Kolom

Kalung Anti-Corona dan Bahaya "Over" Klaim

Harpiana Rahman - detikNews
Selasa, 14 Jul 2020 13:00 WIB
Indonesia akhirnya berhasil mematenkan formula antivirus Corona dalam bentuk inhaler, diffuser oil hingga kalung antiCorona.
Foto: Istimewa/Dok. Kementan
Jakarta -
Pemberian nama atau istilah dalam bidang kesehatan bukanlah persoalan sepele. Pemberian nama penyakit ataupun obat harus disertai dengan kajian bahasa. World Health Organization (WHO) melahirkan nama penyakit Covid-19 bukan tanpa tujuan. Pemberian nama resmi Covid-19 diharapkan mampu menghindari pembentukan stigma yang berisiko menyudutkan lokasi geografis, kelompok, atau ras tertentu.

Ketidaktepatan memilih kata dalam penamaan sebuah penyakit dan obat berpeluang menimbulkan persepsi yang salah di kelompok masyarakat. Lalu bagaimana dengan kalung anti-corona yang dimiliki oleh Kementan? Betulkah hanya salah pilih nama atau bias dari perilaku over klaim? Kedua hal yang dilakukan Kementan sama-sama menyertakan risiko bahaya lain di tengah upaya pengendalian wabah Covid-19 di masyarakat.

Meski baru-baru ini Kementan telah menganulir pernyataannya terkait kemampuan klaim kalung sebagai anti-virus, namun pemberian label dengan nama Anti Virus Corona Eucalyptus dalam kemasan memperlihat celah pemerintah yang tidak berbasis bukti penelitian dalam menyusun strategi pengendalian wabah. Langkah ini jelas melewati batas dan menyalahi prosedur ilmiah.

Salah Pilih Nama

Kalung anti-corona milik Kementan tampil percaya diri dengan nama label kemasan Anti Virus Corona Eucalyptus, lengkap dengan identitas inovator, Kementerian Pertanian. Label dalam kemasan tersebut tentu memperkuat dugaan publik bahwa meski sejak awal Kementan tidak mampu menyertai produk dengan hasil penelitian, namun tetap menganggap kalung yang mengandung eucalyptus bisa melawan virus corona.

Masalah ini semakin menjadi serius dan mengundang perhatian publik, lantaran produk yang bisa menggiring opini masyarakat ini dalam tahap rencana untuk diproduksi massal pada Agustus.

Kehebohan publik di media sosial mendapat respons dari Kementan sebagai inovator kalung anti-corona. Melalui berbagai wawancara, Kementan menarik penjelasan sebelumnya dan menegaskan bahwa kalung anti-corona tidak dimaksudkan sebagai kalung yang bisa menangkal virus corona dan hanya sebagai aksesoris kesehatan.

Kementan sendiri bahkan mengakui kalung tersebut berfungsi seperti halnya minyak kayu putih yang menurut penelitian efektif melegakan pernapasan. Melalui penjelasan ini, Kementan berarti tidak melakukan kajian bahasa dan tidak mengedepankan edukasi kesehatan saat menetapkan sebuah nama.

Kalung anti-corona adalah kalung anti-corona. Secara penamaan mengartikan bahwa kalung tersebut berfungsi layaknya anti-virus yang akan menangkal dan menghambat virus penyebab Covid-19 masuk dan menginfeksi tubuh. Jika Kementan belum mampu mengantongi jurnal penelitian yang memperkuat argumen tersebut artinya kalung tersebut tidak boleh diproduksi untuk publik.

Lalu, jika kalung tersebut juga tidak bisa melakukan fungsinya sebagai sebagai anti-virus penyebab Covid-19 sebagaimana yang telah diakui Kementan sebelumnya, maka kalung tersebut hanya bisa dilabeli dengan nama Kalung Eucalyptus. Meski khasiatnya menghampiri minyak kayu putih yang beredar saat ini, paling tidak penggunaan nama Kalung Eucalyptus tidak akan menimbulkan kesalahpahaman.

Kekeliruan dalam memilih nama tentu lebih dari sekadar salah pilih nama. Meski masih dalam tahap perencanaan untuk produksi massal, Kalung Anti Corona milik Kementan yang hadir sebagai informasi publik mempertontonkan perilaku over klaim terhadap sesuatu yang belum teruji ilmiah. Jelas, langkah ini berbahaya dan tidak boleh ditiru.

Over Klaim dan Bahaya Penyertanya

Penelitian tumbuhan eucalyptus baru sampai pada klaim mampu melegakan pernapasan yang terhalang oleh dahak ataupun lendir. Tentu, langkah yang ditempuh oleh Kementan dalam rencana produksi kalung anti-corona tanpa mampu menyertakan hasil penelitian adalah perilaku over klaim. Pasalnya, belum ada penelitian yang membuktikan bahwa orang yang terinfeksi virus ini akan sembuh dengan eucalyptus.

Belum ada pula penelitian sahih yang membuktikan bahwa dengan menggantungkan eucalyptus di leher akan menghadang SARS-Cov-2 masuk melalui mulut, hidung, juga mata.

Perilaku over klaim adalah pengetahuan, sikap, dan tindakan seseorang atau sekelompok orang yang membuat pengakuan berlebihan kepada publik atau kelompok lain tanpa disertai dengan bukti yang bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Bukan kali pertama over klaim terjadi selama pandemi. Sebelumnya, over klaim juga terjadi pada tanaman rimpang dan laris di pasaran dengan nama "empon-empon anti-corona".

Over klaim empon-empon juga sempat diakui oleh pemerintah yang mengakibatkan kelangkaan tanaman dan mahalnya harga tanaman rimpang di pasaran.

Beberapa waktu sebelum pandemi, publik juga sempat dihebohkan dengan temuan siswi SMA di Kalimantan yang berhasil membuktikan kayu bajaka sebagai obat untuk menyembuhkan kanker payudara. Sayangnya temuan yang masih sebatas karya ilmiah SMA tersebut juga mendapat over klaim dari masyarakat yang berakibat mahalnya kayu bajaka di pasar online, hingga 750 per kg.

Alih-alih ingin mengendalikan penularan virus, over klaim kalung anti-corona ini hanya akan menyertakan bahaya lain dalam pengendalian wabah Covid-19. Pertama, terburu-buru mengklaim sesuatu sebagai obat tanpa mengujinya dengan prosedur ilmiah, lalu memproduksinya secara massal adalah langkah yang mencederai kerja para peneliti yang saat ini sedang berupaya untuk menemukan obat ataupun vaksin virus ini.

Dalam mengeluarkan klaim untuk obat, peneliti harus melewati bertahap-tahap uji klinis dan publikasi ilmiah hingga mendapat respons positif, bukan hanya berdasar pada testimoni satu atau dua orang saja. Menjadikan testimoni yang tidak merepresentasikan populasi tentu berisiko terhadap kesehatan. Klaim obat ataupun anti-virus tanpa uji klinis akan bertaruh nyawa.

Bahaya kedua, perilaku over klaim akan mengacaukan kerja-kerja promosi kesehatan dalam membangun kesadaran masyarakat untuk mencegah penularan Covid-19. Salah satu upaya pengendalian wabah Covid-19 melalui strategi promosi kesehatan perubahan perilaku. Upaya ini dilakukan dengan memperketat sosialisasi masif terkait penerapan protokol kesehatan sebagai satu-satunya cara untuk mencegah penularan virus SARS-Cov-2.

Promosi kesehatan dihambat oleh rumor kalung anti-corona. Mengingat seagresif apapun edukasi pencegahan Covid-19, kita tidak bisa menghindari bahwa selalu ada akselerasi masyarakat dalam mengolah informasi, seperti melonggarkan penerapan protokol kesehatan karena menganggap kalung anti-corona ampuh mencegah penularan Covid-19.

Pemerintah sebagai pemimpin dalam pengendalian wabah mestinya bisa memastikan setiap pihak, khususnya Kementerian agar dalam menerapkan strategi pengendalian wabah turut memperhatikan komunikasi, informasi, edukasi kesehatan kepada publik.

Ketiga, yang paling berbahaya adalah imbas kepada perilaku masyarakat. Kita tidak bisa menyangkal bahwa masyarakat saat ini menantikan terobosan-terobosan obat ataupun vaksin yang mampu meredakan penularan virus. Sehingga kehadiran kalung anti-corona di depan publik dikhawatirkan akan mendapat sambutan positif di masyarakat, seperti dengan membeli produk secara berlebihan dan menggunakannya sebagai kalung anti-corona yang mampu mencegah penularan Covid-19.

Dugaan ini akan semakin sulit ditepis, mengingat masyarakat Indonesia pada dasarnya memiliki pengalaman empiris melalui kebudayaan minum jamu dengan memanfaatkan tanaman obat yang dipercaya bermanfaat bagi tubuh. Perlindungan semu dengan kalung anti-corona ini tentu mengakibatkan kendurnya komitmen penerapan protokol kesehatan di masyarakat.

Pada akhirnya kalung anti-corona, yang selanjutnya diklarifikasi sebagai aksesoris kesehatan dari Kementan, justru akan meningkatkan risiko penularan kasus baru jika benar-benar diproduksi massal. Bukankah ini jauh lebih berbahaya?

Mari menanti terobosan obat, vaksin ataupun anti virus dari para peneliti yang sedang sedang berjibaku di laboratorium dengan membangun pelindungan kolektif dengan bersolidaritas menggunakan masker, mencuci tangan sebelum menyentuh wajah, dan menjaga jarak saat berinteraksi.

Harpiana Rahman dosen Peminatan Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia

(mmu/mmu)