Kolom

Pesantren dan Narasi Konspiratif Corona

Fahrul Muzaqqi - detikNews
Kamis, 30 Jul 2020 14:00 WIB
Tiga Kekhawatiran Penerapan New Normal di Pesantren
Jakarta -

Seorang karib lama yang kebetulan menjadi pengajar (ustaz) di salah satu pesantren di Jombang menghubungi saya beberapa hari lalu. Ia bertanya, apa yang harus diperbuat setelah mendapat teguran dari Gugus Tugas Covid-19 dan Dinas Kesehatan untuk menghentikan kegiatan sekolah di pesantren.

Dengan nada agak jengkel ia berkeluh kesah bahwa protokol kesehatan telah diterapkan, namun masih saja mendapat teguran itu. Alhasil, terbersit pikiran negatif (suudzon) di benaknya dan sebagian pengasuh bahwa segala perihal Covid-19 ini tidak lebih sebagai permainan konspiratif saja.

Agak sulit bagi saya untuk menjelaskan bagaimana kita seharusnya menyikapi Covid-19 ini. Syukurlah, penjelasan saya bisa diterima, setidaknya dari kesan yang saya tangkap. Namun demikian, secara implisit kejadian itu menggambarkan bahwa fenomena penyikapan terhadap Covid-19 di dunia pesantren agaknya masih membutuhkan sosialisasi yang lebih mengena alih-alih yang sudah berjalan selama ini.

Konstruksi Naratif

Pemerintah melalui Kementerian Agama memang telah menyampaikan protokol kesehatan bagi dunia pesantren sekitar sebulan lalu. Sebagian pesantren, khususnya di Jawa Timur pun telah memulai secara bertahap aktivitas pendidikan di lingkungannya.

Kendati demikian, sebagian pesantren justru menemui masalah berupa munculnya kluster baru penularan Covid-19. Setidaknya ada enam kluster baru penyebaran Covid-19, sebagaimana disampaikan oleh Wakil Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Masduki Baidlowi (detikcom, 14/7).

Di samping fenomena pandemi Covid-19 berikut langkah-langkah untuk menghadapinya ini merupakan ihwal baru khususnya di dunia pesantren, narasi yang terbentuk selama ini masih cenderung berkutat hanya pada problem kesehatan dan ekonomi. Sangat sedikit kadar narasi yang mampu merambah ke dalam dimensi kultural, keagamaan maupun spiritual dengan memasukkan dalil-dalil tekstual (naqli) maupun interpretatif ('aqli).

Narasi yang semula berkembang di kalangan santri berupa pemikiran yang fatalis, yakni hidup dan mati sudah ditentukan oleh Yang Maha Kuasa, kini agak berbelok menjadi konspiratif, yakni permainan para elite, khususnya di dunia medis, ekonomi, maupun politik. Mirisnya, sebagian pandangan konspiratif itu dicurigai mengarah pada pelemahan pesantren. Di sisi lain, pandangan fatalis pun masih berkembang hingga saat ini.

Diskursus perang melawan Covid-19 maupun kebiasaan normal baru yang digencarkan oleh pemerintah dan media selama ini masih perlu dimodifikasi sedemikian rupa sesuai dunia pesantren. Misalnya, menghidup-hidupkan kembali kisah Khalifah Umar bin Khattab dalam menghindari wabah kolera ketika hendak berkunjung ke negeri Syam, menggencarkan kaidah fikih perihal menolak kerusakan lebih utama dibanding mengupayakan kemaslahatan, dan sebagainya.

Pelibatan kiai-kiai di lingkup lokal juga tak kalah penting mengingat sebagian masyarakat pesantren masih melihat siapa yang menyampaikan ketimbang apa yang disampaikan.

Narasi bahwa pandemi Covid-19 merupakan buah konspirasi global yang melibatkan negara-negara adidaya, perusahaan-perusahaan digital maupun farmasi hingga elite-elite dari level global memang sah-sah saja untuk dipercaya walaupun sulit dibuktikan. Karena harus diakui bahwa fenomena Covid-19 dalam perkembangannya memang banyak ditunggangi oleh beragam kepentingan, tidak melulu soal kesehatan dan ekonomi.

Namun lebih penting dari itu adalah pengetahuan bahwa keberadaan Covid-19 itu nyata dan bukan sekadar dongeng. Bahwa risiko penyakit Covid-19 itu lebih cepat menular sekaligus potensial menaikkan angka kematian, apalagi di lingkungan yang tingkat kolektivitasnya tinggi seperti pesantren. Oleh karenanya, pelibatan para kiai di pesantren, sekali lagi, sangatlah penting, berikut modifikasi-modifikasi naratif yang lebih selaras dengan kehidupan santri.

Keteladanan Sikap

Tantangan berikutnya, bagaimana konstruksi narasi yang kompatibel dengan dunia pesantren itu bisa bertransformasi menjadi perilaku keseharian di lingkungan pesantren. Narasi berperang melawan Covid-19 tidak akan begitu efektif manakala hanya berhenti pada level informasi dan pengetahuan saja. Melainkan urgen kiranya mengobjektifikasi narasi tersebut ke dalam sikap dan perilaku. Di sini, lagi-lagi ulama dan kyai di pesantren menjadi subjek vital.

Sebagian kiai besar sudah mencontohkan bagaimana protokol kesehatan dilakukan dalam aktivitas belajar maupun pengajian di pesantren. Video KH Mustofa Bisri (Gus Mus) yang viral mengimbau kepada para dokter NU untuk ikut berdakwah kepada masyarakat, khususnya warga NU termasuk para kiai, bahwa virus corona bukanlah abal-abal melainkan nyata. Bahwa ikhtiar itu wajib, tidak semata berserah kepada takdir.

Begitupun KH Miftachul Akhyar, Rais Aam PBNU maupun KH Anwar Manshur, sesepuh Pesantren Lirboyo yang sudah terbiasa mengenakan masker dan pelindung wajah dalam berbagai aktivitas. Dan masih banyak lagi para kiai yang sudah memberi teladan untuk mentaati protokol kesehatan.

Dengan kata lain, para kiai yang tingkat keilmuan dan spiritualitasnya sudah sangat tinggi saja menyadari bahaya virus corona dengan menjalankan protokol kesehatan dalam aktivitas sehari-hari. Maka, sudah seharusnya para kiai maupun santri juga menerapkan itu dalam kehidupan pesantren. Karena keberadaan virus yang nyata itu tidak kasat mata, sehingga memerlukan kewaspadaan dan kehati-hatian yang ekstra.

Terakhir, mencurigai bahwa penanganan Covid-19 ini hanya akan melemahkan pesantren justru secara tidak langsung akan mencelakakan pesantren sendiri manakala yang mengemuka adalah sikap antipati terhadap protokol kesehatan karena pikiran konspiratif yang kurang berdasar tersebut.

Percaya kepada teori konspirasi Covid-19 bukanlah sesuatu yang haram hukumnya. Namun mengingkari kenyataan bahwa Covid-19 nyata adanya dan cepat menular kiranya dapat menjadi haram manakala justru berdampak pada kerusakan yang lebih besar dibanding kemanfaatannya, khususnya dalam hubungan antarsesama manusia, lebih khusus bagi kehidupan di pesantren itu sendiri.

Fahrul Muzaqqi Koordinator Bidang Kajian Isu Strategis di Lembaga Kajian dan Pengembangan SDM (Lakpesdam) PWNU Jawa Timur

(mmu/mmu)