Kolom

Pendidikan yang Obsesif pada Kertas-Kertas

Izul Adib - detikNews
Senin, 20 Jul 2020 14:36 WIB
Polisi Gerebek Rumah Percetakan Sertifikat Palsu di Tambora (Arief-detikcom)
Foto: Arief
Jakarta -
Di beranda Facebook, sebuah akun karikatur mem-posting meme yang cukup membuat saya tersenyum geli. Berbentuk komik strip yang menampilkan gambar seseorang sedang membopong sebuah tas ransel berukuran sangat besar di punggungnya. Lalu, di bagian belakang tas itu ada sebuah tulisan tertempel berbunyi "Sertifikat Webinar".

Seketika saya paham maksud meme itu, yakni sindiran kepada orang-orang yang suka berburu sertifikat di seminar-seminar online yang sedang banyak digelar pada masa pandemi ini. Berkah corona memang luar biasa. Karena tidak lagi memungkinkan diadakan seminar secara offline, banyak acara seminar gratis bertebaran di jagat maya yang diselenggarakan oleh macam-macam lembaga dengan dibarengi penawaran sertifikat gratis.

Kerap kita menjumpai di media sosial orang-orang mem-posting tentang seminar online mana saja yang sudah mereka ikuti selama masa work from home (WFH) ini. Jenis seminarnya bermacam-macam, ada yang berupa hasil riset, kuliah umum, lokakarya, workshop, atau yang berupa presentasi ilmiah --baik yang berlevel nasional, maupun internasional. Lalu, tak jarang kemudian terdengarlah suara-suara seperti ini:

"WFH kok tidak digunakan mengikuti acara webinar ya rugi, itung-itung nambah sertifikat buat kenaikan pangkat. Percuma WFH kok nggak dibuat kegiatan produktif."

Sebagian dari Anda barangkali agak gemas dengan kelakuan orang-orang semacam itu. Orang-orang yang terlalu terobsesi dengan kertas bernama sertifikat seminar. Tapi, saya juga yakin, sebagian dari Anda menganggap hal tersebut biasa dan wajar-wajar saja. Ya, tidak masalah. Namun, saya kira tidak ada ruginya kalau kita coba telaah kenapa bisa begitu?

Budaya Pendidikan

Alasan utamanya adalah pada budaya pendidikan kita. Sertifikat-sertifikat seminar itu adalah produk dunia pendidikan. Terutama di kampus-kampus, berapa banyak program kerja organisasi mahasiswa yang dilaksanakan dalam bentuk acara seminar?

Idealnya memang seminar digelar demi kebutuhan pengembangan ilmu pengetahuan. Tapi, dasar memang hal yang begituan nyaris tak cukup laku, sehingga seolah wajib setiap diadakan seminar harus menyertakan sertifikat gratis demi menarik peserta yang banyak.

Naluri dasar manusia tentu tidak akan mencari sesuatu kalau itu tidak berguna bagi dirinya. Sertifikat-sertifikat seminar itu diyakini bermanfaat dalam memperlancar laju perkembangan karier. Di negara yang menjunjung tinggi formalitas ini, keberadaan sertifikat-sertifikat itu menjadi begitu penting.

Orang senang memburu sertifikat untuk tujuan beragam, mulai sebagai syarat mengikuti organisasi, syarat pengajuan sidang tugas akhir, syarat mendapatkan angka kredit, syarat pengajuan beasiswa, hingga untuk melamar pekerjaan. Semakin banyak sertifikat yang dipunya, semakin besar peluang untuk memperoleh kesempatan-kesempatan itu.

Makanya juga tak heran, kalau misalkan saya boleh sedikit ber-suudzan, biasanya dalam sebuah seminar yang ramai peserta paling cuma segelintir saja yang betul-betul mengikuti acara dengan seksama, dibarengi niat tulus mencerap ilmu pengetahuan yang disampaikan pembicara. Selebihnya, yang lain cuma duduk manis mendengarkan sembari menunggu gratisan jatah makan siang dan sertifikat seminar. Soal paham atau tidak, itu urusan nanti, yang penting kenyang dan senang.

Implikasinya tentu jelas. Pendidikan yang seharusnya menjadikan ilmu pengetahuan sebagai orientasi utama, dalam kenyataannya tak lebih hanya sebagai syarat semata. Hal ini seolah membenarkan bahwa orang kuliah cuma cari ijazah itu lumrah. Bagi banyak orang, ijazah dan sertifikat-sertifikat itu seolah kertas ajaib penolong kehidupan.

Jadi, sebenarnya kita tidak perlu terlalu sinis dan menyesalkan kalau kualitas penelitian para mahasiswa ataupun dosen di perguruan tinggi kita masih tertinggal jauh dari negara-negara lain. Berapa banyak skripsi-skripsi mahasiswa yang kusam dan hanya teronggok tak berdaya di rak-rak perpustakaan kampus?

Melihat fakta itu, bukankah berarti keberadaan kertas-kertas sertifikat itu justru pelan-pelan menghilangkan orientasi pendidikan kita? Obsesi yang berlebihan kepada kertas-kertas semata justru melanggar fitrah pendidikan itu sendiri.

Efek Lanjutan

Akibatnya bisa cukup serius. Kondisi demikian menciptakan efek lanjutan berupa terbentuknya kesadaran psikologis kita yang secara tidak sengaja membangun pemahaman bahwa fungsi sekolah hanyalah medium untuk mencapai tujuan-tujuan pragmatis.

Lingkungan pendidikan yang sudah sekian lama berlangsung itu tentu tidak serta merta mudah diubah begitu saja. Adalah hal yang semua kita paham bahwa sikap dan perilaku seseorang dibentuk oleh lingkungan tempat mereka berada. Dan sialnya, para anak sekolah kita selama ini masih terus terperangkap dalam lingkungan budaya pendidikan yang semacam itu.

Jadi, sikap-sikap orang-orang yang suka memuja-muja kertas ajaib itu sebetulnya hanyalah efek dari sebuah fenomena gunung es, dari betapa belum sehatnya dunia pendidikan kita. Ya, bisa saja keadaannya tidak seburuk yang saya bayangkan. Tapi, bukankah setiap kegelisahan untuk arah perbaikan itu perlu disuarakan? Syukur-syukur bisa diupayakan.

Saya bukan sedang mengatakan bahwa para pemuja kertas-kertas ajaib itu adalah orang-orang yang oportunis --tentu bukan begitu maksud saya. Mengumpulkan sertifikat seminar bukan sesuatu yang salah, namun memberi penekanan yang begitu besar pada soal-soal yang bersifat teknis semacam itu mestinya juga harus dibarengi dengan kualitas dan peran pengaplikasian keilmuan yang nyata.

Saya mengharapkan, di tengah sibuknya Mendikbud Nadiem Makarim yang sedang berusaha memulihkan kembali aktivitas pendidikan akibat hantaman pandemi corona ini, terbersit sebuah niatan untuk menaruh perhatian khusus yang betul-betul fokus pada hal yang paling fundamental dalam pendidikan kita.

Harus ada fondasi struktur yang kuat yang bisa menciptakan budaya pendidikan kita yang tidak lagi berorientasi pada hal-hal teknis dan formalitas semata, tapi juga fokus pada hal-hal esensial yang memang menjadi prioritas dunia pendidikan dan pengembangan keilmuan. Sisi positifnya, Mendikbud saat ini punya kesempatan besar untuk memulai semuanya dari awal.

Kalau bisa terwujud, saya membayangkan sebuah masa depan pendidikan kita di mana tidak ada lagi orang-orang yang sekolah cuma terobsesi dengan kertas-kertas saja. Tapi, betul-betul obsesi pada keilmuan semata. Lagi pula, saya juga heran, kertas-kertas yang sudah banyak terkumpul itu, betulan digunakan atau cuma jadi pajangan?

Izul Adib mahasiswa Magister Sejarah Universitas Gadjah Mada

(mmu/mmu)