Kolom

Keteraturan dalam Kondisi "Chaos" Pembelajaran Online

Tundung Memolo - detikNews
Kamis, 30 Jul 2020 12:38 WIB
Anak-anak belajar di Aula Kelurahan Jati Rahayu, Kota Bekasi, Jawa Barat, Rabu (29/7/2020). Pihak kelurahan menyediakan fasilitas ruang belajar ber-AC dan wifi gratis bagi siswa. Tujuannya untuk membantu siswa yang selama ini sulit memenuhi paket kuota internet untuk belajar sekolah.
Foto: Agung Pambudhy
Jakarta -
Pemerintah telah menetapkan pembelajaran online di sebagian besar wilayah Indonesia. Tatap muka langsung ditiadakan dan diganti dengan tatap muka virtual baik melalui Google Meet, Microsoft 365, Webex, ataupun Zoom.

Meskipun praktik tatap muka virtual tersebut belum menjangkau sebagian besarnya, terutama pada jenjang SMP ke bawah, mau tidak mau, suka tidak suka, guru beralih pembelajaran dari mayoritas luring menjadi mayoritas daring. Yaitu, belajar dari rumah baik dengan tatap muka virtual ataupun penugasan.

Bagi sebagian guru yang kurang menyukai terintegrasinya pembelajaran berbasis IT, maka pembelajaran online menjadi salah satu hal yang menakutkan. Karena mereka berinteraksi dengan sesuatu yang baru, yaitu sesuatu yang belum pernah dilakukan selama ini. Sehingga terjadi kegagapan dalam teknologi.

Hambatan
Pelaksanaan pembelajaran online yang sudah berlangsung beberapa bulan ini menyisakan beberapa hambatan. Setidaknya ada lima aspek yaitu dari sisi guru, siswa, sarana prasarana, pola interaksi, dan sosial budaya masyarakat. Kendala pada kelima aspek tersebut telah menimbulkan sebuah ketidakteraturan (chaos) pelaksanaan pembelajaran.

Idealnya dalam pembelajaran agar didapatkan sebuah output yang maksimal dari sebuah proses manakala kelima aspek tadi dapat bernilai sempurna. Jika tidak mau dikatakan sempurna, bolehlah dikatakan semaksimal mungkin, meskipun dalam kenyataannya tidak akan bisa dijumpai kondisi ideal tersebut. Artinya, kondisi yang ideal atau teratur merupakan sesuatu yang nisbi.

Keteraturan tadi hanyalah bersifat sebuah cita-cita. Namun stakeholder pendidikan terus mengupayakan kondisi ideal tersebut. Kondisi yang tidak ideal tadi sering dianggap sebagai sesuatu yang teratur oleh guru yang nyaman manakala bisa bertatap muka langsung dengan siswa sekalipun tanpa menggunakan sarana pendukung teknologi. Inilah keteraturan bermakna sempit.

Keidealan dari sebuah keteraturan seringkali dimaknai sesuatu yang sempit, yaitu tatap muka langsung. Oleh karenanya, ketika tidak mungkin terjadinya tatap muka langsung tersebut, maka dikatakanlah kondisi yang chaos (tidak teratur).

Padahal ketika sebuah keteraturan bermakna luas didefinisikan sebagai kondisi yang ideal dengan maksimalnya kelima aspek tersebut, maka satu saja aspek yang tidak bisa maksimal, maka sebenarnya sudah terjadi chaos. Berarti ada masalah dalam proses yang berakibat output proses pembelajaran tidak maksimal. Maka dengan definisi demikian, kondisi yang dialami sebelum pandemi pun bisa dikatakan chaos.

Mendekati Keteraturan
Terlepas dari makna chaos, muncul pertanyaan, mampukah proses pembelajaran dalam kondisi chaos ini dimaksimalkan sehingga mampu mendekati sebuah keteraturan? Jawabnya, bukan suatu yang mustahil. Karena kondisi guru mampu tatap muka dengan siswa, guru merasa nyaman meski tanpa sarana prasarana yang mendukung, guru tersebut menganggap sebagai kondisi teratur, maka sangat mungkin menciptakan sebuah proses pembelajaran online di masa pandemi ini menjadi sebuah keteraturan.

Dalam teori chaos seringkali dikenal dengan suatu perubahan. Perubahan ini merupakan nilai awal. Sekecil apapun perubahan, maka dampaknya akan terlihat di kemudian hari. Gerak meriam, gerak jatuh bebas, atau gerak lurus berubah beraturan suatu benda erat kaitannya dengan kecepatan awal. Fungsi rekursif dalam matematika dipengaruhi oleh nilai awal. Ketika beberapa fungsi yang memiliki nilai awal berbeda sekalipun sedikit, maka hasil nilai suatu fungsi kesekian akan berubah.

Nilai awal tadi sekalipun sangat kecil akan berdampak. Konsep inilah yang menjadikan jangan sampai meremehkan sebuah perubahan sekecil apapun. Perubahan tersebut perlu diyakini sebagai sesuatu yang berdampak. Dampak yang diharapkan adalah sebuah keteraturan, yaitu kondisi ideal sebuah proses pembelajaran.

Lalu bagaimana mendapatkan nilai awal tersebut? Sebenarnya, dengan guru bersama siswa melakukan pembelajaran online dengan maksimal sekalipun tanpa tatap muka, maka sejatinya telah memberikan perubahan. Barangkali perubahan ini belum terlihat dalam kondisi saat ini, tapi ke depan akan terlihat.

Mari kita lihat dampak yang bisa dirasakan. Guru yang tadinya memegang HP hanya sebagai alat komunikasi semata, sekarang mulai menggunakan untuk memberikan penugasan via WA. Guru yang memiliki laptop sudah mengenal beberapa aplikasi terkait tentang pembelajaran. Webinar bertebaran dan guru berjubel mendaftar. Siswa mulai beradaptasi belajar mandiri dengan membuka berbagai link yang dibagikan guru.

Dari sisi pola interaksi, terlihat siswa mulai berani bertanya kepada gurunya untuk membimbing menyelesaikan masalah dalam materi pelajaran. Dalam aspek sarana-prasarana, beberapa sekolah memberikan fasilitas pulsa internet kepada guru dan siswa. Komputer mulai terhubung dengan jaringan internet. Sharing ilmu dan informasi begitu mudahnya terlihat.

Dari aspek sosial budaya masyarakat, sudah mulai terjalin komunikasi antara orangtua dengan siswa, antara aparat desa dengan pihak sekolah, bahkan pemerintah setempat memfasilitasi webinar secara online. Inilah yang bisa kita lihat dan rasakan. Bahwa kesenjangan pendidikan sudah tidak terlalu terlihat mencolok lagi antara pendidikan di kota dengan di desa. Meskipun masih dijumpai fasilitas internet di suatu wilayah yang tidak mendukung, tapi lambat laun akan segera diatasi.

Tanpa sadar justru kelima aspek kondisi ideal sebuah proses pembelajaran dapat terjalin pada masa pandemik ini. Sekalipun belum bisa maksimal, namun perubahan-perubahan kecil tersebut mulai nyata terlihat. Sudah banyak guru yang menjadi youtuber konten pendidikan. Siswa pun mulai berani tampil di hadapan kamera saat presentasi. Terjalinnya guru dengan almamater universitas. Ini menjadi bukti otentik bahwa keteraturan bisa diciptakan dalam kondisi chaos sekarang ini.

Selanjutnya, pemerintah perlu memberikan apresiasi terhadap perubahan-perubahan ini. Fokuskan pada pendirian tower internet, kuota murah bagi siswa dan guru, serta pelayanan kemudahan dalam fasilitas webinar. Perlu diciptakan pula televisi yang berbasis pendidikan yang mampu menjangkau seluruh wilayah yang dibarengi dengan konten berkualitas.
Tundung Memolo, M.Sc pengajar SMPN 3 Kepil, Wonosobo, Jawa Tengah

(mmu/mmu)