#AmanBersamaGojek Lawan Manipulasi Psikologis di Era New Normal

Adityo Hidayat - detikNews
Rabu, 08 Jul 2020 15:50 WIB
Adityo Hidayat - Adjunct Researcher CfDS
Foto: dok Pribadi
Jakarta -

Tatanan Transaksi Digital yang Baru

Pandemi COVID-19 telah mengubah pola konsumsi dan transaksi konsumen Indonesia. Saat ini lebih banyak konsumen bergantung pada platform digital untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dapat dilihat sejak adanya imbauan pembatasan sosial skala besar (PSBB) oleh pemerintah Indonesia di bulan Maret 2020, tercatat adanya peningkatan penggunaan aplikasi belanja dan produktivitas, dengan kenaikan hingga 400 persen. Konsumen Indonesia juga dianggap cukup mudah beradaptasi dengan tatanan baru dengan mengalihkan transaksi offline ke online. Tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan primer seperti bahan makanan, masker, vitamin dan hand sanitizer, namun juga kebutuhan hiburan seperti gim, pembayaran tagihan listrik, pulsa, e-commerce dan keperluan donasi, seperti pembayaran zakat yang dilakukan melalui e-money seperti GoPay di dalam aplikasi Gojek.

Menurut catatan Gojek, memasuki masa new normal, bukan hanya jumlah transaksi digital yang naik. Namun ternyata jumlah pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang bergabung menjadi mitra pun semakin tinggi. Tujuan utama para mitra baru tersebut tentunya adalah agar dapat bertransaksi secara digital di dalam ekosistem Gojek di tengah-tengah himpitan PSBB. Hanya dalam waktu tiga bulan, di tengah-tengah pandemi COVID-19, terdapat 100 ribu UMKM baru yang bergabung menjadi mitra. Situasi tersebut tentunya mendorong terciptanya sebuah tatanan transaksi digital yang semakin besar. Lebih jauh, periode new normal secara tidak langsung mendorong tercapainya status cashless society menjadi lebih cepat daripada kondisi normal. Internalisasi cashless society yang lebih cepat ini dapat diamati dari kebijakan yang dikeluarkan pemerintah.

Terhitung semenjak tanggal 1 Juni 2020, pemerintah memberlakukan tahapan new normal untuk pemulihan ekonomi dengan protokol perilaku berbelanja yang baru. Salah satu protokol perilaku berbelanja yang baru adalah semakin gencarnya imbauan (bahkan di beberapa tempat berupa kewajiban) untuk melakukan transaksi secara digital di tempat perbelanjaan; penggunaan uang tunai dihindari, e-money digalakkan.

Ancaman Kejahatan Digital Manipulasi Psikologis Senantiasa Mengintai

Di tengah-tengah masyarakat Indonesia melaju kencang menuju cashless society, kejahatan digital dengan teknik manipulasi psikologis (rekayasa sosial) tidak dapat diabaikan. Kejahatan digital manipulasi psikologis sendiri bukanlah fenomena baru di Indonesia. Kajian tren penipuan dengan teknik manipulasi psikologis yang dilakukan oleh CfDS dari tahun 2013 hingga akhir tahun 2019, berhasil mengelompokkan kasus dan modus penipuan menjadi dua bagian yaitu modus rekayasa sosial sebelum fintech menjadi popular, yakni dari tahun 2013 hingga 2017 dan setelah fintech menjadi popular, periode tahun 2018 hingga 2019.

Modus-modus awal penipuan berbasis manipulasi psikologis yang terjadi adalah undian berhadiah, peretasan email dan mama minta pulsa. Setelah fintech menjadi populer, beberapa modus seperti undian berhadiah maupun keadaan darurat yang mengharuskan pengguna untuk memberikan data pribadi kepada pelaku masih menjadi salah satu modus terbanyak. Yang berbeda kali ini penipu berusaha mendapatkan kode OTP melalui SMS maupun telepon. Pada akhir tahun 2019, terjadi kasus penipuan manipulasi psikologis yang lebih advanced dengan korban seorang artis, dimana pelaku menggunakan fitur call forwarding untuk mendapatkan kode OTP korban.

Hingga kini, lonjakan yang signifikan pada transaksi digital di masa pandemi COVID-19 juga berbanding lurus dengan meningkatnya tingkat kejahatan manipulasi psikologis maupun peretasan. Riset IBM menunjukkan lonjakan peretasan global hingga 6.000 persen selama pandemi. Pandemi COVID-19 menimbulkan kecemasan dan kepanikan bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Memanfaatkan situasi psikologis tersebut, pelaku kejahatan memanfaatkan kepanikan dan keingintahuan pengguna pada masa pandemi sebagai salah satu modus penipuan. Mengirimkan link yang berisi info tentang COVID-19 hingga meminta kode OTP di luar aplikasi menjadi modus jitu peretas dalam mencuri data pribadi pengguna selama masa pandemi.

Di tengah-tengah perkembangan modus, teknik, dan media penipuan maka dapat disimpulkan bahwa manusia atau pengguna layanan, sebagai pihak yang memiliki data, adalah pihak terpenting dalam rantai keamanan digital. Oleh karenanya, pengguna layanan digital perlu sadar secara mandiri untuk meningkatkan kompetensi keamanan. Tujuannya agar masyarakat Indonesia memasuki periode new normal berbekal dengan kompetensi keamanan platform digital yang mumpuni dan sesuai perkembangan situasi.

Masih Banyak Pengguna Gagap Teknologi

CfDS merumuskan kompetensi keamanan teknologi digital (KKTD) dimana terdapat tiga kategori tingkat kompetensi pengguna teknologi di Indonesia:

Dasar (basic) yaitu kategori pengguna yang masih sangat rentan terhadap penipuan dengan teknik rekayasa sosial, misalnya dengan sadar membagikan kode one time password (OTP),
Menengah (intermediate), kelompok ini memiliki perhatian mengenai dasar keamanan dalam bertransaksi dan membagikan data pribadi, namun masih cukup rentan terhadap penipuan teknologi dengan teknik rekayasa sosial,
Lanjutan (advanced), dimana pengguna mengetahui perintah-perintah digital yang tidak umum dan aktif memperbarui dirinya dengan informasi mengenai penipuan dengan teknik rekayasa sosial.

Mengacu pada kompetensi dalam KKTD, pengguna teknologi di Indonesia masih berada pada tingkat kompetensi basic hingga intermediate. Berkaca dari beberapa kasus pencurian data di masa puncak penggunaan platform digital, ada beberapa langkah pencegahan yang dapat dilakukan; mengganti password akun digital secara berkala, membiasakan diri untuk menggunakan akses keamanan lebih dari satu (sebagai contoh password dan sidik jari) serta meneliti terlebih dahulu reputasi platform digital maupun penjual dalam platform digital tersebut sebelum bertransaksi. Pengguna layanan platform digital sebaiknya selalu proaktif memperbaharui pengetahuan mengenai modus penipuan manipulasi psikologis secara rutin. Berdasarkan sejumlah kasus penipuan yang dirangkum oleh CfDS dari tahun 2018 sampai tahun 2019, para korban seringkali belum memahami pentingnya keamanan data sebagai pengguna teknologi digital.

Penipuan Berbasis Manipulasi Psikologis Harus Dilawan Bersama

Peningkatan transaksi digital konsumen Indonesia di masa new normal ini harus dibarengi dengan peningkatan resiliensi pengguna. Hal ini dikarenakan penipuan dengan teknik manipulasi psikologis seringkali memanfaatkan kurangnya kompetensi keamanan pengguna teknologi. Untuk meningkatkan kompetensi tersebut, para pemangku kepentingan, industri teknologi, pemerintah dan regulator, organisasi masyarakat, akademisi dan pengguna, akan memainkan peran yang krusial. Beberapa inisiatif yang dapat dilakukan bersama antara lain adalah penyelenggaraan kampanye anti-penipuan rekayasa sosial, penyediaan sarana edukasi melalui platform elektronik, dan diskusi publik mengenai pencegahan penipuan dengan teknik manipulasi psikologis.

Inisiatif seperti #AmanBersamaGojek yang diluncurkan di awal tahun 2020 merupakan wujud nyata bentuk kolaborasi multi-stakeholder yang efektif. #AmanBersamaGojek memiliki 3 pilar utama, yaitu; (1) Edukasi keamanan bertransaksi (2) Keandalan sistem teknologi dengan perlindungan Gojek SHIELD dan (3) Ekstra proteksi Jaminan Saldo GoPay Kembali. Upaya-upaya tersebut bertujuan untuk meningkatkan kompetensi keamanan pengguna teknologi digital, mengingat semakin mapan tingkat kompetensi keamanan teknologi digital pengguna platform maka keberhasilan tindakan manipulasi psikologis semakin kecil. Masih dalam rangkaian #AmanBersamaGojek, di bulan Maret 2020 yang lalu, CfDS dan Gojek menyelenggarakan webinar bertajuk "Aman Beraktivitas Di Platform Digital Selama Pandemi COVID-19.". Webinar ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran bahwa memasuki periode new normal, kejahatan digital berbasis manipulasi psikologis (magis) tetap akan terus meningkat. Kegiatan edukasi dan diskusi publik dengan melibatkan stakeholder dan publik sangatlah penting untuk diadakan secara rutin. Hal ini dengan tujuan untuk memastikan edukasi kepada publik berjalan secara rutin dan menyasar tidak hanya masyarakat di Jakarta tetapi juga daerah lainnya di Indonesia.

Harapan kita bersama tentunya adalah peningkatan kompetensi masyarakat menuju level advanced sehingga para pengguna layanan platform digital aman bertransaksi digital. Namun pada akhirnya, para pengguna teknologi juga wajib berupaya aktif untuk meningkatkan kompetensi keamanan digital masing-masing di masa pandemi ini. Pengguna bertanggung jawab untuk menjaga kerahasiaan data pribadi dan memastikan bahwa informasi tersebut tidak jatuh kepada pihak yang memanfaatkan kesempatan di masa new normal.

Adityo Hidayat, S.Kom, M.B.A., CISA Adjunct Researcher CfDS

(ega/ega)