Kolom

Stigma Jangan Mengalahkan Fakta

Xavier Quentin Pranata - detikNews
Senin, 27 Jul 2020 14:10 WIB
Virus corona: Mungkinkah kita tertular virus corona dari jenazah pasien Covid-19?
Foto: BBC Magazine
Jakarta -

Ajukan Izin agar Bisa Pindahkan Makam Ayah: Upaya Keluarga Mendiang Erwan Siswoyo Melawan Stigma Covid-19. Begitu judul berita yang saya baca di koran (Jawa Pos, 23/7). Karena sang ayah wafat dengan status DOA (death on arrival) alias meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit, pemakamannya dilakukan dengan protokol Covid-19. Meskipun saat dites sehari sebelumnya hasilnya tidak reaktif terhadap virus korona, masyarakat sekitar telanjur memberikan stigma negatif bagi keluarga ini.

Bukan hanya tetangga, para karyawan pun mengalami tekanan mental. Ada yang tidak berani masuk kerja. Tetangga tidak mau datang. Demikian juga dengan pelanggan usaha percetakan miliknya. Itulah sebabnya sang anak berupaya memindahkan makam sang ayah agar stigma itu menghilang.

Bukan Akhir Perundungan

Perundungan, khususnya di Indonesia, masih begitu marak. Dampaknya bukan saja menimpa anak remaja, tetapi juga orang dewasa. Dari waktu ke waktu, stigma memang mematikan. Orang-orang Barat yang mendapat cap sebagai tukang sihir bisa diperlakukan sangat mengerikan mulai diusir keluar kampung sampai dibakar hidup-hidup. Sampai ada witch hunter segala. Di dunia modern mirip dengan yang difilmkan dengan judul Van Helsing. Yang sungguh memprihatinkan, seringkali pelakunya justru tokoh masyarakat bahkan lembaga agama.

Biasanya orang menganggap kalau sudah meninggal dunia, maka urusannya dengan dunia selesai. Di dunia hukum pun begitu. Namun faktanya, orang yang meninggal karena Covid-19, bahkan yang masih suspect pun sudah distigma. Najwa Shihab bahkan sampai menyuarakan keprihatinannya agar jenazah korban Covid bisa diberi penghargaan yang layak. Saya setuju, apalagi kalau yang jadi korban adalah tenaga medis. Mereka siang-malam berjibaku menolong pasien sehingga tertular, namun saat meninggal pun masih didiskriminasi, apalagi keluarga yang ditinggalkan.

Kurangnya Informasi

Karena kurangnya informasi yang lugas dan tuntas, masih banyak anggota masyarakat yang takut, menghindari, bahkan mengucilkan suspects. Jika ada rumah yang keluarganya dianggap berpotensi terkena Covid-19, meskipun baru terduga, apalagi kalau sampai ada yang meninggal dunia secara mendadak dan petugas ber-APD lengkap datang untuk mengevakuasi jenazah, masyarakat sekitar langsung menjatuhkan palu penghakiman.

Contohnya bertebaran di sekitar kita. Ada sekelompok masyarakat yang keberatan tanah makam di desanya dipakai untuk menguburkan jenazah terduga Covid. Ada hotel yang keberatan tempatnya dipakai untuk menampung tenaga medis. Rumah sakit yang sebenarnya garda depan untuk menolong orang yang terpapar virus ini bahkan ada yang enggan menerima pasien Covid. Kalaupun menerima, tidak mau diumumkan.

Baru belakangan ini karena permintaan pemerintah, rumah sakit bersedia membuka pintu. Itu pun membuat orang sakit non-Covid enggan dirawat di sana. "Saya khawatir istri saya justru tertular Covid saat dirawat di sana," ujar seorang bapak yang memilih untuk merawat istrinya di rumah.

Menggerus Rasa Kemanusiaan

Disadari atau tidak, diberitakan atau tidak, Covid-19 ini menggerus rasa kemanusiaan, bahkan menghilangkan akal sehat, termasuk orang yang terdidik sekalipun. Saya membaca orang keturunan Asia, terutama Tionghoa, mengalami perilaku yang tidak mengenakkan di negara-negara Barat yang tersambar sampar. Orang Asia dianggap pembawa dan penular virus ini.

Apalagi pemimpin negaranya yang membuka genderang perang, bahkan menganggap WHO pun sudah berpihak kepada Tiongkok. Padahal, kita tahu bersama peran WHO dalam mempersatukan negara-negara anggota untuk menjaga kesehatan masyarakat dunia selama ini cukup baik.

Menutup Kotak Pandora

Karena sudah begitu mendesak persoalan perundungan internasional ini, maka para pemimpin dan jajarannya diharapkan sesegera mungkin menutup kotak pandora berisi berita yang simpang siur sampai ngawur sekaligus membuka kotak P3K yang tidak saja jelas, lugas, dan tuntas, tetapi juga masif sehingga bisa merembes sampai ke akar rumput.

Pertama, jadikan data dan fakta sebagai panglima di dalam mengatasi pandemi global ini. Jangan lagi ada kepala pemerintah sampai daerah yang menyembunyikan kasus karena takut malu. Pernah ada kasus seorang wanita malu diperiksa dokter di bagian kewanitaannya --karena dokternya 'mencium' bau tertentu-- ternyata setelah kembali beberapa bulan kemudian kankernya sudah masuk ke stadium tinggi dan gagal diselamatkan. Jika pasien itu malu karena dokternya pria, lebih baik datang ke dokter wanita agar segera diketahui penyakitnya dan ditangani secara dini.

Kedua, tutup rapat-rapat pintu hoaks dengan membuka lebar-lebar informasi terkini dan tervalid agar masyarakat tidak bingung dan dibingungkan oleh berita yang tidak jelas sumbernya. Ketimbang terus-menerus melacak dan memblokir penyebar hoaks, jauh lebih baik jika penyebaran berita yang bertanggung jawab digencarkan. Peran media, terutama yang mainstream, harus semakin diakui dan digunakan sebagai acuan.

Ketiga, pemegang kendali utama media sosial perlu tanggap untuk segera membereskan kelemahan sistemnya sehingga tidak lagi terjadi pembobolan akun anggota. Pemerintah perlu terus-menerus menggandeng mereka dan para influencer untuk menyuarakan suara dan fakta kebenaran. Hanya gelontoran air sejuk yang bisa segera mematikan api provokasi.

Keempat, para pemimpin dan tokoh masyarakat perlu menjadi role model yang sungguh-sungguh bisa digugu lan ditiru. Jangan merasa menjadi "orang sakti" yang tidak mempan kena virus sehingga tidak mau pakai masker. Di masyarakat yang sangat menjunjung tinggi pimpinan, apa yang dilakukan atasan ditiru bawahan. Kalau atasan melakukan yang sembrono, apalagi bawahan.

Kelima, kekuasaan perlu memberi penghargaan riil dan bisa dilihat masyarakat luas agar mereka ikut memberi penghargaan kepada garda depan penjaga kesehatan.

Xavier Quentin Pranata pelukis kehidupan di kanvas jiwa

(mmu/mmu)