Sentilan Iqbal Aji Daryono

Trauma Kumis Komunis

Iqbal Aji Daryono - detikNews
Selasa, 28 Jul 2020 17:40 WIB
Kolomnis - Iqbal Aji Daryono (Ilustrator: Edi Wahyono/detikcom)
Iqbal Aji Daryono (Ilustrasi: Edi Wahyono)
Jakarta -

Kumis itu tampak di mata saya sebagai kumis biasa. Tebal, dengan serabut besar-besar, didominasi warna hitam, beda dengan rambut di kepala pemiliknya yang terlihat lebih banyak abu-abu daripada hitamnya. Dengan ciri seperti itu, di mata saya ia sama belaka dengan kumis yang sering saya lihat entah di film mana, atau entah di tayangan dokumenter apa. Tak ada yang istimewa.

Namun, pemilik kumis itu, duta besar Amerika Serikat untuk Korea Selatan, mendapat kecaman dari para politisi dan aktivis di Negeri Paman Kim So Hyun. Menurut para aktivis, kumis Pak Dubes tersebut mengingatkan orang kepada kumis para pejabat Jepang di era penjajahan atas Korea 1910-1945. Hahaha!

***

Rasanya wajar saja saya tertawa membaca berita yang melintas di layar hape saya itu. Apa-apaan ini? Gitu aja kok marah. Bagaimana bisa orang trauma kepada kumis? Orang Korea, pula. Orang-orang dari negeri keren yang produk gawai mereka kita santap dengan rakus, yang produk drakor mereka membuat para ibu membuang waktu entah berapa ribu jam dalam hidup mereka, yang belakangan garlic cheese bread mereka menyusul pula dalam invasi kebudayaan tanpa tanggung-tanggung, ternyata takut sama kumis!

Tiba di detik itu, saya merasa bahwa kita satu level lebih keren dibanding orang Korea. Sebab seingat saya kita tak pernah merasa ketakutan apalagi marah melihat orang berkumis ala para petinggi kolonial Belanda, misalnya.

Barusan saya googling, ketemu gambar salah satu tokoh kolonial yang kumisnya paling atraktif yakni Murjangkung alias JP Coen, dan kumisnya itu malah mengingatkan saya kepada kumis tokoh Darsam dalam film Bumi Manusia karya Hanung Bramantyo. Nah, kenapa waktu film itu ditayangkan tidak ada protes keras dari ormas misalnya, dengan alasan bahwa Hanung mengangkat lagi simbol-simbol penjajahan?

Oke, mungkin urusannya bukan cuma kumis. Jadi mari kita tengok simbol-simbol lain. Kita pernah juga dijajah Jepang, dan masa penjajahan Jepang adalah masa yang pada banyak sisi jauh lebih perih dibanding masa Belanda.

"Dulu pas zaman Jepang tiap pagi aku ke sungai, nyuci kain goni yang kujadikan baju, sambil mukuli goni itu pakai kayu. Kutunya banyak sekali. Kadang kami punya duit, tapi nggak ada barang yang bisa dibeli. Makan saja susah. Aku dulu makan bonggol gedhang, pangkal batang pisang, karena memang tidak ada yang bisa dimakan."

Itu tadi cerita dari mendiang kakek saya tentang zaman Jepang. Sengsara sekali. Belum lagi cerita lain tentang romusha, jugun ianfu, juga Kenpeitai dan kebengisannya. Kurang traumatik gimana, coba? Tapi seberapa kita trauma melihat simbol-simbol Jepang? Bahkan kakek saya yang mengalami langsung bagaimana rasanya memukuli kain goni untuk membunuhi kutu-kutu itu tenang saja ketika tahu cucu laki-lakinya ini kuliah Sastra Jepang, punya buku referensi dengan lambang bendera Jepang, padahal semua itu semestinya membuat dia teringat akan zaman Jepang.

Namun, tawa saya yang mengejek orang-orang Korea itu tak berlangsung lama. Sebab ketika merenung-renungkan soal kumis, lekas saya teringat peristiwa belasan tahun silam, ketika sahabat saya orang Belanda bernama Berbel datang ke Jogja bersama ibunya. Saya dan teman saya Bambang menemuinya, lalu di tengah percakapan Bambang menceritakan lelucon kecil bahwa dia pernah menggambar kumis Hitler. Alih-alih ikut tertawa, wajah ibu Berbel langsung tampak benci setengah mati mendengarnya.

Saya akhirnya paham, kumis memang bisa membuat orang trauma. Barangkali itulah kenapa saya tidak pernah mendengar cerita pelawak (alm) Asmuni jalan-jalan ke Amsterdam sambil memamerkan kumisnya yang sama belaka dengan kumis Hitler itu. Sama juga, saya tak pernah mendengar kalau Adam Suseno suaminya Mbak Inul melawat ke Baghdad, sebab bisa-bisa kumis Mas Adam menguak luka lama rakyat Irak yang terkenang kembali masa kediktatoran Saddam Hussein.

***

Kalau Anda mengira saya sedang berbicara tentang kumis, Anda keliru. Saya sedang bicara tentang trauma, dan trauma itu bersifat sangat subjektif.

Penjajahan Jepang adalah masa yang sangat pahit bagi Korea, dan itu menjadi salah satu bahan bakar utama untuk terus menyalakan dendam dan perkelahian diam-diam di antara kedua bangsa itu. Dulu waktu kuliah saya mendengar berita bahwa orang Korea protes keras begitu tahu bahwa di buku pelajaran sejarah untuk anak-anak Jepang tidak digambarkan mengenai penjajahan Korea dan kejahatan seksual balatentara Jepang.

Kemarin saya membaca satu buku Jarred Diamond, dan memahami bahwa masa pertukaran budaya kuno antara Jepang dan Korea pada tahun 300-700 Masehi dimaknai oleh orang Jepang sebagai penaklukan Jepang atas Korea, tapi ditafsir oleh orang Korea sebagai penaklukan Korea atas Jepang.

Mereka memang berseteru, perseteruan itu pernah diiringi tumpasnya ribuan nyawa, itu semua membangun trauma, dan yang namanya trauma seringkali tak dapat dipahami oleh siapa pun di luar si penderita trauma. Tak bedanya istri saya yang menjerit melihat cicak di hadapannya, dan jeritan itu sungguh tak dapat dipahami oleh suaminya, sementara si suami selalu dengan panik melompat ke atas meja kalau ada tikus melintas di dekat kakinya.

Maka, saya memilih tak lagi melanjutkan tawa saya, karena toh Pak Dubes Amerika akhirnya memutuskan mencukur kumisnya. Saya lebih suka melanjutkan lamunan saya dengan melihat trauma kita sendiri.

Karena perjalanan sejarah dan perjalanan pembentukan persepsi aneka warna, kita memang lebih trauma melihat satu hal lain daripada melihat potongan rambut ala Daendels atau bulatan merah ala bendera Hinomaru. Anda pasti langsung paham bahwa hal lain yang saya sebut itu adalah simbol palu arit.

Makanya, setiap kali palu arit muncul, kita ribut setengah mati. Beberapa hari yang lalu palu arit muncul di tengah jalan di Kota Bogor, bulan sebelumnya nongol di produk sepatu di Sukabumi, bulan sebelumnya lagi di Makassar, dan semua kabar itu membikin orang panik tidak keruan.

"Halah cuma gambar palu arit, lho! Apanya yang bikin takut? Komunis sudah mati!"

Tunggu, tunggu. Bahwa itu cuma gambar, ya memang. Tapi yang sedang dihadapi adalah publik awam, dan publik awam itu punya trauma sesuai porsi mereka. Mengandaikan bahwa semua orang mau dan mampu mencerna segala hal secara rasional itu arogan dan naif, senaif Anda ketika tertawa saat melihat orang Bantul pucat pasi mendengar suara getaran tanah karena truk besar melintas, sebab getaran itu pasti dikira gempa.

***

Tapi lagi-lagi jangan salah paham. Saya pun tidak sedang mengatakan bahwa palu arit itu benar-benar bermakna munculnya 15 juta anggota PKI yang sampai sekarang tidak jelas juntrungan kabarnya. Saya cuma mau bilang bahwa yang namanya trauma bukan perkara objektif, ketakutan irasional itu sungguh-sungguh ada, dan rasa ngeri massal di luar nalar sangat mudah dimanfaatkan untuk tujuan rupa-rupa. Itu saja.

Maka ingatlah bahwa sebentar lagi akan datang pilkada, Sodara. Siapkan diri, palu arit akan bermunculan lagi. Sebab berdagang dengan modal ketakutan itu murah, mudah, dan cepat lakunya.

Iqbal Aji Daryono esais, tinggal di Bantul

(mmu/mmu)