Jeda

Ikan Arapaima dan Kaum "Anti-Masker"

Sasti Gotama - detikNews
Minggu, 19 Jul 2020 12:00 WIB
masker mahal
Jakarta -

Beberapa tahun lalu, pada bulan Juli yang dingin, pertama kali saya melihat ikan Arapaima di akuarium raksasa. Saya terpesona. Menurut saya, jika diibaratkan manusia, ikan itu setara Chris Hemsworth, si pemeran Thor di serial film Avenger yang ganteng dan bertubuh bongsor.

Dengan ukuran tubuhnya yang sangat besar, bahkan bisa mencapai tiga meter, ikan tersebut bisa berenang seanggun Princess Ariel putri Neptunus, tanpa ketergesaan seekor hiu pembunuh, seperti mafhum, bahwa akuarium itu adalah catwalk raksasa tempat ia bisa berlenggak-lenggok sesukanya.

Puluhan anak-anak mengelilingi kaca-kaca raksasa dan bersorak-sorai di sana. Beberapa bertepuk tangan setiap Arapaima berenang ke arah mereka. Sedangkan, ibu-ibu, sebagaimana biasa, sibuk memonyongkan bibirnya, berselfie-ria, dengan Arapaima sebagai latar belakangnya.

Sementara itu, di sisi lain di Jawa Timur, seekor Arapaima diburu seperti penjahat paling kejam. Ia dianggap sebagai hama yang harus dimusnahkan. Awal mulanya, ketika seorang kolektor melepaskan delapan ekor Arapaima ke Sungai Brantas. Mereka dianggap sebagai predator yang dapat menyebabkan kerusakan sumber daya ikan dan/atau lingkungannya di wilayah pengelolaan perikanan. Kedelapan ikan itu diburu. Satu ditemukan mati, enam disantap penduduk, dan satu masih buron.

Seperti kumis Chiko Jeriko dan bulu hidung preman pasar, dua golongan Arapaima ini punya nasib yang berbeda, yang satu dikagumi, yang satu lagi dianggap buron. Walaupun sama-sama berlenggak-lenggok di air tawar dan makan ikan-ikan kecil lainnya, tetapi mereka mendapat dua perlakuan yang berbeda.

Mungkin saat tertangkap, pada detik-detik terakhir hidupnya, ikan buron di Sungai Brantas itu bertanya-tanya apa salahnya? Ia hanya melakukan hal yang persis sama dengan Arapaima, kawan sejawatnya di akuarium raksasa: makan ikan.

Satu hal yang sama bisa memiliki penilaian yang berbeda. Misalnya meludah di Myanmar. Saat Anda melangkah keluar dari Bandara Yangoon, Anda akan melihat bercak-bercak merah di sepanjang lantai dan jalanan. Tenang saja. Itu bukan bercak darah, melainkan bercak bekas sirih yang diludahkan oleh warga. Meludahkan sirih di sana masih bagian dari kebiasaan yang diterima oleh sebagian besar orang.

Tetapi tentu lain halnya misalnya Anda melakukannya di jalanan Singapura atau Korea Utara. Apalagi jika ludah Anda mengandung kuman TB atau Covid-19. Anda bisa dituntut. Namun, ternyata hal diskriminatif ini berlaku pula pada masker yang tak berdosa. Ada dua tanggapan yang bertolak-belakang.

Kata sebagian orang yang "anti-masker", bermasker merupakan bentuk dukungan terhadap pemerintah yang seringkali program-programnya membuat masyarakat jadi susah, seperti tidak bisa menggelar acara resepsi pernikahan yang dihadiri ribuan orang, jalan-jalan ke tempat-tempat Instagram-able, atau sekadar ramai-ramai arisan.

Jadi, mereka memilih tidak bermasker untuk menunjukkan pemberontakan. Suatu pemberontakan yang salah kaprah. Wong kalau tertular, mereka sendiri yang susah, bukan dokter Reisa. Padahal kalau dipikir-pikir, bermasker adalah bentuk kasih sayang kepada diri sendiri dan sesama.

Jika Anda sehat, menggunakan masker, terutama tipe N95, berarti melindungi diri sendiri. Namun, seandainya Anda seorang OTG, itu berarti melindungi orang-orang di sekitar Anda, karena sesungguhnya masker, terutama masker kain, lebih berfungsi untuk mencegah penderita dalam menularkan virus, daripada mencegah pemakai masker untuk tertular infeksi. Oleh karena itu, jika semakin banyak yang menggunakan masker, maka pencegahan penularan semakin efektif.

Menurut Ria Sinha, seorang peneliti senior di Pusat Kemanusiaan dan Kedokteran Universitas Hong Kong, seperti yang dikutip oleh The National Interest Mei lalu:

Di Hong Kong, hanya terdapat empat kematian tercatat yang dipastikan karena Covid-19 sejak awal pandemi, meskipun kepadatan tinggi, transportasi massal tetap berjalan, dan lokasi dekat dengan Wuhan. Otoritas kesehatan Hong Kong memuji warga negara mereka yang hampir seluruhnya mengenakan masker sebagai faktor utama (survei menunjukkan bahwa hampir 100 persen kepatuhan bersifat sukarela).

Penelitian menunjukkan bahwa jika 80 persen orang memakai masker yang efektivitasnya 60 persen, maka tingkat infeksi penyakit ini dapat sangat menurun.

Saat ini, saya mungkin sama bingungnya dengan si Arapaima di Sungai Brantas yang diburu itu. Keberadaan saya yang menggunakan masker tampak anomali di antara sekerumunan orang yang tak lagi mengindahkan protokol kesehatan. Peningkatan kasus 2.657 dalam 24 jam terakhir tak ubahnya dongeng usang yang tak perlu lagi dipedulikan. Bagi mereka, inilah saatnya new normal, waktunya membuka pintu, bertamasya, foto-foto bersama, berburu kuliner, tanpa masker.

Mungkin ada baiknya bagi saya tetap menjadi Arapaima di balik kaca tebal akuarium. Cukup memandang lambaian tangan dan senyum kanak-kanak sudah membuat saya senang, walaupun tanpa keseruan berburu ikan-ikan sungai yang berenang di Sungai Brantas.

Sasti Gotama dokter umum yang suka menulis

(mmu/mmu)