Kolom

New Normal dan Tetek Bengeknya

Devilaria Damanik - detikNews
Rabu, 08 Jul 2020 14:00 WIB
Poster
Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom
Jakarta -

Masyarakat jelas sudah "muak" menyangkut semua tentang Covid-19. Pemberitaan tentang kasus Covid-19 tidak ada habisnya. Covid-19 bak singa lapar yang siap menerkam siapa saja. Setiap hari pemerintah menyajikan pengumuman korban baru. Kabar tersebut menunjukkan bahwa tidak ada kepastian kapan pandemi akan berakhir. Padahal kita sudah mencoba bersembunyi di balik dinding-dinding rumah kita. Menanti Covid-19 berlalu. Namun kasus tak jua berhenti.

Alhasil, Presiden Joko Widodo pun mengajak masyarakat untuk berdamai. Tak lagi melarang, pemerintah bahkan mendorong agar masyarakat dapat kembali melakukan aktivitas dan tetap bekerja memenuhi kebutuhan. Pemerintah mengajak masyarakat berdamai dengan Covid-19 menggunakan jargon new normal.

Dalam forum diskusi webinar mengenai Semiotika New Normal dan Kesehatan Masyarakat (26/6) yang digagas oleh Epi-Treat Unit USU, Prof. Dr. Albiner Siagian (FKM USU) mengingatkan bahwa seharusnya pemerintah tidak melupakan bahwa new normal itu bukan masa normal. New normal adalah era nanti, bukan sekarang. Seharusnya new normal itu meningkatkan kewaspadaan pemerintah akan risiko masih adanya paparan virus kepada masyarakat --yang memaknai new normal seperti normal.

Senada dengan itu, dosen di FK Udayana Dinar Lubis, SKM, MPH, PhD mengungkapkan sisi bahaya dari new normal. Indonesia, sebutnya, beruntung karena negara yang menerapkan new normal sudah ada. Di antaranya Spanyol dan Jerman. Di dua negara itu, ketika dilakukan pelonggaran, yang terjadi adalah lonjakan kasus. Menurut lulusan Selandia Baru ini, new normal tidak cocok untuk semua orang. Ada yang bisa melaksanakan protokol kesehatan, tetapi ada banyak yang tidak bisa.

Pedagang pasar dan kuli bangunan misalnya, situasi pekerjaan mereka menyebabkan mereka tidak mudah menerapkan prinsip jaga jarak. Maka, akibatnya tempat bekerja masyarakat akan sangat menentukan keberhasilan dari protokol new normal.

Dr. Rico Sitorus, S.KM, M.Kes, epidemiolog dari FKM Unsri pun merasa bahwa sebetulnya kita belum siap dengan new normal. Seharusnya yang perlu dilaksanakan adalah pembatasan sosial berskala besar (PSBB) yang ketat. Ia mengkritik aturan PSBB dengan hukuman pun telah dibuat tetapi tidak pernah diterapkan. Akibatnya, seperti disampaikan di atas, angka kasus tak juga turun-turun.

Bukan Angin Segar

Perdebatan new normal cukup hangat karena nyala Covid-19. Kata new normal memang bukan angin segar di tengah panasnya situasi yang diakibatkan Covid-19. Namun new normal adalah solusi agar masyarakat dapat menjalankan kembali kehidupan yang normal dengan gaya baru, gaya yang disesuaikan dengan keadaan. Terkait dengan itu komunikasi pemerintah dan masyarakat menjadi kunci.

Keputusan pemerintah menetapkan new normal bak memakan buah simalakama. Ada konsekuensi yang diterima. Di satu sisi roda ekonomi akan membaik, di sisi lain kasus Covid-19 yang bisa meledak. Seperti yang disampaikan ketiga narasumber dalam diskusi tadi, new normal bukan masa normal karena bahaya virus terus mengintip. Pemerintah harus waspada dan mewanti-wanti masyarakat agar siaga dan tidak lengah. Pemerintah harus jelas dan tegas dalam mensosialisasikan new normal.

Sisi positif dari new normal dapat mencegah meledaknya pengangguran dari perusahaan yang oleng. Masyarakat dapat kembali bekerja. Namun new normal punya sisi negatif, memantik meledaknya kasus Covid-19.

Sebenarnya ada beberapa syarat yang dianjurkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebelum menerapkan new normal, yakni keberhasilan dalam menekan penyebaran virus, penyediaan fasilitas kesehatan dan upaya penanganan yang memadai, serta pemberlakuan protokol kesehatan. Apakah Indonesia sudah memenuhi syarat yang direkomendasikan WHO? Jujur kita katakan, tidak semua wilayah.

Protokol kesehatan, memakai masker, cuci tangan, dan jaga jarak jelas tidak bisa di semua tempat. Respons dari masyarakat dalam new normal memang beragam. Malah ada masyarakat yang beranggapan virus sudah dapat diatasi. Pemerintah harus mengkomunikasikan kepada masyarakat bagaimana new normal itu secara gamblang.

Besar harapan Presiden Joko Widodo masyarakat tetap produktif dan aman dari Covid-19. Maka protokol kesehatan harus dengan pengawasan yang benar-benar ketat. Tidak boleh ada kelalaian --pemerintah tidak boleh lalai sedikit pun. Wabah ini mengancam kehidupan.

Tim Komunikasi Publik Gugus Tugas Nasional Reisa Broto Asmoro harus mengedukasi masyarakat, memupuk pengetahuan bahwa new normal berbeda dengan normal. Jika pemerintah mau penerapan new normal berjalan baik haruslah ada pemeriksaan, ketegasan, sosialisasi, dan evaluasi di tempat-tempat yang rentan.

Bukan Sekadar Aturan

Pentingnya pengetahuan dan kesadaran dari masyarakat mengenai new normal akan membuat masyarakat paham bahwa protokol kesehatan bukan sekadar aturan, melainkan justru bentuk kepedulian terhadap diri sendiri dan orang lain. Masyarakat harus terbiasa dengan adaptasi baru --bagaimana masyarakat yang keluar rumah tanpa masker dianggap aneh, orang yang kontak fisik dengan non keluarga dianggap aneh, dan orang yang kumpul-kumpul dianggap aneh.

Jika orang yang tidak melakukan protokol kesehatan dianggap aneh, maka sesungguhnya orang-orang telah sadar benar hidup new normal.

Seorang karyawan yang merantau di Ibu Kota mengatakan bahwa ia melakukan protokol kesehatan bukan semata-mata karena takut denda atau tindakan tegas dari pemerintah. Ia melakukan protokol kesehatan karena bentuk kepeduliannya terhadap diri sendiri. Bahkan ia selalu beranggapan siapa saja bisa membawa virus baik teman-temannya maupun rekan kerja. Jadi ia memproteksi diri dengan tetap curiga siapapun bisa menularkannya.

Tidak salah memang. Di tempat kerjanya sudah memperbolehkan 50% karyawan masuk kantor. Pemeriksaan suhu tubuh rutin dilakukan. Jika ada gejala deman, batuk, pilek tidak boleh masuk kantor.

Flash back, ketika tagar "di rumah aja" ramai dikampanyekan banyaknya orang yang bosan, stres, ekonomi menurun bahkan tidak ada penghasilan. Manusia mengalami hidup bak burung, hidup dalam sangkar. Walau ada di antaranya masih bebal tetap keluyuran. Diam di rumah membuat banyak dari masyarakat tidak berpenghasilan.

New normal adalah jalan kita untuk tetap hidup beraktivitas seperti sebelumnya, karena virus ini akan berbuntut panjang; pagebluk yang entah kapan berakhir. Jadi, daripada berpasrah diri, tetaplah beraktivitas dengan protokol kesehatan; bukan karena takut aturan, tapi karena kesadaran untuk berusaha tetap hidup. Jangan lengah!

(mmu/mmu)