Sentilan Iqbal Aji Daryono

Banjir Forum Virtual

Iqbal Aji Daryono - detikNews
Selasa, 14 Jul 2020 16:51 WIB
Kolomnis - Iqbal Aji Daryono (Ilustrator: Edi Wahyono/detikcom)
Iqbal Aji Daryono (Ilustrasi: Edi Wahyono)
Jakarta -

"Asem! Sekarang sering banget aku dapat undangan ngisi webinar, zoom-zoom-an, tapi nggak ada amplopnya. Kalau toh ada, cuma separuh saja dari biasanya." Seorang teman yang kerap diundang untuk mengisi forum-forum diskusi mengomel demikian. Kontan saja saya ngakak tanpa ancang-ancang.

Saya tertawa bukan karena senasib dengannya, tenang saja. Zoom-zoom-an saya jarang yang bersifat diskusi, melainkan pelatihan. Dan kalau pelatihan itu ya pasti mengandung aroma industrialis-kapitalistik hahaha.

Tapi bukan itu poin yang mau saya utarakan. Poinnya, sekarang ini terjadi semacam oversupply forum-forum virtual. Akibat suplai yang berlebihan itu, berjalanlah hukum pasar: semakin banyak penawaran, semakin turun penghargaan. Dan karena harga semakin murah, bahkan banyak yang gratis, ya wajar saja kalau pembicaranya juga gratisan.

Pertanyaannya, kenapa suplai membanjir banyak sekali?

Anda pasti tahu sebabnya. Sejak awal musim wabah ini, manusia lebih banyak ngendon di rumah. Sebagian karena takut kecipratan korona, sebagian yang lain karena memang jadi bingung kalau keluar rumah lantas mau apa. Kerjaan tidak ada, warung kopi tutup, tempat-tempat nongkrong dilarang menghadirkan kerumunan, dan otomatis para karyawannya dirumahkan.

Dalam kondisi psikis yang serba tersekap itu, untunglah kita menjalani semuanya di masa digital, terlebih lagi di zaman media sosial. Mau tak mau kita pun melirik warung-warung kopi virtual itu di Facebook, di Twitter, di Instagram. Di sanalah kebutuhan kejiwaan kita untuk bersosialisasi, lebih khusus lagi untuk mengobrol langsung, dapat dipenuhi.

Awalnya memang berat. Kita belum terbiasa. Di zaman pra-korona, orang bermain medsos berbasis teks dan gambar di satu waktu, kemudian kopdar alias temu muka di waktu yang lain. Tapi saat wabah datang dan perjumpaan fisik hampir tidak memungkinkan, sementara naluri bergaul demikian meletup-letup, ruang-ruang yang sebelumnya tak termanfaatkan dengan baik di medsos itu kemudian dilahap dengan nyaris gila-gilaan.

Sebelumnya, fitur itu hanya digunakan oleh jenis-jenis tertentu dari bangsa manusia yang cukup percaya diri dengan penampilan mereka di depan kamera. Atau bisa dibilang, fitur-fitur itu selama ini hanya dipakai oleh orang-orang "penting". Tapi kemudian terjadi suatu gelombang "demokratisasi" atas penggunaan fitur tersebut, siaran live oleh siapa saja (ya, siapa saja!), saking banyaknya jiwa yang ingin berbincang-bincang langsung, jiwa-jiwa yang sangat gelisah tapi takut sama korona di depan rumah.

Dulu, saya sendiri sering pula mengunggah video di Facebook dan Instagram. Rata-rata saya main gitar dan menyanyi. Tapi video-video itu tak pernah menampilkan wajah saya, paling-paling hanya gitar serta tangan saya, atau maksimal wajah anak saya. Alasannya sama dengan Anda, yaitu saya tak cukup pede kalau muka dan mulut saya bergerak-gerak lalu disimak oleh banyak orang.

Kita selama ini memang lebih banyak hidup bersama foto-foto, gambar-gambar beku yang mungkin merupakan hasil seleksi ketat dari puluhan jepretan. Tapi video beda, dan video live jauh lebih beda. Dengan video non-live kita bisa berulang-ulang melakukan take sampai betul-betul sempurna, namun video siaran langsung tidak memberi kita kesempatan untuk mengejar nilai sempurna. Segala kepalsuan hilang di video live, dan hanya orang-orang yang sangat percaya diri sekaligus ekstrovert-lah yang mau melakukannya.

Demikianlah, saya pun menjadi saksi betapa teman-teman saya yang agak pendiam di medsos tiba-tiba mengunggah siaran langsung mereka. Saya melihat beberapa sahabat saya yang biasanya malu dengan suara mereka sendiri tiba-tiba dengan gembira menyanyi keras sekali, dan menggelar siaran live di IG dengan rajin sekali. Saya melihat amat banyak orang yang berubah menjadi seperti teman-teman yang telah saya sebutkan, dan sungguh mereka tidak sendirian.

Bahkan saya pribadi, yang sama-sama korban dari gelombang zaman, pun tiba-tiba tak malu-malu lagi siaran langsung tanpa ribet lagi dengan kecemasan lama semacam, "Aduh nanti kalau salah ucap terus di-replay orang gimana? Nanti kalau ludah nyemprot dan ketangkap kamera gimana?" Dan sebagainya.

Inilah bulan-bulan ketika para pendiam lupa caranya berdiam, dan para introvert mendadak berubah jadi sangat ekstrovert.

Saya mengerti, ini sesungguhnya cuma kelanjutan dari pola yang sama belaka dengan apa yang telah terjadi pada masa awal medsos, ketika manusia bisa memunculkan karakter yang sungguh berbeda dengan diri mereka di dunia "nyata". Tapi saat ini rasanya pola itu tengah merayap mencapai puncak paling ekstremnya, hasil dari tekanan psikologis berat yang secara massal mendorongnya.

Ya, semuanya adalah ledakan dari bom waktu kebosanan, perasaan pengap tersekap, kerinduan bersosialisasi dan jalan-jalan, dan entah emosi jenis apa lagi yang stratanya tidak jauh-jauh amat di bawah edan.

Produk konkretnya adalah obrolan dan diskusi live yang limpah ruah, dengan poster pengumuman yang melintas setiap waktu di lini masa. Sampai-sampai saya berpikir, bisa jadi semua ini merupakan gelombang gerakan massa tanpa sadar yang akan meruntuhkan otoritas pengetahuan dan otoritas media.

Mungkin bayangan itu agak berlebihan. Tapi dengan membanjirnya pilihan-pilihan forum diskusi dan seminar, di masa wabah ini sosok-sosok baru dan segar bermunculan. Mereka memecah kerumunan di panggung-panggung milik para tokoh lama penguasa kamera, menyedot jenis-jenis perhatian baru yang belum tampak sebelumnya, bersama barisan umat baru yang mungkin separuh lebihnya hanya menjadikan sertifikat digital sebagai tujuannya.

Seiring dengan itu, media-media penyedia panggung gambar bergerak juga semakin kehilangan pelanggannya. Setelah perhatian umat penonton bergeser ke saluran-saluran Youtube, kini saluran baru di laman-laman media sosial telah merebutnya.

"Ya, kamu benar, Bal. Kami memang telah merebut ruang-ruang baru itu. Tapi ya tetap saja, nggak ada transferannya." Begitu kata kawan saya tadi, meski kali ini cuma imajinasi saya. Hahaha!

Iqbal Aji Daryono penulis, aktivis webinar

(mmu/mmu)