Kolom

Mengubah Mental untuk Melihat ke Masa Depan

Arindra Karamoy - detikNews
Selasa, 07 Jul 2020 10:16 WIB
Poster
Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom
Jakarta -
Mengubah model mental untuk mau melihat ke masa depan bukanlah hal yang mudah. Melihat masa depan (foresight) hakikat utamanya adalah mendeteksi dini segala ancaman yang mungkin untuk datang mengancam suatu negara atau organisasi. Dengan menggunakan suatu metode, kita dapat melihat kemungkinan-kemungkinan yang terjadi di masa depan. Sehingga kita dapat mengantisipasi perubahan dan kemungkinan yang akan datang; perubahan yang dapat menjadi ancaman dan juga peluang.

Perubahan tidak selamanya bergerak perlahan-lahan. Ada perubahan yang datang secara tiba-tiba dan mengubah segalanya dengan cepat. Perubahan demikian dapat digolongkan sebagai kejadian wild card. Yakni kejadian yang kemungkinan terjadinya sangat kecil, tapi jika terjadi akan berdampak sangat besar.

John Rockfellow menulis sebuah artikel pada 1994 di sebuah penerbitan bernama The Futurist. Ia melaporkan bahwa saat itu terdapat laporan tentang skenario-skenario wild card yang dapat muncul. Premis dari skenario ini berdasarkan pada: kejadian tersebut mulai terlihat pada awal abad ke-21, kemungkinan terjadinya sangat kecil, satu berbanding 10, bahkan dapat kurang dari itu, dan yang terakhir, kejadian tersebut akan berdampak besar bagi perusahaan-perusahaan bisnis internasional

Skenario pertama adalah Hong Kong berjaya di Tiongkok. Skenario ini melihat bahwa pada 1997, Inggris melepas Hong Kong --melepas masalahnya ke Tiongkok. Yang kedua, Eropa menjadi negara kawasan. Skenario ini mencoba melihat bahwa pada tahun 2000, negara-negara Eropa sepakat untuk meninggalkan negara bangsa menjadi suatu penggabungan negara. Saat itu ia memperkirakan bahwa kemungkinan terjadinya hal ini memang kecil, tapi akan berdampak besar jika terjadi nanti.

Ketiga, ekonomi tanpa karbon. Bumi menjadi lebih panas akibat dari gas rumah kaca di dalam atmosfer. Dunia mengalami lebih banyak bencana perubahan cuaca yang signifikan, badai, dan lain-lain.

Di atas adalah contoh-contoh skenario yang dapat timbul akibat kejadian wild card. Skenario tentu tidak 100% akurat, tapi membuat kita untuk selalu siap jika ia benar-benar terjadi. Skenario wild card menuntut kita untuk berani berfantasi dalam menggambarkan masa depan. Sehingga kemudian dapat membuat kita melihat ancaman sekaligus kesempatan yang mungkin terjadi.

Skenario-skenario di atas dibuat sekitar tahun 1994. Sekarang kita maju 26 tahun kemudian. Di tahun 2020 terjadi kejadian wild card yaitu pandemi virus Covid-19. Tidak ada yang menduga sebelumnya di awal tahun hingga pertengahan tahun 2020, bahkan mungkin akan lebih lama lagi, seluruh dunia dilanda pandemi virus. Semua tatanan dan aspek kehidupan manusia di seluruh dunia mengalami dampak yang sangat dahsyat. Dari masalah kesehatan, ekonomi, sosial-budaya, dan lingkungan semua terkena imbasnya. Covid-19 adalah wild card. Sesuatu yang awalnya banyak pihak menganggap memiliki kemungkinan kecil, namun implikasinya sangat masif.

Harus Dimiliki Pemerintah

Aktivitas foresight perlu dilakukan oleh lembaga-lembaga negara khususnya, baik itu lembaga eksekutif, legislatif, maupun yudikatif. Keon Chi (1991) menjelaskan bahwa aktivitas foresight yang dilakukan oleh badan-badan negara berguna untuk; pertama, dapat membantu para pemimpin daerah/lembaga atau bahkan negara dalam mengantisipasi masa depan dan perubahan dalam bidang sosial, ekonomi, dan lingkungan.

Kedua, dapat menggambarkan tujuan jangka panjang bagi badan/lembaga pemerintahan. Ketiga, foresight dapat membantu pemimpin untuk mengambil keputusan yang terencana dan dipikirkan dengan masak. Keempat, dapat meningkatkan komunikasi dan kolaborasi antara eksekutif, legislatif, yudikatif, dan juga swasta. Kelima, di era yang penuh tantangan untuk mempertahankan diri dari ancaman, aktivitas foresight sangat diperlukan bagi lembaga pemerintahan.

Foresight menghadapi wild card harus segera dimiliki oleh pemerintah. Misalnya untuk pandemi di masa datang yang siapa tahu lebih dahsyat. Pandemi atau bahkan penyakit yang mungkin belum terbaca saat ini. Ada beberapa cara, yang pertama, goal setting. Metode ini menentukan visi atau tujuan apa yang akan dicapai suatu negara. Dalam konteks pandemi misalnya dapat dimulai dengan mengajukan pertanyaan seperti, bagaimana menuju negara yang selalu siap dalam bidang medis menghadapi pandemi? Apa langkah-langkahnya menuju kondisi tersebut?

Kedua, identifikasi isu. Metode ini digunakan untuk mengidentifikasi isu-isu kebijakan dan masalah-masalah yang mungkin akan dihadapi negara dalam 5 hingga sepuluh tahun ke depan. Terkait pandemi, pertanyaan-pertanyaan awal misalnya: pandemi seperti apa yang mungkin terjadi nanti? Bagaimana kemungkinan penyebaran dan karakter dari virusnya nanti? Kebijakan apa yang perlu dibuat jika pandemi berikutnya terjadi?

Ketiga, metode analisis tren. Metode ini untuk menganalisis trend dengan cara melihat keadaan sekarang dan perkiraan masa depan. Misalnya, tren masyarakat digital apakah akan semakin luas meliputi seluruh masyarakat hingga pelosok. Sehingga perlu diperhatikan misalnya terkait dengan hoaks atau berita-berita yang meresahkan terkait penyakit di kemudian hari. Sehingga pemerintah dapat mempersiapkan suatu kebijakan yang perlu dilakukan untuk mengantisipasi hal tersebut.

Yang terakhir, metode masa depan alternatif. Metode ini adalah melihat masa depan dengan berbagai macam skenario. Biasanya ada empat skenario. Skenario-skenario ini dibuat dengan mengikuti kaidah keilmuan. Dari empat skenario yang didapat nanti, pemerintah dapat memperkirakan kebijakan-kebijakan apa yang dapat dibuat menghadapi masing-masing skenario tersebut, baik skenario terbaik misalnya pandemi dapat dikendalikan, ataupun yang terburuk, pandemi berkembang pesat tak terkendali.

Sudah saatnya para pemangku kepentingan dan pengambil keputusan di berbagai sektor, pemerintah dan juga swasta, memiliki model mental melihat masa depan. Melihat segala kemungkinan, termasuk kemungkinan-kemungkinan yang tidak masuk akal di masa kini namun jika sampai terjadi berakibat dahsyat, seperti pandemi Covid-19.
Meskipun mungkin sulit untuk meyakinkan para pemangku kepentingan, tapi sudah banyak bukti bahwa jika kita tidak siap dengan wild card, keberlangsungan hidup organisasi atau bahkan negara akan terancam ketahanannya, bahkan eksistensinya.

Merencanakan masa depan perlu dilakukan dengan berpikir secara luas melihat berbagai kemungkinan, termasuk kejadian wild card.

Arindra Karamoy alumnus Sekolah Kajian Stratejik dan Global Universitas Indonesia

(mmu/mmu)