Sentilan Iqbal Aji Daryono

Wabah dan Ancaman Gesekan di Kampung Kami

Iqbal Aji Daryono - detikNews
Selasa, 21 Jul 2020 16:48 WIB
Kolomnis - Iqbal Aji Daryono (Ilustrator: Edi Wahyono/detikcom)
Iqbal Aji Daryono (Ilustrasi: Edi Wahyono)
Jakarta -

Saya melihat ada potensi perpecahan diam-diam di antara warga kampung saya. Gara-garanya, saya mendengar keluhan Pak Amat, rekan ronda saya. "Aku belum jumatan lagi, Mas Iqbal. Biarin sajalah orang-orang mau bilang apa...."

***

Pak Amat termasuk warga kampung yang melek pengetahuan. Dia memang bukan orang sekolahan, tapi jenis manusia yang mau menggunakan hape-nya bukan cuma buat main game dan Instagram. Itulah kenapa, Pak Amat cukup paham dengan segenap kabar terbaru terkait wabah ini. Dan karena itu jugalah dia memutuskan belum berangkat jumatan.

Tapi, yang saya perhatikan bukan soal pengetahuannya itu, melainkan ujung akhir kalimatnya yang dia ucapkan saat kami sedang berjalan bersama sepulang ronda: Biarin sajalah, orang-orang mau bilang apa.

Bagi saya, itu mengejutkan. Sebab, artinya ada kekhawatiran riil tentang suara sumbang yang disasarkan kepada warga muslim laki-laki yang di masa kenormalan baru ini belum kembali ikut jumatan. Dan, Pak Amat merasakannya.

Sejak mendengar curhatan Pak Amat itu, saya pun mulai berpikir bahwa bukan mustahil warga kampung saya sekarang ini terbagi menjadi dua kubu, mirip ketika pilpres sialan yang dulu itu. Tapi kali ini bukan tentang para jagoan politik yang dihadap-hadapkan, melainkan terkait sikap dalam menghadapi wabah yang menyebalkan.

Kubu pertama adalah kubu pendukung anjuran kesehatan resmi, yang mengikuti segala protokol dengan ketat. Saya melihat beberapa anggotanya cukup berpengaruh, yaitu Pak Amat yang melek informasi, Bu Harsini yang seorang bidan meski sudah lama nggak praktik lagi, dan Pak Wartono yang guru olah raga di sebuah SD Negeri.

Adapun kubu kedua beranggotakan para penggerak aktivitas masjid dan kemasyarakatan, dan tentu saja kubu ini lebih kuat. Kami ini orang kampung, dan selama puluhan tahun kegiatan-kegiatan bersama di kampung adalah bahan bakar yang menggerakkan kami dan membuat kami terus merasa "hidup".

Saya tidak bisa mengatakan bahwa kedua kubu tersebut terpisah oleh garis demarkasi yang tegas. Bu Harsini yang kaya raya itu sangat sering menyumbang untuk acara-acara warga, dan Pak Wartono adalah mantan bendahara takmir pada kepengurusan lima tahun lalu. Sementara itu, para penggerak masjid juga bukan jenis-jenis yang frontal, tidak pernah mengejek pilihan sikap politik kubu pertama, meski sesekali muncul pula kata-kata semacam, "Mbok sudah, hidup-mati serahkan Gusti Allah saja."

Selain itu, di antara kedua kubu itu, ada juga orang-orang macam saya yang labil dan kurang teguh berpendirian. Saya percaya sebagian besar teori kesehatan. Namun sejak sebulan terakhir, saya sudah kembali ikut jumatan. Alasan saya adalah malu kepada diri sendiri. Beberapa kali saya sudah nongkrong di warung kopi, berkumpul dengan beberapa teman. Tentu saja memakai masker, meski tidak bisa nonstop terpasang (sampai sekarang saya belum menemukan metode paling praktis untuk menyeruput kopi sambil tetap memakai masker). Nah, kalau ngopi-ngopi saja sudah, lalu bagaimana tega hati saya untuk tidak jumatan?

Maka, saya pun berangkat jumatan, meski duduk di saf paling belakang. Dan di situlah saya mengamati, saf-saf paling belakang adalah area geopolitik bagi kalangan penuh keraguan yang belum ke masjid lagi untuk sembahyang lima waktu tapi sudah kembali datang jumatan.

Setelah memahami peta kekuatan di kampung saya itu, saya kembali membuka grup Whatsapp yang lama sekali tidak saya tengok, lalu scroll up dengan penuh semangat. Dan, terbuktilah kekhawatiran saya, dari beberapa potong percakapan yang menggambarkan situasi tersebut.

Misalnya, ada suatu kali seorang tokoh warga memberikan pengumuman untuk acara pengajian. Katanya, suasana sekarang sudah lebih longgar, sehingga kumpul-kumpul sudah lebih mungkin dilakukan. Belum ada satu pun warga yang merespons, tiba-tiba Bu Harsini langsung muncul membagi satu tautan berita yang mengabarkan bahwa angka penderita korona di kabupaten kami bertambah dua.

Sempat cukup lama "dialog" itu berlalu tanpa sambutan dari anggota grup yang lain. Kedua orang di atas itu sangat kami hormati. Pasti Anda bisa membayangkan atmosfernya saat ada dua orang terhormat sedang nyemplung ke dalam suasana yang tidak mengenakkan.

Untunglah, kemudian ada yang berkomentar dengan cukup cerdik, "Semoga kita semua diberi keselamatan. Amin." Tak ayal, belasan warga lain yang (saya menduga) dari tadi pada kikuk salah tingkah itu menyambut dengan "amin" berkali-kali.

Adegan semacam itu tidak cuma terjadi satu kali. Di waktu lain, pola yang sama juga berjalan. Namun karena tak ada lagi warga pencair suasana yang mengobral "amin", akhirnya beberapa video lelucon sampah berhasil menyelamatkan suasana, dan membuat orang bisa pura-pura lupa dengan ketegangan tersamar yang muncul baru saja.

Konflik ini memang berlangsung diam-diam, tak ada satu pun suara keras yang terdengar. Tapi saya harus menyampaikan dua hal.

Pertama, ini terjadi di kampung saya yang memang rukun dan aman tenteram sejak dulu kala, bahkan ketika hawa pilpres sedang panas-panasnya. Kedua, perbedaan pilihan sikap dalam menghadapi wabah ini mengandung kemungkinan munculnya cara pandang yang merendahkan satu sama lain: kubu pertama akan menganggap kubu kedua bodoh, kubu kedua akan menganggap kubu pertama lemah iman.

Di kampung saya, syukurlah banyak ancaman gesekan bisa diselamatkan dengan "amin" atau dengan video instant karma. Tapi bagaimana dengan di ribuan kampung yang lain, di kota-kota lain, di sudut-sudut negeri yang karakternya berbeda jauh dengan karakter kampung saya? Apakah kelak setelah wabah ini berlalu, segala sendi sosial akan kembali pulih dan baik-baik saja?

Saya tidak yakin. Bahkan untuk ukuran kampung kami pun, bisa jadi segalanya tak akan kembali seperti sedia kala. Pernah muncul satu celetukan dari seorang tetangga saya yang membuat saya semakin galau.

"Terus terang muncul pikiran buruk je, Mas. Gini lho. Kalau sampai wabah berlalu kampung kita ini tetap aman-aman saja, padahal terus bikin acara-acara, nanti belakangan yang bikin acara itu pasti pada menyalahkan orang-orang yang selama ini ogah keluar, termasuk ogah ke masjid. Tapi kalau ada korban jatuh karena korona, yang selama ini nggak ke masjid bisa-bisa menyalahkan yang ke masjid dengan berlipat-lipat lebih keras. Ngeri, to?"

***

Kemarin sore, muncul kabar seorang tenaga kesehatan di Puskemas kecamatan tetangga positif tersambar tulah korona. Dan ternyata, meskipun lokasi swab test-nya di kecamatan tetangga, rumah tinggal sang tenaga kesehatan cuma sepelemparan droplet saja dari kampung kami. Dekat sekali.

Hari ini, grup Whatsapp kampung jadi amat sepi, tak ada yang membagi-bagi pengumuman lagi.

Iqbal Aji Daryono esais, tinggal di Bantul

(mmu/mmu)