Kolom

Tahun Ajaran Baru Tanpa Tatap Muka: Refleksi Seorang Guru

Muhammad Arif - detikNews
Kamis, 16 Jul 2020 13:30 WIB
Seorang murid sekolah dasar (SD) belajar melalui siaran streaming TVRI di rumahnya, di Padang, Sumatera Barat, Senin (13/4/2020). Kemendikbud resmi meluncurkan program Belajar dari Rumah bersama TVRI mulai Senin hingga Jumat, dengan total durasi tiga jam per hari untuk semua tayangan sebagai alternatif belajar di tengah pandemi virus korona (COVID-19). ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra/hp.
Menyambut tahun ajaran baru tanpa tatap muka langsung guru dan peserta didik (Foto: Iggoy el Fitra/Antara)
Jakarta -
Sudah beberapa minggu berlalu setelah peserta didik menikmati libur semester kenaikan kelas. Senin, 13 Juli 2020, anak-anak, orangtua, guru, sekolah, dan pihak terkait harus bersiap menyambut tahun ajaran baru untuk tahun pelajaran 2020/2021. Namun, sekolah masih belum dapat berjalan dalam keadaan normal karena pandemi belum menunjukkan tanda-tanda berakhir.

Selama libur semester kedua kemarin barangkali adalah kesempatan berharga bagi peserta didik untuk beristirahat sejenak dari meluangkan waktu, berlama-lama di depan layar menerima materi dan/atau tugas dari guru. Sementara, bagi Kemdikbud, Dinas Pendidikan, sekolah, guru, orangtua, dan pihak terkait, libur sekolah menjadi kesempatan baik untuk merefleksi diri, melakukan evaluasi, merumuskan kebijakan, melahirkan inovasi, serta meningkatkan pengetahuan dan keterampilan untuk memasuki tahun ajaran baru.

Banyak persoalan mengemuka dari proses-belajar-mengajar yang terjadi sebelumnya. Itu kenapa libur kemarin menjadi kesempatan baik bagi semua pihak. Memang, bahwa yang terjadi adalah keadaan kahar yang memaksa semua orang untuk beradaptasi secepat yang bisa dilakukan. Sehingga, tidak ada satu-satunya pihak yang patut dijadikan kambing hitam atas segala persoalan yang tumpang-tindih yang menimpa dunia pendidikan.

Semua harus sadar diri, semua harus berbenah, memperbaiki diri, mengambil sekecil apa pun langkah yang bisa diambil untuk sama-sama menjadikan pendidikan di Indonesia lebih baik ke depannya.

Guru Berbagi

Benar saja bahwa duka tidak selamanya datang sebagai duka semata tanpa ada suka yang menyertai di belakangnya. Dari kesulitan yang menerpa, muncul lebih banyak inovasi daripada masalah yang ada itu sendiri, baik dari pemerintah maupun swasta. Banyak sekali seminar-seminar web yang muncul untuk berbagi pengalaman, menambah pengetahuan tentang bagaimana sebaiknya pendidikan dijalankan di masa pandemi.

Turut pula hadir berbagai media berbasis teknologi untuk membantu meningkatkan pengalaman belajar dari rumah dan secara langsung atau tidak meningkatkan literasi teknologi di Indonesia secara umum.
Pandemi juga menggerakkan pemerintah untuk lebih sadar tentang arti penting gotong-royong. Dengan hadirnya website guruberbagi.kemdikbud.go.id banyak guru yang tersalurkan kepeduliannya untuk membantu pendidikan Indonesia menjadi lebih baik. Meskipun bukan sebagai yang pertama, namun paling tidak bahwa dari sisi pengambil kebijakan, inisiatif untuk menghadirkan 'guru berbagi' ini patut diacungi jempol.

Bukan tanpa sebab, karena ini merupakan terobosan yang luar biasa dan bertolak belakang kebijakan sebelumnya yang secara turun-temurun melombakan guru-guru dalam kompetisi untuk mencari beberapa yang terbaik. Padahal, dalam kurikulum 2013 anak-anak diajarkan untuk menilai portofolio perkembangan diri mereka sendiri alih-alih mengalahkan atau membandingkan diri mereka dengan orang lain yang datang dari latar belakang yang boleh jadi tidak sama.

Lebih lanjut, kompetisi sendiri pun faktanya lebih banyak menghasilkan kekalahan dan kekecewaan daripada pemenang. Berapa cepat pula yang bisa kita harapkan dari segelintir pemenang untuk memajukan pendidikan, sementara dengan mempercepat tersebarnya inovasi dan dengan saling berbagi dengan tetap menghargai hak cipta, mengembangkan inovasi kita bisa menciptakan gelombang besar perubahan.

Maka patut diapresiasi kebijakan yang mendorong untuk lebih mengedepankan gotong-royong, berbagi, dan mengurangi aneka kompetisi yang sudah-sudah. Serta, alangkah lebih baik lagi jika penilaian guru terbaik ke depan dilihat dari berapa banyak 'amal' yang mereka bagikan di media sosial dan berapa banyak akumulasi 'like' yang diterima dalam rentang waktu tertentu sebagai bentuk rasa terima kasih dari orang yang sudah terbantu.

Awal yang Tak Mudah

Sebuah awal yang tidak mudah bagi para guru utamanya untuk sekolah yang harus menyambut tahun ajaran baru tanpa bertatap muka secara langsung dengan peserta didik. Sebab, sampai saat ini aturan yang memperbolehkan untuk tatap muka hanya untuk daerah yang berasa di zona hijau. Sementara, menurut Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Anwar Makarim lewat Youtube Kemendikbud, Senin (15/6), lebih dari 90% sekolah masih harus belajar jarak jauh.

Untuk itu, beberapa hal perlu dipersiapkan secara khusus untuk menghadapi hal semacam ini. Biasanya, tiga atau empat hari semenjak tahun ajaran baru kegiatan belajar-mengajar memang belum dilakukan. Pada saat itu yang dilakukan guru dan peserta didik adalah bersih-bersih, menjelaskan tata-tertib, kurikulum, dan paling penting saling mengenal satu sama lain. Sementara, jika kondisinya tidak bisa saling bertemu, maka hal tersebut harus dilakukan secara daring. Guru dapat menggunakan platform jejak pendapat yang tersedia secara beragam dan gratis.

Hal ini tidak boleh terlewat karena tanpa mengetahui data peserta didik, baik itu hobi, prestasi, data keluarga, ekonomi, serta ketersediaan sarana dan prasarana untuk mendukung pembelajaran jarak jauh, pembelajaran tidak akan dapat terlaksana dengan baik. Paling penting, supaya kejadian seperti tidak tersedianya jaringan, tugas yang terlalu banyak, tidak lagi terdengar disampaikan oleh orangtua. Pemerintah, guru, dan pihak terkait sudah melalui cukup waktu untuk mengevaluasi diri dari pengalaman sebelumnya.

Pun dalam memilih media pembelajaran, sejalan dengan bentuk pembelajaran yang akan diberikan, guru dapat menggunakan Kerucut Pengalaman Dale (Dale's Cone Experience) sebagai acuan dalam menciptakan pengalaman belajar yang bervariasi bagi peserta didik untuk menghindari stres. Diharapkan bahwa aspek keterampilan dan kecakapan lebih besar mendapatkan porsi pada pembelajaran jarak jauh supaya peserta didik tidak cepat merasa stres dan bosan dengan materi dan/atau pemberian tugas semata.

Alih-alih terjebak dalam metode pemberian tugas (Drill) tanpa melakukan interaksi dengan orangtua dan peserta didik, guru dapat memvariasikan media audio, visual, audio-visual, atau keterlibatan langsung (learning by doing) saat melakukan pembelajaran. Karena, menurut teori pengalaman belajar yang dikemukakan oleh Edgar Dale tersebut, semakin ke dasar kerucut, pengalaman belajar yang diterima akan semakin bermakna bagi peserta didik.

Namun, yang paling penting diingat bahwa apa pun media atau bentuk pembelajaran yang digunakan harus tetap mempertimbangkan aspek kesiapan sosial, ekonomi, budaya, sarana dan prasarana pembelajaran yang dimiliki orangtua, dan efisiensi sumber daya (data internet). Itulah kenapa, guru perlu melakukan survei awal kesiapan orangtua dan peserta didik sebelum memulai pembelajaran dan demikian juga meski tanpa pembelajaran jarak jauh.

Sebab, paradigma hubungan guru-orangtua-peserta didik yang diharapkan terbangun sekarang (belum terlambat) dan seterusnya adalah guru yang melayani kebutuhan warga sekolah. Jika guru sudah menganggap diri mereka 'pelayan', dalam arti orang yang harus mengakomodasi kebutuhan orang yang dilayaninya sesuai aturan yang berlaku, maka kejadian orangtua mengeluh karena tuntutan yang terlalu berat dari guru paling tidak akan lebih sedikit terdengar --jika tidak ada sama sekali tampak mustahil. Semoga.

Muhammad Arif guru

(mmu/mmu)