Kolom

Bioaerosol Covid-19

Sumaryati - detikNews
Rabu, 22 Jul 2020 10:31 WIB
Covid-19 dalam aerosol atau droplet yang berada pada suatu parcel udara
Jakarta -

Pada awalnya WHO mengklaim bahwa Covid-19 bukan airborne disease; Covid-19 menular lewat droplet --droplet berisi virus yang dihasilkan ketika pasien batuk, bersin, dan bicara. Namun sejak awal pula, peneliti atmosfer berpendapat bahwa ada potensi Covid-19 menjadi bioaerosol. Akhirnya, belakangan WHO pun mengatakan bahwa Covid-19 juga menular lewat transmisi udara, yang berarti bukan hanya melalui droplet, tetapi juga butiran bioaerosol.

Bioaerosol adalah aerosol yang mengandung unsur makhluk hidup seperti serbuk sari dan spora, maupun makhluk hidup seperti virus dan bakteri. Aerosol sendiri didefinisikan sebagai butiran zat padat atau cair yang tersuspensi di udara. Sedangkan aerosol zat cair dengan ukuran lebih dari 5 mikron sering dinamakan droplet. Antara droplet dan aerosol sebenarnya hanya beda ukuran saja. Tetapi perbedaan ukuran menyebabkan perbedaan karakter dan juga dampaknya jika terhirup.

Ketika ada pasien Covid-19 batuk, bicara, atau bersin, maka keluarlah percikan-percikan air yang mengandung Covid-19. Percikan air ini yang semula oleh WHO dianggap berukuran droplet. Tentunya, hal yang aneh ketika batuk, bersin, dan bicara hanya percikan ukuran besar berupa droplet saja yang dihasilkan, tidak sampai ukuran aerosol. Apalagi juga ditemukan bukti bahwa Covid-19 juga menular melalui proses pernapasan --namun, yang pasti tidak mungkin bernapas menghasilkan droplet.

Bioaerosol yang dikeluarkan dari pasien baik melalui proses bersin, batuk, bicara, dan bernapas menempati suatu parcel udara. Bioaerosol akan turun ke bawah karena gravitasi. Bioaerosol yang turun dari satu parcel udara ke parcel udara di bawahnya sehingga sampai ke permukaan bumi.

Namun gaya gravitasi ini dihambat oleh gaya viskositas, yang mana semakin kecil ukuran bioareosol semakin besar gaya viskositas sehingga makin kecil ukuran bioaerosol lebih susah turun ke permukaan bumi dan lebih lama tinggalnya di udara. Sedangkan droplet yang berukuran besar lebih mudah mengendap, sehingga pada awalnya WHO merekomendasikan bahwa penularan Covid-19 melalui droplet hanya berjarak sekitar 2 meter dari pasien.

Dalam ruang terbuka, parcel udara yang membawa bioaerosol melayang-layang terbawa angin, menyebabkan bioaerosol semakin sulit mengendap ke permukaan. Selama virus masih aktif (hidup), dalam penjalarannya terbawa angin dapat terhirup oleh manusia yang tidak memakai masker.

Menurut WHO, Covid-19 dapat bertahan hidup di udara selama 3 jam, dengan asumsi kecepatan nagin rata-rata 2 m/det, maka Covid-19 dapat menyebar kira-kira 20 km dari pasien Covid-19. Sedangkan menurut penelitian Lembaga Biomolekuler Eijkman, covid-19 di udara bisa bertahan sampai 8 jam yang berarti penularan Covid sebagai bioaerosol melalui transmisi udara semakin luas dan jauh.

Dalam ruang tertutup dan tidak ada ventilasi bukan berarti bioaerosol akan cepat mengendap. Jika parcel udara yang membawa droplet atau bioaerosol Covid-19 suhunya lebih panas dari pada parcel udara sekitarnya, maka parcel udara tersebut memiliki masa jenis yang lebih ringan sehingga bergerak naik. Sebaliknya, jika parcel udara pembawa aerosol atau droplet akan cepat turun.

Jika ruangan ber-AC, sebagaimana umumnya AC dipasang pada bagian atas ruangan, maka sirkulasi udara dalam ruangan itu berjalan sangat baik. Udara dingin yang keluar dari AC meskipun tanpa dorongan pun akan cepat turun karena berat, apalagi dengan dorongan pompa. Udara panas di bagian bawah akan naik karena terdesak oleh udara dingin.

Begitulah sirkulasi udara dalam ruangan ber-AC berjalan terus, sehingga jika dalam ruangan itu ada bioaerosol, maka bioaerosol tersebut akan ikut bersirkulasi terus-menerus dan sulit mengendap ke lantai.

Kondisi udara pada malam hari umumnya stabil, lebih stabil dari pada siang hari sehingga planetary boundary layer pada malam hari juga lebih rendah. Kondisi udara yang demikian itu menyebabkan bioaerosol sulit terdispersi ke arah vertikal hanya berkumpul pada udara permukaan sehingga konsentrasinya tinggi, dan akhirnya dengan cepat mengendap pada permukaan bumi.

Pada siang hari, kondisi udara tidak stabil dan planetary boundary layer tinggi. Maka pada siang hari, bioaerosol di udara menjadi lebih encer karena dapat terdispersi secara vertikal, sulit mengendap, dapat dengan mudah terbawa angin menyebar jauh.

Sifat lain dari droplet dan aerosol adalah dapat dibersihkan oleh air hujan, maka pada musim kemarau ini harus lebih waspada terhadap bioaerosol Covid-19. Bioaerosol bersifat higroskopis, sehingga dalam kondisi lembap bioaerosol akan membesar dan cepat jatuh, maka tak heran jika ada yang mengatakan Covid-19 akan cepat mati dalam kondisi udara lembap. Sebaliknya dalam udara kering droplet dan aerosol akan menguap dan mengecil sehingga lebih tahan di udara.

Droplet dengan ukuran lebih dari 5 mikron jika terhirup dalam pernapasan akan tersaring oleh bulu-bulu hidung, dan paling dalam hanya mencapai tenggorokan. Aerosol dengan ukuran kurang dari 5 mikron penetrasi dalam sistem pernapasan akan lebih dalam. Untuk ukuran 2,5 mikron berpotensi menembus sampai alveoli.

Jadi Covid-19 dalam bentuk bioaerosol lebih bahaya, baik dari jangkauan sebaran yang lebih luas da jauh maupun penetrasinya dalam sistem pernapasan yang langsung mencapai paru-paru.

Bahaya yang Berbeda

Jadi Covid-19 dalam droplet dan aerosol memiliki tingkat bahaya yang berbeda. Dalam bentuk bioaerosol, Covid-19 memiliki daya sebaran di udara yang jauh mencapai puluhan kilometer, dan penetrasi dalam sistem pernapasan bisa langsung menuju paru-paru. Sedangkan dalam droplet, hanya dapat menular sekitar 2 meter, dan Covid-19 paling dalam hanya mencapai tenggorokan.

Pada awal munculnya wabah Covid-19, WHO tidak segera mengumumkan sebagai pandemi pada hal daya sebar virusnya sangat masif. Sudah banyak penelitian yang menunjukkan Covid-19 menyebar juga dalam bentuk aerosol, tetapi WHO bertahan menyatakan bahwa penularan Covid-19 tidak lewat transmisi udara, melainkan droplet.

Pernyataan WHO tentunya menjadi acuan dalam menyusun protokol kesehatan. Mudah-mudah, WHO tidak telat lagi dalam menyiapkan vaksin, meskipun akan ditinggalkan negara donatur besarnya (Amerika Serikat). Namun, ada pepatah lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali. Dan, sekecil apapun langkah yang dapat membantu memutus mata rantai penyebaran Covid-19 harus kita lakukan; sebaliknya, langkah yang berpotensi jalan penyebaran harus kita tinggalkan.

Langkah untuk mengurangi penyebaran Covid-19 melalui transmisi udara; pertama, isolasi penderita Covid-19 dalam ruang tertutup. Baik droplet maupun aerosol yang dikeluarkan penderita Covid-19 dijaga agar tetap terlokalisasi dalam ruangan dan cepat mengendap ke lantai. Itu berarti berarti kondisi udara dalam ruangan harus sangat stabil. Kondisi udara stabil jika tidak ada sirkulasi udara dan udara pada lapisan bawah lebih dingin dari pada lapisan udara bagian atas.

Jika pasien nyaman dengan udara hangat, maka bagian atas ruangan dapat dipasang lempengan heater; jika pasien nyaman dengan udara dingin, maka dipasang lempengan cooler di lantai. Jangan menggunakan pendingin atau pemanas dengan aliran udara dingin atau panas, karena aliran udara akan menciptakan sirkulasi udara.

Lempengan heater di atas atau cooler di bawah akan menciptakan udara sangat stabil dan tidak ada sirkulasi udara dalam ruangan, kondisi ini akan mempercepat proses pengendapan ke lantai baik droplet maupun aerosol yang membawa Covid-19. Proses selanjutnya, lantai disterilkan dengan disinfektan. Karena sirkulasi udara tidak berjalan baik, pastikan pasokan oksigen untuk pasien mencukupi.

Kedua, masalahnya, tidak semua yang terjangkit Covid-19 mengalami gejala penyakit. Banyak yang badannya tetap sehat, yang diistilahkan OTG (orang tanpa gejala). OTG memang aman dan sangat menguntungkan bagi dirinya, tetapi sangat bahaya dalam penyebaran Covid-19. Bisa jadi sekarang ini banyak OTG berada di tempat umum.

Tidak ada salahnya kita menganggap orang lain adalah OTG. Oleh karena itu, jaga jarak dan penggunaan masker menjadi wajib. Hindari berbicara dengan lawan bicara dengan berhadap-hadapan atau searah angin. Jika kurang dapat menjaga jarak dan harus berhadapan dengan orang lain gunakan pula face shield. Face shield dan jaga jarak akan memutus penyebaran Covid-19 melalui droplet, masker akan melindungi penyebaran Covid-19 melalui bioaerosol.

Ketiga, bagaimana dengan sarung tangan? Bagi tenaga medis atau siapapun yang bersinggungan dengan pasien atau jenazah penderita Covid-19 sarung tangan menjadi wajib. Tapi bagi aktivitas di luar itu, sarung tangan kurang efektif. Dengan tidak memakai sarung tangan, akan ada efek psikologis bahwa tangan kotor dan mungkin melekat Covid-19, maka harus segera menggunakan hand sanitizer ataupun mencuci tangan dengan sabun.

Sebaliknya, dengan memakai sarung tangan, memang tangan akan aman tidak terkontaminasi Covid-19. Tetapi bisa jadi ada Covid-19 yang menempel pada sarung tangan, sedangkan sarung tangan tidak bisa cepat dicuci. Jika menggunakan sarung tangan sekali pakai, maka akan menciptakan banyak sampah --selain tidak ekonomis.

Sumaryati peneliti di Pusat Sain dan Teknologi Atmosfer, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN )

(mmu/mmu)