Kolom

New Normal Sebagai Gaya Hidup

Isnan Nurslalim - detikNews
Jumat, 17 Jul 2020 16:00 WIB
Poster
Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom
Jakarta -

Beberapa hari terakhir jumlah pasien positif Covid-19 mengalami tren lonjakan mencapai seribu kasus per hari. Bahkan pada Kamis (9/7), laporan kasus harian mencatatkan rekor tertinggi dengan 2.657 kasus positif. Lonjakan jumlah kasus positif Covid-19 ini seiring dengan semakin masifnya tes yang dilakukan pemerintah.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo menargetkan dalam sehari dapat melakukan tes sebanyak sepuluh ribu spesimen. Kemampuan pemerintah dalam melakukan tes Covid-19 yang semakin besar tentu patut diapresiasi. Sehingga orang yang terinfeksi virus corona dapat terdeteksi dengan cepat sebelum menularkan ke orang lain.

Namun di lain sisi, beberapa daerah sudah memasuki era new normal. Sejak awal tampaknya masyarakat gagal paham dengan istilah new normal. Masyarakat menganggap new normal berarti sudah merdeka dari Covid-19, padahal masih jauh panggang dari api. Perilaku masyarakat menunjukkan aktivitas normal tanpa memperhatikan protokol kesehatan. Kondisi ini barangkali juga turut berkontribusi terhadap meningkatnya kasus covid-19 secara signifikan.

Padahal new normal seharusnya mengubah perilaku lama menjadi kebiasaan baru dengan memakai masker, menjaga jarak sosial maupun fisik, rajin mencuci tangan, serta disiplin mengikuti protokol kesehatan.

Juru bicara pemerintah untuk penanganan Covid-19 Achmad Yurianto menegaskan bahwa masyarakat harus memahami bahwa new normal bukan berarti situasi sudah kembali normal. Namun, new normal merupakan fase di mana kita harus mengubah kebiasaan lama menjadi kebiasaan baru untuk menciptakan situasi aman di tengah pandemi. Beraktivitas secara produktif dengan mengikuti protokol kesehatan menjadi pilihan yang wajib dilakukan tanpa tawar menawar.

Kehidupan new normal atau kembali beraktivitas dengan menerapkan kebiasaan baru adalah sebuah keniscayaan. Yakni, kebiasaan baru untuk berperilaku bersih dan sehat sesuai protokol kesehatan. Kebiasaan baru ini harus disadari dan dijalankan oleh masyarakat sebagai gaya hidup yang melekat di masa new normal.

New normal merupakan jalan tengah untuk menyelamatkan masyarakat dari pandemi Covid-19 sekaligus dampak sosial ekonominya. Sehingga masyarakat dapat beraktivitas secara produktif dan aman.

Kesadaran Masyarakat

Melihat masyarakat yang mulai beraktivitas di era new normal, secara kasat mata saya masih melihat kesadaran masyarakat akan bahaya Covid-19 masih rendah. Masyarakat mulai cuek dan masa bodoh dengan adanya pandemi Covid-19. Hal ini tampak dari aktivitas yang dilakukan masyarakat semakin longgar dalam mematuhi protokol kesehatan. Padahal mematuhi protokol kesehatan adalah syarat mutlak bagi masyarakat untuk beraktivitas secara produktif dengan aman.

Terlebih saat ini penyebaran Covid-19 semakin luas seiring dengan melonjaknya kasus positif setiap harinya. Dalam kondisi penyebaran virus corona yang semakin luas, kesadaran masyarakat akan penerapan protokol kesehatan harusnya semakin ketat. New normal yang seharusnya diikuti dengan protokol kesehatan justru hanya dipahami sebagai kembalinya aktivitas seperti semula. Pembatasan sosial yang sudah dilakukan sebelumnya dianggap sudah cukup untuk menghalau virus corona.

Padahal sama sekali belum cukup; new normal harus diikuti dengan protokol kesehatan yang ketat. Tanpa memperhatikan protokol kesehatan yang ketat, maka berpotensi terinfeksi Covid-19. Pasalnya Covid-19 masih jauh dari selesai. Virus ini dapat menginfeksi kita dengan mudah jika kita abai dengan protokol kesehatan.

Aktivitas yang dilakukan di masa new normal tentu belum sepenuhnya aman. Pasalnya kita harus hidup berdampingan dengan Covid-19, sadar akan kehadirannya yang sewaktu-waktu berpotensi menginfeksi kita. Maka proteksi wajib kita lakukan untuk melindungi diri kita dan orang lain. Memakai masker, menjaga jarak sosial maupun fisik, rajin mencuci tangan, serta disiplin mengikuti protokol kesehatan wajib kita patuhi.

Kepatuhan ini bukan semata-mata karena perintah atau kebijakan pemerintah, namun harus sudah melekat sebagai sebuah kebutuhan yang disadari oleh masyarakat. Kesadaran diri dan pengetahuan masyarakat mengenai new normal akan membuat masyarakat paham sehingga melahirkan kepedulian terhadap diri sendiri serta orang lain.

Sebagai masyarakat kita adalah garda terdepan dalam menghadapi Covid-19, sedangkan dokter dan ahli kesehatan lainnya merupakan garda terakhir. Semakin masyarakat peduli dan sadar akan bahaya Covid-19, maka penanganan menjadi lebih mudah. Dokter dan ahli kesehatan akan fokus terhadap penanganan kasus orang yang sudah terpapar virus. Sedangkan masyarakat berupaya meminimalisir terjadinya penularan.

Memutus Persebaran

Masyarakat berperan penting dalam memutus persebaran Covid-19 di Tanah Air. Kedisiplinan masyarakat dalam menjalankan protokol kesehatan selama beraktivitas di masa new normal akan membantu kita semua dalam mencegah semakin meluasnya virus.

Sikap kedisiplinan dalam mematuhi protokol kesehatan merupakan bentuk kesadaran dan kepedulian kita pada sesama. Karena sikap disiplin yang kita tunjukkan selama beraktivitas di masa new normal akan menolong banyak orang dan membantu percepatan penanganan Covid-19.

Kedisiplinan masyarakat dalam menjaga diri dan kesadaran untuk saling peduli menjaga keselamatan bersama menjadi tumpuan pencegahan penularan wabah. Beradaptasi dalam kebiasaan baru di masa new normal akan membawa masyarakat tidak tertular. Mengubah kebiasaan lama dengan kebiasaan baru dengan mematuhi protokol kesehatan secara ketat diharapkan bisa memutus mata rantai penularan virus.

Terakhir, saya ingin mengajak kita semua untuk membangun kesadaran dan kepedulian dalam menjalankan protokol kesehatan. Sebab inilah satu-satunya ikhtiar yang bisa kita lakukan untuk dapat terhindar dari bahaya Covid-19 yang mengintai kita.

Isnan Nursalim Relawan Komunikasi Gugus Tugas Covid-19 Kabupaten Cilacap

(mmu/mmu)