Kolom

Bekerja Sama Menyelamatkan Pariwisata

Haedar Ardi Aqsha - detikNews
Jumat, 24 Jul 2020 11:58 WIB
Ilustrasi: Edi Wahyono
Jakarta -

Pariwisata merupakan salah satu sektor yang paling besar terkena dampak dari Covid-19. Lembaga pariwisata global World Travel and Tourism Council (WTTC) merilis data bahwa pandemi Covid-19 berdampak besar terhadap pariwisata dunia. Pada 2019, sektor ini mampu memberikan 330 juta pekerjaan dan berkontribusi terhadap PDB sebesar 8,9 triliun dolar AS. Namun akibat pandemi, 100 juta pekerjaan hilang dan kontribusi sektor ini terhadap PDB pun turun 31 persen menjadi 2,7 triliun dolar AS.

Berdasarkan data dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, sekitar 15 juta tenaga kerja bekerja di sektor pariwisata. Dengan kata lain, sektor ini mampu menyerap 10,28 persen tenaga kerja nasional. Tentunya menurunnya aktivitas pariwisata akibat Covid-19 sangat mempengaruhi kondisi perekonomian masyarakat. Ancaman Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) hingga hilangnya mata pencaharian masyarakat semakin nyata terlihat seiring kondisi pandemi Covid-19 yang tak kunjung membaik.

Berbagai data indikator pariwisata menunjukkan tren yang cukup memprihatinkan. Berdasarkan data yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah wisatawan mancanegara yang datang ke Indonesia periode Januari hingga Mei 2020 hanya sekitar 2,93 juta kunjungan. Angka tersebut jauh menurun dibandingkan jumlah wisatawan yang datang ke Indonesia pada periode yang sama pada 2019 yang mencapai 6,28 juta kunjungan.

Hal senada juga ditunjukkan oleh Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel. BPS mencatat bahwa TPK hotel pada Mei 2020 hanya sekitar 14,45 persen, jauh lebih kecil dibanding TPK pada Mei 2019 yang mencapai 43,53 persen.

Angin Segar

Setelah kurang lebih empat bulan semenjak pemerintah menetapkan status darurat Covid-19, angin segar kini mulai dirasakan oleh para pelaku bisnis pariwisata. Pasca dicabutnya kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di berbagai wilayah di Indonesia, kini masyarakat mulai bisa beraktivitas lebih leluasa di luar rumah dengan menerapkan new normal.

New normal merupakan perubahan perilaku untuk tetap menjalankan aktivitas normal, namun dengan menerapkan protokol kesehatan guna mencegah terjadinya penularan Covid-19. Kebijakan ini diambil pemerintah guna menyelamatkan kondisi perekonomian yang semakin terpuruk semenjak diberlakukannya masa darurat Covid-19.

Dibukanya pusat-pusat perdagangan, tempat-tempat umum, maupun transportasi publik diharapkan mampu menggerakkan kembali roda perekonomian masyarakat yang sempat lumpuh. Beberapa destinasi wisata pun juga telah dibuka untuk umum dengan menerapkan peraturan-peraturan baru yang mendukung new normal, seperti penggunaan masker, jaga jarak, pembatasan jumlah pengunjung, hingga pengecekan suhu tubuh.

Semenjak pemerintah mulai melonggarkan pembatasan sosial pada Mei lalu, berbagai indikator penunjang pariwisata mulai menunjukkan tren positif. TPK hotel pada Mei telah mulai mengalami peningkatan. Jika dibandingkan dengan Maret, TPK pada Mei naik sebesar 1,78 poin menjadi 14,45 persen. Selain itu, jumlah wisatawan mancanegara yang masuk ke Indonesia pun mengalami peningkatan sebesar 3,10 persen dibanding pada April 2020.

Tentunya peningkatan berbagai indikator tersebut memberikan angin segar bagi para pelaku usaha sektor ini. Namun, diprediksi kondisi sektor pariwisata tidak bisa langsung pulih seperti sedia kala. Hal tersebut tak lepas dari kebijakan penanganan Covid-19 di sejumlah negara yang masih ketat. Mereka masih berhati-hati dalam memberikan izin warga negaranya untuk bepergian keluar negeri, terlebih lagi ke negara yang angka Covid-19 masih tinggi.

Memberikan Rasa Aman

Dalam jangka pendek, pelaku industri pariwisata bisa fokus menggarap pariwisata lokal sambil menunggu kebijakan negara-negara lain membuka jalur wisata. Rasa jenuh masyarakat setelah berbulan-bulan menjalani pembatasan sosial bisa menjadi pemicu untuk sejenak berwisata melepas kebosanan. Namun, yang menjadi permasalahan saat ini bagaimana cara memberikan rasa aman dan nyaman bagi masyarakat selama berwisata di tengah pandemi.

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif pun tak tinggal diam. Mereka mengeluarkan program Cleanliness, Health, and Safety (CHS) yang akan dijadikan pedoman bagi para pelaku usaha pariwisata untuk menyediakan rasa aman dan nyaman kepada wisatawan. Adapun beberapa faktor yang diperhatikan dalam CHS adalah pembersihan ruang dan barang publik dengan disinfektan, serta ketersediaan sarana cuci tangan, sabun, dan tempat sampah bersih.

Dengan dibukanya berbagai tempat wisata dengan menerapkan standar protokol kesehatan diharapkan mampu menggerakkan kembali sektor pariwisata tanpa mengesampingkan upaya untuk menekan laju penyebaran Covid-19. Di sinilah sinergi yang baik antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat sangat menentukan keberlangsungan sektor pariwisata ke depannya.

Pemerintah diharapkan untuk selalu memonitor dan melakukan evaluasi baik itu perkembangan Covid-19 maupun perekonomian masyarakat. Selain itu, pemerintah juga harus secara tegas menegakkan aturan-aturan new normal yang semestinya diterapkan di berbagai tempat wisata ataupun fasilitas-fasilitas umum agar sesuai dengan protokol kesehatan.

Pelaku usaha juga memiliki peran vital dalam menyambut era new normal ini. Adaptasi baru terhadap pelayanan dan fasilitas penunjang penerapan protokol kesehatan menjadi perhatian serius. Menumbuhkan rasa aman dan nyaman kepada para wisatawan merupakan kunci keberhasilan menumbuhkan kembali minat masyarakat untuk berwisata.

Masyarakat sebagai garda terdepan penanganan Covid-19 harus lebih tertib lagi dalam menerapkan protokol kesehatan. Penggunaan masker, selalu cuci tangan, dan menghindari kerumunan harus menjadi kebiasaan baru bagi masyarakat di era new normal ini. Kesadaran dan kedisiplinan masyarakat sangat menentukan perkembangan situasi ke depannya. Peran sosialisasi dan penegakan aturan di tengah masyarakat memiliki peran yang sangat vital.

Haedar Ardi Aqsha staf BPS Kabupaten Teluk Wondama, Papua Barat

(mmu/mmu)