Pustaka

Kunci Kesaktian Korea Selatan

Khoimatun Nikmah - detikNews
Sabtu, 25 Jul 2020 12:04 WIB
ilustrasi cerpen
Jakarta -

Judul Buku: Nunchi: Seni Membaca Pikiran dan Perasaan Orang Lain (Rahasia Hidup Bahagia dan Sukses dari Korea); Penulis: Euny Hong; Penerjemah: Rani Rachmani Moediarta; Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, Juni 2020; Tebal: 268 halaman

"Kalau kita mau melompati tembok subtitles, kita akan berkenalan dengan banyak film bagus dan ragam kebajikan," demikian salah satu kalimat Bong Joon Ho saat Parasite memenangkan Golden Globe 2020. Dunia benar-benar sedang gandrung akan ekspor budaya Korea Selatan.

Film Parasite, grup musik BTS, dan ratusan judul drama televisi merupakan beberapa legasi atas supremasi budaya mereka. Bukan hanya di kawasan Asia, tetapi juga dunia. Penggemar tidak lagi merisaukan lirik berbahasa Korea dari lagu-lagu BTS. Tidak juga merasa aneh dengan makan kimchi atau tidak lagi risih membaca subtitle film-film Korea.

Lantas bagaimana sebuah negara yang pernah menjadi negara paling miskin selepas perang saudara, dijajah Jepang dan China, kemudian berpindah kelas menjadi negara maju dan digdaya seperti sekarang? Euny Hong dalam buku sebelumnya, The Birth of Korean Cool (2014) mendedah bagaimana Korea menggunakan kebudayaan sebagai komoditas ekonomi dan agen diplomasi, sejalan dengan strategi masif yang dijalankan oleh pemerintah.

"Bila hanya dengan strategi ekonomi, seharusnya semua negara bisa. Nyatanya hanya Korea," tegas Hong. Ada jurus sakti lain bangsa Korea Selatan, tapi tidak dimiliki oleh bangsa lain. Dalam buku Nunchi ini, Hong memberikan landasan konseptual sekaligus prinsip yang sangat intim dan pribadi baik Korea Selatan sebagai bangsa maupun individu.

Nunchi menjadi salah satu dari tiga spirit yang hanya ditemukan di Korea Selatan. Tiga konsep tersebut adalah han (perasaan sedih yang begitu mendalam), jeong (ikatan emosional), dan nunchi (kemampuan membaca lingkungan dan perasaan orang sekitar).

Secara bahasa nunchi dapat diartikan seni waskita dalam menilai pikiran dan perasaan orang lain untuk menciptakan keserasian, kepercayaan, dan kedekatan. Nunchi membekali manusia untuk menajamkan kepekaan membaca lingkungan sekitar dan orang lain.

Dalam esai berjudul Hidup Bersama Nunchi karya Lee O Young, profesor di Ewha Academy of Advanced Studies menulis peran penting nunchi dalam kemerdekaan Korea dari cengkeraman penjajahan Jepang.

Sebelum Jepang di bawah pimpinan Hideyoshi menyerang Korea pada rentang 1592 hingga 1598, kedua negara saling mengirim telik sandi. Jepang menyimpulkan Korea dibekali kekuatan senjata lemah dan tidak mahir dalam taktik perang. Sebaliknya, Korea mengirim utusan dengan kemampuan nunchi. Dengan kemampuan memahami orang dan situasi yang akurat, utusan Korea bahkan dikabarkan mengorek semua informasi tentara Jepang sambil makan bersama Toyotomi Hideyoshi.

Pada 2018, ketika Ketika Presiden Korea Selatan Moon Jae-in dan Perdana Menteri Korea Utara Kim Jong-un berjabat tangan, publik dunia menafsirkan sebagai sinyalemen unifikasi kedua negara. Sebaliknya, publik Ketika keduanya muncul dalam simetri yang dikoreografikan dengan sangat hati-hati, publik Korea tahu keduanya sedang mengukur nunchi dan membaca masing-masing gelagat. Tidak boleh mendahului, tidak juga tertinggal. Nunchi tetap dipergunakan dalam dunia politik modern.

"Bila nunchi-mu cepat, kamu bisa makan udang di biara," demikian Hong menegaskan nunchi mampu membuka keran-keran ketidakmungkinan. Nunchi dapat mengarahkan keperpihakan orang. Ketiadaan nunchi membuat orang lain mendadak tidak suka dengan alasan misterius.

Bagaimana nunchi begitu mengakar di Korea? Begitu mengakarnya nunchi, sampai penguasaan hal pokok yang diajarkan orangtua. Sejak dini anak-anak Korea diwajibkan memupuk nunchi. Nunchi diimani begitu kuat sebab ajaran Konfusius. Dalam ajaran Konfusius, keharmonisan didapat ketika kita mengetahui posisi dan bersikap sesuai posisi masing-masing. Mengetahui posisi masing-masing harus didahului dengan mengetahui lawan bicara kita.

Dalam bahasa Korea kita mengenal tingkat kesopanan sesuai dengan lawan bicara. Bahkan untuk menyapa harus menyertakan status, apakah dia senior di pekerjaan, kakak laki-laki, manager, direktur, dan sebagainya. Mengetahui lawan bicara menjadi dasar bersikap, dan kemudian membuat kita diterima atau ditolak.

"Di Korea, apa yang tidak dikatakan sama pentingnya dengan setiap patah kata yang terucap, dan orang yang memperhatikan kata-kata saja akan mendapatkan hanya separuh dari seluruh kisah," tegas Hong.

Namun, nunchi juga memungkinkan penafsiran keliru. Bila kebablasan bisa-bisa nunchi berganti menjadi kepandaian menjilat orang, rasa minder yang berlebihan, hingga relasi kuasa terlampau kuat. Hong menyadari hal ini. Misalnya dicontohkan, bila atasan kita gemar makan cokelat ketika stres dan kebetulan ada banyak bungkus cokelat di tempat sampahnya, maka bencana bila hari itu kita mengajukan kenaikan gaji. Kehati-hatian berlebih pun bisa berakibat minder, tidak berani berpendapat, dan senioritas yang mengunci kreativitas.

Nunchi adalah salah satu dari kebijaksanaan khas Korea Selatan yang hendak dikenalkan Hong kepada masyarakat internasional. Sebagaimana kita sudah mengenal hygge milik orang-orang Denmark, lagom asal Swedia, atau wabi-sabi dari Jepang. Semuanya adalah kebijaksanaan khas tiap negara yang dijabarkan kepada dunia agar pemahaman dan kemampuan mimesis jurus kebahagiaan meningkat.

Mengerti posisi dan memahami sekitar mampu mengantarkan Korea Selatan hingga posisi sekarang. Tujuh puluh tahun lalu, Korea Selatan salah satu negara miskin bahkan lebih miskin dari negara sub-sahara Afrika. Bangsa yang dulu menjadi anggota Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) sebagai negara peminjam utang, sekarang menjadi bagian kelompok pemberi pinjaman.

Nunchi, indra keenam bangsa Korea Selatan menjadi kunci kesaktian mereka. Sebuah jurus yang bisa diimplementasikan dalam lingkungan kerja, kencan, perkawanan, hingga diplomasi internasional. Bila menengok bagaimana dunia memandang Korea Selatan sekarang, tidak salah bila Hong menyebut nunchi salah satu kunci utama Korea Selatan.

Khoimatun Nikmah mahasiswa Universitas Semarang; fans BTS, Army

(mmu/mmu)