Kolom

Joget "Jamet Kuproy", Tiktok, dan Ekspresi Folklor Urban

Puji Hastuti - detikNews
Sabtu, 11 Jul 2020 13:49 WIB
TikTok Bantah Tuduhan Bagikan Data Pengguna India ke Pemerintah Cina
Foto: DW (News)
Jakarta -
Masih lekat dalam ingatan, beberapa waktu yang lalu, warganet +62 dibuat heboh dengan video tiktok joget Jamet Kuproy. Video tiktok tersebut menampilkan seorang pria dengan potongan rambut "nyentrik" berjoget dengan latar iringan lagu Dinding Badinding.

Seketika, istilah "Jamet Kuproy" menjadi viral bersamaan dengan menyebarluasnya video tersebut di jagat maya. Suguhan spontan tanpa konsep dan teknik videografi mumpuni (hanya berbekal aplikasi video Tiktok), kemudian diterima, diikuti, dan menjadi fenomena folklor urban warganet.

Counterculture

Secara etimologis, frasa "Jamet Kuproy" berasal dari dua kata, yaitu Jamet dan Kuproy. Kata "Jamet" merupakan akronim dari Jawa metal. Sebenarnya, istilah "Jamet" sudah pada tahun 2000-an. Asalnya, kelompok ini merujuk pada sekumpulan pemuda beretnis Jawa yang menggemari aliran musik punk/metal. Karena kegemaran aliran musik yang dianggap tak lazim, makna Jamet mengalami peyorasi. Frasa Jamet menjadi ejekan bagi orang-orang yang bertingkah laku tidak sesuai pakem masyarakat.

Padahal, menurut Craig O'Hara (1997) dalam Philosophy of Punk, komunitas punk merupakan gerakan counterculture. Motivasi dari gerakan counterculture adalah pemberontakan. Sehingga, tidak jarang komunitas punk berperilaku mendobrak pakem nilai dari masyarakat umum. Kondisi demikian tidak lepas dari latar belakang ekonomi komunitas punk yang kebanyakan berasal dari kelas menengah ke bawah.

Sedangkan "Kuproy" merupakan akronim dari kuli proyek, frasa yang diciptakan netizen. Diketahui bahwa pria-pria dalam video joget "Jamet Kuproy" memiliki latar belakang pekerjaan sebagai kuli proyek dan berlatar belakang etnis Jawa-Madura. Tuntutan pembangunan membuat kebutuhan pekerja kuli proyek cukup tinggi. Beban pekerjaan dan tekanan ekonomi untuk menjalani hidup telah melahirkan ekspresi budaya kelas "Jamet Kuproy". Ekspresi ini menjadi istimewa, karena muncul material budaya urban yang tidak umum (common sense).

Selain unsur musik, perilaku memberontak para Jamet Kuproy terlihat dari gaya rambut dan berpakaian. Sejalan dengan peneliti gerakan punk di Barat, Stacey Thompson (2004) mencatat, counterculture komunitas punk-metal salah satunya dikategorikan dengan fashion yang bisa mencakup gaya berpakaian dan gaya rambut. Jamet Kuproy identik dengan baju kedodoran dan celananya yang ketat. Celana ketat pensil yang dipakai juga sering kali sobek-sobek.

Tak hanya tampilan busana yang nyentrik, para "Jamet Kuproy" juga memiliki gaya gambut yang tidak biasa. Rambut tengah dibentuk lancip naik ke atas atau dikenal dengan istilah mohawk. Agar rambut dapat berdiri lancip dan tegak biasanya anak-anak punk menggunakan putih telur sampai lem fox. Sementara rambut bagian tengah dibiarkan berdiri tegak, para Jamet kuproy menata rambut bagian samping agar lurus lancip jatuh ke bawah. Tampilan "fashion nyentrik" dari para Jamet Kuproy dapat dikategorikan sebagai gerakan counterculture terhadap nilai dan norma berpakaian masyarakat umum.

Mengundang Tawa

Reaksi netizen setelah menonton video tiktok joget "Jamet Kuproy" umumnya tertawa. Kesan lucu yang diberikan dari video tersebut berasal gerakan spontan dan apa adanya. Kondisi ini sejalan dengan salah satu ciri folklor tercipta secara tiba-tiba. James Danandjaja (1994), seorang ahli folklor Indonesia membuat sembilan penggolongan ciri-ciri folklor. Salah ciri yang disebutkan oleh Danadjaja, folklor bersifat "polos" dan "lugu".

Spontanitas membuat folklor tercipta secara polos dan lugu, sebuah ekspresi apa adanya. Ekspresi tanpa rekayasa justru membuat folklor memiliki makna ketulusan mendalam. Setuju Danandjaja, folklor merupakan proyeksi emosi manusia yang paling jujur manifestasinya.

Meski mengundang gelak tawa, sebenarnya video joget tiktok Jamet Kuproy menyimpan makna ironis. Apabila dihubungkan dengan konteks Jamet Kuproy sebagai counterculture, video joget tiktok menyimpan kebutuhan ekspresi hiburan dalam waktu singkat. Beban pekerjaan dan tekanan ekonomi telah menyita banyak waktu pekerja proyek. Tidak seperti masyarakat pra-modern, Jamet Kuproy tidak memiliki keistimewaan leisure time untuk berkegiatan seni yang butuh waktu lama dan penghayatan. Kondisi ini menjadi ciri dari folklor urban, sebagaimana yang disebutkan oleh Dundes dan Pagter (1987) sebagai respons kepedihan atas kehidupan perkotaan (the ills of urban life).

Tiktok menjadi kanal media para Jamet Kuproy untuk berekspresi. Beban kerja tinggi dan tekanan ekonomi hidup modern membuat Tiktok menjadi media yang paling terjangkau oleh Jamet Kuproy. Kebutuhan berekspresi secara instan diakomodasi oleh Tiktok dengan menawarkan kemudahan akses dan penggunaan. Untuk bisa menggunakan Tiktok, tidak perlu keahlian khusus yang memerlukan jangka waktu belajar lama. Karena itu, tiktok menjadi media yang sempurna bagi pendokumentasian dan penyebaran ekspresi spontan dari Jamet Kuproy.

Perkembangan teknologi telah mempengaruhi perubahan bentuk folklor, khususnya pada masyarakat perkotaan yang lekat dengan akses media digital. Penyebarluasan informasi melalui internet ikut membentuk batas "folk" yaitu kolektif yang memiliki keterikatan material budaya "folk". Tiktok menjadi media yang dipilih oleh para Jamet Kuproy untuk berekspresi membawa implikasi batasan kolektif folklor. Peluang penyebaran material budaya "Jamet Kuproy" melalui media internet sangat luas sehingga tidak ada lagi batasan etnis maupun wilayah.

Hiburan Ironis

Lagu Dinding Badinding dapat dikatakan sebagai anthem dari joget "Jamet Kuproy". Dinding Badinding merupakan lagu daerah (folk song) masyarakat Pariaman, Sumatra Barat. Folk song ini digunakan untuk mengiringi pertunjukan Tari Indang, tarian muda-mudi Pariaman yang membawa spirit komunal. Pada video tiktok joget "Jamet Kuproy", Dinding Badinding diaransemen ulang dengan menggunakan musik elektronik dengan lirik tidak utuh.

Penggalan lirik lagu yang dipilih ada pada bagian refrein yakni dinding badinding, oy dinding badinding kemudian diselipkan celetukan aye dan yiha di sela-sela pengulangan lirik tersebut. Remix jenaka lagu ini menambah kelucuan video joget yang dilakukan oleh "Jamet Kuproy" di kanal Tiktok.

Dalam ilmu folklor, ada beberapa jenis folk song, salah satunya adalah nyanyian dialek yang masuk jenis nyanyian jenaka. Aspek jenaka dalam nyanyian dialek erat kaitannya dengan persepsi masyarakat di luar dari komunitas nyanyian tersebut berasal. Tentu beda apabila kita mendengarkan lagu Dinding Badinding sebagai iringan pertunjukan Tari Indang. Kesan semangat komunal kaum muda akan dominan.

Meski telah banyak penjelasan secara historis folk song Dinding Badinding bersamaan dengan viralnya video joget Jamet Kuproy, pengetahuan tersebut belum menjadi momentum yang melekat di benak netizen Indonesia. Dialek etnisitas justru lebih menonjol, sekaligus merupakan unsur kelucuan dari video tiktok joget "Jamet Kuproy".

Jamet Kuproy merupakan ekspresi folklor urban atas "ideologi kelas" yang diciptakan oleh struktur masyarakat modern. Meski murah dan mudah, Tiktok menjadi simbol hiburan ironis bagi para Jamet Kuproy dan para netizen. Kebutuhan untuk melepas penat dengan cara kilat merupakan inti yang menggerakkan ekspresi folklor urban. Batasannya bukan lagi etnis atau basis kewilayahan, tapi kelas sosial.

(mmu/mmu)