Kolom

"Normal Baru" Biaya Kesehatan, Siapkah Kita?

dr. William - detikNews
Senin, 13 Jul 2020 12:10 WIB
Cara pakai masker
Foto ilustrasi: Shutterstock
Jakarta -
Pandemi Covid-19 beberapa bulan terakhir ini berdampak luas pada berbagai sektor di masyarakat, terutama setelah diberlakukannya kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di beberapa wilayah. Tujuan utama PSBB adalah membatasi aktivitas dan pergerakan manusia agar membantu memutus mata rantai penularan Covid-19.

Meskipun saat ini jumlah kasus positif di Indonesia masih bertambah, namun pemerintah mengambil kebijakan untuk menerapkan new normal atau normal baru secara bertahap di beberapa daerah yang telah menunjukkan penurunan kasus. Kebijakan new normal ini pastinya akan menimbulkan banyak kebiasaan dan standar baru, khususnya dalam bidang kesehatan dan perekonomian.

Tidak dapat dipungkiri, pada era new normal akan terdapat banyak standar maupun prosedur baru yang perlu dipatuhi baik oleh masyarakat, tenaga dan fasilitas kesehatan, serta pihak-pihak lainnya yang berkecimpung di dunia kesehatan. Standar baru ini melibatkan bermacam-macam alat dan bahan habis pakai kesehatan, di mana fenomena tersebut akan berkorelasi dengan sektor ekonomi, yaitu membentuk pos anggaran yang baru.

Standar Baru di Masyarakat

Semua orang tanpa terkecuali diimbau oleh pemerintah untuk selalu mempraktikkan protokol kesehatan, apalagi jika sedang berada di luar rumah. Kebiasaan seperti mencuci tangan menggunakan air mengalir dan sabun, disinfeksi menggunakan alkohol atau hand sanitizer, serta penggunaan masker tentu harus menjadi budaya sehari-hari saat ini.

Guna mengakomodasi beberapa hal tersebut, masyarakat tentunya perlu menyisihkan anggaran tertentu. Kegiatan mencuci tangan yang lebih sering di rumah, misalnya, akan meningkatkan anggaran untuk air bersih beserta sabun. Belum lagi penggunaan hand sanitizer dan masker, terutama masker sekali pakai, yang perlu diganti setelah beberapa jam dipakai. Anggaran juga mungkin akan bertambah bila vaksin Covid-19 berhasil ditemukan dalam waktu dekat.

Beberapa kegiatan seperti bepergian ke luar kota atau luar negeri pun memerlukan keterangan hasil tes Covid-19, baik rapid test maupun pemeriksaan swab polymerase chain reaction (PCR). Satu kali rapid test SARS-CoV-2 memerlukan setidaknya dua ratus ribu rupiah. Sementara itu, biaya pemeriksaan swab PCR berkisar antara satu hingga dua juta rupiah.

Standar Baru bagi Tenaga dan Fasilitas Kesehatan

Pengaruh kebijakan new normal terbesar bisa dikatakan terdapat pada tenaga kesehatan (nakes) maupun berbagai level fasilitas kesehatan (faskes). Mulai saat pandemi berlangsung, berbagai standar baru untuk nakes dan faskes sudah diterapkan. Sebut saja penggunaan alat pelindung diri (APD) lengkap untuk nakes, disinfeksi berkala pada berbagai tempat, hingga pembuatan ruangan baru bertekanan negatif untuk isolasi pasien Covid-19.

Berbagai jenis APD yang merupakan hal wajib saat ini tentunya memerlukan biaya yang tidak sedikit. Apabila ditelaah lebih jauh, satu kali pemakaian APD memerlukan anggaran hingga ratusan ribu rupiah, di mana baju hazmat merupakan salah satu item yang termahal. Baik faskes pemerintah melalui anggaran pemerintah maupun faskes swasta melalui biaya pribadi mau tidak mau harus menyediakan pos anggaran baru untuk hal ini pada masa new normal.

Tantangan untuk Pihak Ketiga

Selain masyarakat, nakes, dan faskes jangan lupa pula masih ada berbagai pihak lain yang terdampak perencanaan biayanya pada era new normal ini. Tempat publik seperti sekolah, tempat ibadah, mall, bandara, stasiun, dan lain-lain perlu mengikuti standar new normal dengan menyediakan tempat cuci tangan dan sabun maupun hand sanitizer dalam jumlah cukup serta termometer tembak. Pengadaan dan pemeliharaan fasilitas-fasilitas ini perlu dipikirkan biayanya.

Satu pihak lain yang juga harus merancang pembiayaan baru di era new normal adalah lembaga penjamin kesehatan, seperti Badan Penyelenggaraan Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan maupun asuransi swasta. Sementara ini, biaya pengobatan pasien positif Covid-19 rata-rata masih ditanggung oleh pemerintah. Namun, ke depannya pihak penjamin perlu memetakan ulang anggaran untuk diagnosis Covid-19 karena World Health Organization (WHO) telah memprediksi bahwa SARS-CoV-2 akan tetap ada selama beberapa tahun ke depan.

Saat ini, beberapa negara sudah melaporkan penurunan kasus positif Covid-19. Kita semua juga berharap agar Indonesia dapat segera mengalami penurunan jumlah kasus bahkan terbebas dari pandemi Covid-19. Dalam masa transisi ini, baiklah kita semua memikirkan ulang dan mempersiapkan anggaran kesehatan baru dengan cermat agar dapat menjalani masa new normal dengan lancar.
dr. William staf pengajar Departemen Biologi Kedokteran Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, Residen Andrologi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga/RSUD Dr. Soetomo

(mmu/mmu)