Kolom

Dari Podcast Sandiwara Sastra ke Refleksi Teknologi dan Sejarah

Pandu Wijaya Saputra - detikNews
Minggu, 26 Jul 2020 11:36 WIB
Sandiwara Sastra
Jakarta -
Beberapa waktu yang lalu Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan meluncurkan program sandiwara sastra dalam bentuk audio podcast. Karya sastra yang diangkat mulai dari cerpen Mencari Herman karya Dee Lestari, Cerita dari Jakarta karya Pramoedya Ananta Toer, hingga novel Ronggeng Dukuh Paruk-nya Ahmad Tohari. Dalam kesempatan tersebut Mendikbud Nadiem Makarim mengharap agar masyarakat khususnya pelajar mengenal dan menghidupkan kembali karya sastra terbaik bangsa.

Pernyataan tersebut menarik karena diucapkan oleh pendiri Gojek, sebuah perusahaan berbasis aplikasi yang telah mencapai level unicorn --memiliki valuasi di atas Rp 14 triliun. Bahkan menurut Bloomberg, inovasi pemuda kelahiran Singapura itu mampu mengubah kehidupan di Indonesia secara cepat dan mendalam. Nadiem ibarat simbol manusia teknologi, dan ia berbicara tentang sastra.

Selama ini sastra dan teknologi seolah bersaing. Berbicara teknologi kita membayangkan sebuah peradaban maju berupa digitalisasi, aplikasi, robotisasi, otomatisasi; sementara sastra adalah sesuatu yang estetis, imajinatif, dan fiktif. Produk teknologi adalah segala kecanggihan yang memudahkan proses berkehidupan, sementara kita membayangkan sastra adalah sesuatu yang konvensional --buku novel, cerpen, prosa, atau lembaran-lembaran puisi-- dengan kertas yang sedikit kusam, atau halaman koran dua-tiga lembar dari belakang setiap akhir pekan.

Tak heran pada 1982 sastrawan Goenawan Mohamad (GM) pernah mengajukan sebuah pertanyaan, "Jika Anda punya pilihan, apakah yang akan Anda lakukan, membaca sebuah novel atau menonton video?" Melalui pertanyaan ini, GM mencoba "menguji" pertentangan sastra dan teknologi di pikiran orang.

Sejak pertengahan abad ke-19 hingga kini, beberapa pemikir memang telah mempermasalahkan kesuraman sains dan teknologi, yang dianggap telah menciptakan berbagai masalah degradasi kemanusiaan. Meski demikian, seperti perkataan Y.B Mangunwijaya pada 1982, setiap perubahan pasti direspons berbeda sesuai latar belakang masing-masing orang, mulai dari optimis sampai terguncang.

Kini kemajuan teknologi informasi muncul tak terelakkan membawa kita ke zaman yang tak pernah terbayangkan oleh pendahulu. Dunia kini dilipat-lipat sedemikian kecil sampai seukuran layar 5-6 inci. Alih wahana sastra dari cetak ke digital, audio, bahkan visual pun menjadi alternatif logis. Dari sini, sastra juga mulai beradaptasi dengan munculnya karya-karya dunia maya. Sebagian orang menyebut sastra siber. Selain itu juga yang telah dilakukan sejak lama: memfilmkan novel.

Meskipun, tak sedikit yang masih mempertentangkan, misalnya mutu sastra siber yang dipublikasikan melalui media internet --tanpa editor, tanpa kurator. Atau, novel yang difilmkan tapi dianggap menjajah imajinasi orang-orang atas isinya. Apapun itu, di tengah lubernya informasi yang tak dapat dibedakan mana timah mana sampah, masyarakat berhak mendapat sajian yang berkualitas juga. Karya sastra bisa jadi salah satunya.

Tak sekadar menjadi media, perpaduan sastra dengan teknologi bahkan hadir dalam tubuh sastra itu sendiri. Pada novel A Visit From The Goon Squad (2010) , sang pengarang Jennifer Egan memasukkan unsur teknologi komputer dalam karyanya. Ia menggunakan bagan seperti dalam power point untuk menggambarkan plot dan deskripsi tokoh. Novel tersebut bahkan mendapat penghargaan, termasuk dari New York Times sebagai salah satu novel terbaik 2010. Teknologi nyatanya dapat menjadi wahana bagi sastra.

Lalu apakah bisa sebaliknya? Adakah sastra untuk teknologi? Untuk ini, Steve Jobs, pentolan Apple, telah menjawabnya. Dalam biografinya karya Walter Isaacson dijelaskan ada sembilan buku yang paling berpengaruh baginya, tiga di antaranya adalah sastra: King Lear (Shakespeare), Moby Dick (Herman Melville), dan buku puisi Dylan Thomas.

Dalam peluncuran iPad pertama kali, Steve Jobs mengatakan bahwa Apple lebih dari sekadar teknologi, melainkan persilangan teknologi dengan seni. Dan Steve Jobs jelas berperan di balik produk-produk Apple. Darinya kita tahu, rupanya teknologi sebagai simbol peradaban yang maju saat ini dapat bersanding dengan sastra.

Lalu bagaimana porsi sastra dalam peradaban sendiri? Apa yang sebenarnya dia berikan sehingga layak sejajar dengan teknologi yang sekarang didewa-dewakan? Karena selama ini kita justru melihat sastra seperti hantu. Seolah dia tak tampak dalam peta peradaban.

Tapi jangan terburu-buru. Sejarah menceritakan bahwa sastra banyak memberi sumbangsih pada zaman. Kita tahu peralihan abad pertengahan ke abad modern di Eropa salah satunya terinspirasi oleh kesusastraan Yunani-Romawi. Sebelum Zaman Renaisans, hanya sebagian kecil masyarakat, filsuf, penulis, dan teolog berkenalan dengan terjemahan literatur Yunani khususnya sastra. Ketika masa Renaisans datang ke Italia, ia memberi kesempatan kepada orang awam untuk mempelajari sastra-sastra tersebut.

Di Indonesia kita kenal novel Max Havelaar karya Multatuli yang berhasil menyadarkan tak hanya orang pribumi tapi juga Belanda terhadap kolonialisme, tanam paksa, serta feodalisme yang terjadi di Hindia Belanda. Novel yang terbit tahun 1860 di Belanda ini melahirkan tuntutan-tuntutan di dalam negerinya sendiri, kemudian politik etis pun diberlakukan. Segelintir rakyat Indonesia mencicipi pendidikan tinggi, kemudian kita tahu generasi ini yang memimpin menuju Indonesia merdeka.

Selain itu ada novel Siti Nurbaya karya Marah Rusli yang mendobrak adat yang membelenggu. Siti Nurbaya bahkan masih menjadi simbol perlawanan terhadap ketidakadilan pada perempuan. Lalu jauh sebelum itu kita kenal karya sastra yang penting bagi bangga Indonesia, yaitu Kakawin Sutasoma karya Empu Tantular; darinya semboyan bangsa Indonesia "Bhinneka Tunggal Ika" diambil.

Apa yang dicontohkan hanyalah salah satu aspek, kalau tak disebut fungsi, dari sastra yaitu sebagai refleksi kehidupan dan alat perjuangan. Masih banyak aspek lain misalnya sastra yang memiliki fungsi didaktif, moralitas, religius, hingga rekreatif yang semua merupakan sendi-sendi kemanusiaan. Dan, sastra menggunakan medium bahasa yang merupakan teknologi paling dasar makhluk bernama manusia untuk berkomunikasi.
Pandu Wijaya Saputra pengamat sastra dan budaya, bekerja di Direktorat Jenderal Kebudayaan

(mmu/mmu)