Kolom

Partisipasi Masyarakat dan Intuisi Calon Kepala Daerah

Imam Suhaimi - detikNews
Rabu, 29 Jul 2020 11:30 WIB
Imam Suhaimi
Jakarta -

Pada 6 Desember 2020 mendatang, sebanyak 270 daerah baik kota, kabupaten, dan provinsi di seluruh Indonesia akan melaksanakan pilkada serentak. Meskipun mengalami penundaan karena Covid-19, pemerintah dan Komisi Pemilihan Umum berkeyakinan bahwa pilkada serentak tidak akan mengalami pergeseran atau penundaan kembali.

Pemilihan kepala daerah merupakan ajang kontestasi politik untuk memilih pemimpin bagi daerahnya masing-masing. Namun, pada 2020 ini masyarakat masih lebih "tertarik" membicarakan Covid-19 dibandingkan pilkada. Hal ini juga menjadi kekhawatiran tersendiri bagi para pegiat demokrasi dan pemerintah akan partisipasi masyarakat pada saat pemilihan nanti. Untuk itu perlu intuisi para calon pemimpin dan pemerintah dalam mengajak masyarakat untuk berpartisipasi pada pilkada.

Meminjam istilah Presiden Joko Widodo yang mengajak para menterinya untuk "jangan bekerja yang biasa-biasa saja" pada saat pandemi ini, para calon pemimpin daerah yang akan bertarung seharusnya membuat program kampanye yang tidak biasa-biasa saja.

Intuisi pemimpin merupakan kemampuan seorang pemimpin dalam memutuskan atau melakukan tindakan di luar rasional dan intelektualitas. Keseimbangan kesehatan psikis seorang pemimpin akan mendorongnya untuk berpikir dan menciptakan ide-ide di luar rasional pada umumnya. Kaitannya dengan pilkada, kemampuan seorang calon untuk menggaet pemilih tidak hanya ditentukan melalui kampanye rutinitas yang biasa-biasa saja.

Belajar dari Pilkada 2012 dan 2017 DKI Jakarta, partisipasi masyarakat mencapai yang tertinggi dalam sejarah Pilkada DKI. Partisipasi saat Pilkada DKI 2012 mencapai 77%. Pada 2012, masyarakat Indonesia mengenal Joko Widodo atau Jokowi sebagai Wali Kota Solo yang memiliki intuisi dibanding pemimpin yang lainnya.

Pada saat itu Joko Widodo sering melakukan hal-hal di luar kebiasaan para pemimpin yang lain, misalnya tiba-tiba melakukan blusukan seperti masuk ke gorong-gorong, hal tersebut memunculkan persepsi dari masyarakat sebagai "pemimpin merakyat". Sedangkan pada saat Pilkada 2017, isu keagamaan menjadi dorongan kuat bagi masyarakat untuk berpartisipasi pada pilkada yang dimanfaatkan oleh beberapa calon kepala daerah dalam membuat janji politiknya.

Kemampuan intuisi calon kepala daerah, baik sebelum dan setelah memenangkan pilkada memberikan pengaruh pada tingkat keberhasilannya. Jika intuisinya kuat, maka sebelum pilkada atau pada masa-masa kampanye, calon kepala daerah tersebut akan mampu menarik simpati masyarakat untuk memilihnya, bahkan mampu memicu ketertarikan bagi masyarakat yang sebelumnya acuh tak acuh dan berpotensi golput untuk ikut memilih --karena rasa ketertarikannya terhadap calon kepala daerah yang dianggap beda dengan yang lainnya atau yang sudah ada. Dengan kata lain akan meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pilkada.

Jika calon tersebut memenangkan kontestasi pilkada dan terpilih, kemampuan intuisi tersebut akan berdampak positif terhadap rakyatnya. Bahkan pada saat pandemi seperti sekarang ini, seharusnya tidak ada suasana presiden "marah-marah" kepada menterinya jika para menterinya mampu melakukan hal-hal yang tepat di luar kebiasaan pada umumnya. Atau, rakyat tidak akan disuguhi ketidaksinkronan antara kepala daerah mengenai silang pendapat dan perbedaan kebijakan dalam menghadapi dan menangani pandemi Covid-19 seperti yang terjadi di Jawa Timur. Masyarakat pasti masih ingat bagaimana waktu itu Wali Kota Surabaya dan Gubernur Jawa Timur mengalami disharmonisasi dalam penanganan covid-19.

Beberapa penelitian menyebutkan bahwa intuisi sebenarnya muncul pada orang-orang yang sudah terlatih dan berpengalaman. Intuisi tidak akan muncul bagi orang yang terlalu banyak pertimbangan. Semakin terlatih dan berpengalaman, maka alam bawah sadar seseorang dapat menyimpan banyak ide besar dan akan secara serta merta keluar dengan cepat saat dibutuhkan.

Tanpa menyangsikan kemampuan calon kepala daerah pendatang baru, kepala daerah yang memiliki pengalaman biasanya akan lebih cepat memutuskan dan mengeluarkan kebijakan pada saat-saat sulit sekalipun. Alam bawah sadar mereka yang sudah berpengalaman menyimpan memori yang siap untuk dikeluarkan sewaktu-waktu jika diperlukan dengan cepat.

Bagaimana dengan Pilkada 2020 ini? Ada yang menarik memang; secara popularitas bukan pendatang baru, namun secara kualitas masih belum teruji. Sebut saja Gibran Rakabuming di Pilkada Solo, Jawa Tengah. Masyarakat umumnya mengenalnya tidak lain adalah putra Presiden Joko Widodo. Namun, bagaimana kemampuan intuisinya? Kita nantikan saja.

Begitu pula para calon kepala daerah yang lain, terutama pendatang baru, apakah mereka akan menggunakan kemampuan intuisinya yang telah mereka bentuk sebelum mencalonkan, atau baru akan melatih saat menjabat? Tentukan pilihan, dan gunakan intuisi Anda dalam memilih!

Imam Suhaimi Rektor Universitas Kahuripan Kediri

(mmu/mmu)