganti Nabi (al-khalifah) dalam beberapa peristiwa sering mendebat keabsahan wahyu dan pernah Nabi membenarkan pendapat Umar, lantas turunlah ayat yang memberi keabsahan baru. Dengan kata lain, penuntun kita bukan taklid buta, tetapi melengkapinya dengan mendayagunakan pertimbangan logis.

Moralitas Berbagi

Selain hikmah kurban yang diperoleh dengan menyesap saripati pengabdian Nabi Ibrahim, sekilas kita boleh berdecak kagum atas adegan heroik yang mengantar kita pada pesan moral: kesalehan Ibrahim harus dirayakan. Terdapat hikmah lain yang berpijak pada episentrum spirit kurban, dan ini menjadi "hikmah kedua" yang disebut Ahmad Ali al-Jurjawi (1938), yaitu bersedekah.

Hikmah kedua ini mengingatkan saya pada sahabat karib yang semenjak duduk di bangku SMP hingga sekarang tidak pernah tidak menyisihkan uang tabungannya untuk berkurban atau sekadar bersedekah pada Hari Raya Kurban.

Posisi hukum kurban yang sunah membuat saya masygul dan bertanya perihal kebiasaan itu. "Bagaimanapun, uang yang kita miliki setidaknya bisa disisihkan untuk berkurban. Tidak melulu soal egoisme pribadi. Sebab sebagian rezeki kita juga memiliki hak atas orang lain," ujarnya secara singkat dan menikam sekaligus.

Napas sedekah yang menjadi nilai sosial dalam kurban sebenarnya telah jamak termaktub dalam khazanah Islam klasik. Di kitab Fath al-Bari karya Ibnu Hajar al Asqalani misalnya, ada sebuah hadis yang menyebut Nabi Muhammad berkurban dengan dua ekor kambing yang manis dan bertanduk (bikabsyaini aqranayni amlahayni). Kurban kambing pertama, Nabi mengkhususkan untuk dirinya beserta keluarga dan sahabat tercintanya. Sementara kambing kedua, Nabi mengkhususkan untuk umatnya yang belum mampu berkurban.

Riwayat yang lebih menjurus pada keindahan beragama sekaligus wajah kemanusiaan Nabi secara universal mengisahkan ketika Nabi Muhammad diberi hadiah seekor kambing, beliau lantas menyembelih dan membagi-bagikannya ke seluruh tetangganya.

"Sudah habis semua, ya Rasulallah," kata Aisyah. "Yang tersisa buat kita tinggal leher kambing itu."

"Tidak, Aisyah," tukas Nabi, "Yang tersisa menjadi milik kita adalah seluruhnya, kecuali lehernya."

Ala kulli hal, selamat berkurban di tengah pandemi yang riuh dengan berbagai problematika kehidupan. Imunitas tubuh dan pangan yang kian menipis mendorong kita menyesap ruh pengabdian Nabi Ibrahim sebagai napas untuk menepis malapetaka egoisme beragama. Sehingga diri kita mengejawantah sebagai hamba yang seutuhnya mengabdi kepada-Nya dalam suatu misi kemaslahatan kemanusiaan universal.

Afrizal Qosim Sholeh Peneliti Muda di Institute of Southeast Asian Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta


(mmu/mmu)