Kolom

Masker dan Solidaritas di Masa Pandemi

Haryo Kunto Wibisono - detikNews
Senin, 27 Jul 2020 16:07 WIB
Kasus Corona di Melbourne Masih Tinggi, Masker Wajib Pakai dengan Denda Rp2 juta
Foto: ABC Australia
Jakarta -

Kata kunci disiplin berulangkali diucapkan oleh aparatur negara saat mereka mengumumkan masyarakat Indonesia akan memasuki tahap new normal --belakangan "dikoreksi" menjadi adaptasi kebiasaan baru. Para aparatur negara mengeluhkan ketidakdisiplinan warga dalam mengenakan masker dan menjaga jarak, meskipun PSBB sudah diberlakukan sejak pertengahan April 2020 dan sejumlah protokol kesehatan dikampanyekan melalui berbagai saluran media.

Kita bisa melihat dalam beberapa insiden kecil yang beredar di kanal Youtube saat aparat keamanan bersitegang dengan warga yang menolak untuk memakai masker. Tidak jarang netizen dibuat marah akibat ulah para kerumunan warga yang seenaknya tidak memakai masker di ruang publik tidak menjaga jarak, terlebih pada saat PSBB. Perasaan sia-sia setelah berbulan-bulan tinggal di rumah, tagar "indonesiaterserah" dari petugas medis adalah ekspresi dari disepelekannya protokol kesehatan.

Ketakutan pada pandemi ini sangat berbeda dengan jenis ketakutan pada anomali hubungan manusia dengan alam, misalnya banjir atau gunung meletus. Warga bisa melihat wujud bencana alam dari kenampakan alam yang berlangsung tidak wajar dan bisa menghindarinya dengan semakin menjauh dari pusat bencana.

Namun pandemi, ia berupa kabar berita, gosip dan rumor tentang orang yang terkena penyakit misterius setelah batuk, demam, dan sesak napas, informasi dari jubir Covid-19 tentang perkembangan mereka yang positif, sembuh dan meninggal, ruang publik yang dipasangi peringatan untuk memakai masker dan kewajiban cuci tangan, dan aparat keamanan yang bersiaga untuk memastikan diterapkannya protokol kesehatan.

Mobilisasi Protokol Kesehatan

New normal bagi sejumlah ahli epidemiologi dianggap sesuatu yang terburu-buru, sebab Indonesia belum menunjukkan kapabilitasnya dalam mengendalikan Covid-19. Di beberapa daerah masih terjadi peningkatan jumlah penderita, serta beberapa kejadian warga masih mengabaikan protokol jaga jarak dan berdesak-desakan di ruang publik. Namun, hal ini tidak bisa dilihat sebagai warga yang tidak disiplin semata. Kebutuhan ekonomi yang mendesak bagi mereka yang harus bekerja dari luar rumah.

Pun begitu, sedari awal Indonesia sudah merespons datangnya pandemi dengan menyatakan tidak perlu panik, tidak perlu memakai masker, dan pemerintah menganggap bahwa tubuh bangsa Indonesia tidak mungkin terkena Covid-19. Indonesia merasa paling percaya diri dengan pengalamannya saat mengatasi flu burung. Flu burung saat itu banyak dikampanyekan sebagai bagian konspirasi asing untuk menghancurkan peternak lokal.

Cara pemerintah dalam menangani Covid-19 dihadapkan pada skenario membanjirnya pasien di rumah sakit, keterbatasan infrastruktur kesehatan, tidak meratanya jumlah tenaga kesehatan yang berpusat di kota-kota besar. Seperti yang dikatakan oleh Koordinator Relawan Gugus Tugas Covid-19 Andre Rahadian, Indonesia membutuhkan tambahan 1.500 dokter dan 2.500 perawat dalam menghadapi pandemi.

Jika jumlah penduduk Indonesia sebanyak 265 juta jiwa, maka rasionya sebesar 0,4 per 1.000 populasi. Hal ini menunjukkan, hanya terdapat empat dokter untuk melayani 10 ribu penduduk. Rasio ini jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan Korea Selatan, Tiongkok, dan Malaysia yang memiliki dua dokter untuk menangani 1.000 penduduknya.

Di sisi lain, negara ingin memberikan satu istilah bagi tertib moral baru setelah ikatan solidaritas warga dikejutkan akibat datangnya pandemi. Negara ingin agar warga mulai memikirkan ulang apa itu kerumunan, keakraban dengan kontak fisik seperti bersalaman dan berpelukan, serta membiasakan pemakaian benda material medis seperti masker dan hand sanitizer dalam keseharian.

Oleh sebab itu maka tidak mengherankan jika aparatur negara membuat term baru yang cukup ganjil yaitu "kenormalan baru" dengan menjalankan kehidupan sehari-hari dengan protokol kesehatan agar mencegah penyebaran Covid-19.

Pengkondisian new normal ini dicirikan dengan mobilisasi protokol kesehatan yang melibatkan banyak kampanye media massa, masifikasi berpikir positif, penggunaan influencer, yang menggarisbawahi tubuh warga dalam selalu kondisi yang waspada, adaptif, dan selalu memiliki preparedness/kesiapan saat kemudian terjadi gelombang kedua.

Di berbagai titik RT/RW, juga dipasang spanduk kawasan wajib memakai masker sebagai bukti kesiapan warga dalam menangani wabah Covid-19. Hal ini bagi warga adalah langkah pencegahan paling realistis daripada harus menambah beban tenaga medis di frontline. Meskipun kampanye ini memiliki bias kelas sosial sebab mengabaikan kenyataan warga yang hidup di kawasan permukiman kumuh.

Di samping itu, barang-barang medis seperti masker di Indonesia memang bukanlah barang yang biasa dipakai dalam keseharian. Bagi warga sipil, hanya beberapa dari mereka yang menggunakan masker seperti saat bepergian dalam keadaan tidak fit apalagi jika si orang menggunakan commuter line, menghindari dari debu yang beterbangan terutama bagi pengendara kendaraan bermotor, saat bencana alam gunung berapi untuk mengantisipasi masuknya debu vulkanik ke saluran pernapasan.

Penanda Solidaritas

Studi yang dilakukan antropolog Christos Lynteris (2018, 443) menjelaskan bahwa di Asia penggunaan masker medis baru dipakai saat bubonic plague Manchuria pada 1910. Masker yang diciptakan oleh dokter Wu Lien-teh adalah penanda dari subjek hygiene modernity serta masuknya manusia ke zaman ilmu pengetahuan untuk meninggalkan alam tradisional/mistisme.

Pada saat ditemukannya masker medis ciptaan Dr.Wu Lien-teh awal abad ke-20 di Manchuria, seorang petugas medis yang memakai masker akan dianggap seperti orang yang memiliki benda berkekuatan mujarab, sebab masker tersebut harus distempel oleh lembaga religi, dan carbolic acid yang biasa dipakai dalam upacara pengusiran roh jahat penyebab wabah penyakit (Lynteris dan Polykett, 2018).

Negara RRC, Hong Kong, Taiwan, Jepang, dan Korea Selatan biasa menggunakan masker selepas pengalaman pandemi SARS 2003, flu burung 2006; belum lagi persoalan kualitas udara di wilayah tersebut. Mask culture bagi masyarakat Asia Timur menurut sosiolog Peter Baehr (2005) adalah penanda dari kewajiban sosial untuk melindungi entitas warga yang lebih luas.

Memakai masker akan mengaktivasi perasaan senasib dalam communities of fate, yaitu komunitas disatukan oleh kesamaan marabahaya dan rasa takut yang akan mengancam eksistensi manusia.

Memasuki masa new normal, kehadiran masker bukan lagi sekadar menjadi alat untuk melindungi diri saat wabah pandemik yang masih belum diketahui kapan berakhirnya. Masker menjadi penanda solidaritas warga sekaligus bagian protokolisasi keseharian. Warga dibiasakan untuk merengkuh sehari-hari ketidakpastian. Ketidakpastian kapan berakhirnya pandemik, angka positif Covid 19 yang semakin bertambah, vaksin yang belum ditemukan, gelombang PHK, histeria media massa, banjir informasi, dan teori konspirasi. Artinya, yang bisa diharapkan dari ketidakpastian ini adalah individu yang disiplin serta komunitas warga yang saling topang satu sama lain.

Ketakutan akan sesuatu yang tidak kasat mata seperti virus, wabah, penyakit dialihkan kepada ketidakpastian ekonomi yang berarti warga diharapkan memulai kegiatannya sedia kala, namun dengan protokol kesehatan yang ketat. New normal bisa ditafsirkan sebagai mewajarkan sesuatu yang tidak pasti.

Masker adalah simbol "normal yang baru", saat warga diberikan tanggung jawab atas kesehatannya masing-masing dan meletakkan keselamatannya sebagai cara untuk berkontribusi pada masyarakat yang lebih luas. Bersikap empati dan solidaritas sesama bukan lagi sekadar membantu warga terdampak pandemi, entah lewat kegiatan sosial atau donasi, namun kepada bagaimana kita bersikap yang layak (behave) di masa pandemi, salah satunya wajib menggunakan masker.

Haryo Kunto Wibisono peminat kajian antropologi

(mmu/mmu)