Kolom

New Normal adalah Sebuah Keniscayaan

Ma'ruf Cahyono - detikNews
Jumat, 03 Jul 2020 16:51 WIB
MPR
Foto: MPR
Jakarta -

Kehidupan manusia di bumi akan mencatat satu sejarah, yaitu pandemi Corona Virus Disease 2019 (COVID-19). World Health Organization (WHO) sudah mengumumkan COVID-19 sebagai pandemi. Virus yang berawal dari Wuhan, Tiongkok, akhir Desember 2019 ini dengan sangat cepat dan massif menyebar ke berbagai negara di belahan dunia, mulai dari Asia, Eropa, Amerika, Amerika Latin, hingga Afrika. Di Indonesia, pemerintah mengumumkan kasus pertama COVID-19 pada 2 Maret 2020.

Penyebaran virus Corona tidak bisa diremehkan. Sampai akhir Juni 2020, tercatat secara global jumlah kasus positif COVID-19 sudah mencapai 10 juta lebih, dengan jumlah orang meninggal akibat COVID-19 sebanyak 500 ribu lebih. Di Indonesia, pada waktu yang sama, tercatat sedikitnya 55 ribu kasus positif COVID-19 dan jumlah korban meninggal dunia mencapai 2.800 orang lebih. Hingga saat ini belum ada tanda-tanda pandemi COVID-19 ini akan berakhir. Pandemi ini akan dicatat dalam sejarah perjalanan umat manusia di dunia.

Di sisi lain, pandemi COVID-19 telah menimbulkan dampak yang sangat serius dalam semua aspek kehidupan manusia di muka bumi. Sebab, virus Corona membawa dampak terhadap aspek fundamental dari seluruh aktivitas manusia, yaitu interaksi fisik antar-manusia. Lantaran itu, cara untuk memutus mata rantai penyebaran COVID-19 adalah dengan mengendalikan interaksi fisik manusia, seperti diam di rumah (stay at home), bekerja di rumah (work at home), menjaga jarak (social and physical distancing), dan menghindari kerumunan.

Pemerintah Indonesia telah melakukan berbagai upaya untuk memutus mata rantai penularan COVID-19 yang begitu cepat dan masif. Pada April 2020, pemerintah mengumumkan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang mengiringi imbauan untuk stay at home, work from home, menggunakan masker, sering mencuci tangan, menjaga jarak (physical distancing dan social distancing). Wilayah yang memberlakukan PSBB pun mulai lengang. Aktivitas sosial dan bisnis berkurang. Di Jakarta, misalnya, hampir 60% penduduk memilih diam di rumah saat PSBB.

Namun, kebijakan PSBB sebagai upaya mencegah penyebaran COVID-19 sekaligus mengurangi jumlah orang yang terinfeksi virus Corona telah menimbulkan efek samping, yaitu lumpuhnya perekonomian. Hampir semua kegiatan di sektor ekonomi berhenti sementara. Pandemi COVID-19 meluluhlantakan kegiatan ekonomi di sektor riil mulai dari warung makan, pedagang kaki lima, pabrik, pusat perbelanjaan, destinasi wisata, transportasi darat, laut, dan udara. Banyak orang yang kehilangan penghasilan dan pekerjaan.

Secara makro, pandemi COVID-19 berdampak pada perekonomian Indonesia. Pertumbuhan ekonomi Indonesia 2020 diperkirakan 2,3%. Bahkan skenario terberat pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya sebesar 0,4%. Bila keadaan tidak ada perubahan, pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan minus. Dengan skenario sangat berat tersebut kemiskinan bisa bertambah 4,86 juta jiwa dan pengangguran bertambah 5,23 juta orang. Pandemi COVID-19 telah meluluhlantakkan berbagai sendi kehidupan masyarakat sehingga menimbulkan berbagai keresahan, kesulitan hidup, dan kemiskinan baru.

New Normal

Kita tidak bisa memperkirakan kapan pandemi COVID-19 ini akan berakhir. Vaksin untuk COVID-19 diprediksi baru tersedia pada akhir 2020. Inilah dilema yang kita hadapi: apakah harus menunggu vaksin COVID-19 atau bersiasat menghadapi COVID-19. Kita menyiasati pandemi COVID-19 dengan cara memilih 'berdamai' dan 'berdampingan' dengan virus Corona. Sebab, virus Corona tidak akan hilang dari muka bumi. Virus ini bakal tetap ada di tengah kehidupan masyarakat. Memilih 'berdamai' dan 'berdampingan' dengan virus Corona bukan berarti kita 'menyerah' tetapi kita 'menyesuaikan' diri.

Bagaimana menyiasati pandemi COVID-19? Yaitu dengan menerapkan pola atau tatanan hidup baru. Pola atau tatanan hidup baru berdampingan dengan virus Corona. Kita tetap melawan penyebaran virus Corona sambil beraktivitas seperti sedia kala. Pola atau tatanan kehidupan baru inilah yang disebut sebagai new normal, yaitu menerapkan pola hidup baru yang berbeda dengan pola hidup sebelum pandemi COVID-19. Pola atau tatanan hidup baru itu diatur dengan protokol kesehatan di semua ruang publik: menggunakan masker, sering mencuci tangan, menjaga jarak, dan menghindari kerumunan.

Intinya, new normal mensyaratkan perubahan perilaku untuk tetap menjalankan aktivitas sosial ekonomi secara normal tetapi ditambah dengan mematuhi protokol kesehatan untuk memutus mata rantai penularan COVID-19. New normal menjadi skenario untuk mempercepat penanganan COVID-19 dalam aspek kesehatan sekaligus sosial-ekonomi. New normal bukan berarti mengorbankan faktor kesehatan melainkan untuk menggerakan ekonomi sekaligus mencegah penyebaran COVID-19.

New normal adalah sebuah pilihan yang harus diambil. Kita tetap produktif di tengah pandemi COVID-19 dengan menerapkan pola, tatanan, atau 'gaya' hidup baru. Kebiasaan baru untuk berperilaku bersih dan sehat sesuai protokol kesehatan menghadapi COVID-19. Oleh karena itu, setiap orang harus melaksanakan dan mematuhi protokol kesehatan di era new normal. Kepatuhan pada protokol kesehatan di era new normal adalah mutlak dan tidak bisa ditawar-tawar lagi.

Prinsipnya new normal adalah adaptasi dengan pola, tatanan, dan gaya hidup baru. Kita harus membudayakan perilaku hidup bersih dan sehat. Kita harus menyesuaikan diri dengan pola, tatanan, dan gaya hidup baru itu. Kita harus bisa beradaptasi dengan budaya perilaku bersih dan sehat: memakai masker saat keluar rumah, sering mencuci tangan, menjaga jarak aman, dan menghindari kerumunan.

Mau tidak mau, suka atau tidak suka, kita sudah memasuki era kehidupan new normal. Beberapa negara seperti Australia, Singapura, Tiongkok, dan negara-negara lain yang sudah bisa mengendalikan virus Corona mulai menerapkan pola, tatanan, dan gaya hidup baru ini. Di Indonesia, sejumlah daerah sudah melonggarkan PSBB dan bersiap melakukan transisi menuju new normal. Masyarakat mulai menjalankan aktivitas ekonomi - sosial seperti biasa namun dengan menerapkan protokol kesehatan sebagai sebuah norma baru. Pemandangan orang-orang yang memakai masker ini menjadi hal yang biasa.

Sebagai siasat untuk menghadapi pandemi COVID-19, pola, tatanan, dan gaya hidup pada era new normal adalah sebuah keniscayaan. Di sinilah keniscayaan bagi setiap manusia untuk beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan lingkungan dan alam.

Ilmuwan biologi yang terkenal dengan teori Evolusi, Charles Darwin, dalam bukunya The Origin of Species sudah menyatakan, "It is not the strongest of the species that survives, nor the most intelligent that survives. It is the one that is most adaptable to change," yang artinya "bukan yang terkuat yang mampu bertahan, bukan pula yang paling cerdas, melainkan mereka yang paling adaptif menghadapi perubahan."

Manusia yang mampu bertahan adalah mereka yang mampu merespon dengan cepat dan tepat perubahan situasi dan kondisi. Mau tidak mau, setiap individu mesti beradaptasi dengan keadaan. Saatnya kita beradaptasi tanpa menyalahkan keadaan yang terjadi. Kemampuan kita beradaptasi dengan kondisi apapun, termasuk kehidupan new normal, tergantung pada diri kita sendiri. Kemampuan beradaptasi menjadi salah satu penentu utama keberlanjutan kehidupan.

Kita bisa belajar untuk beradaptasi menghadapi segala bentuk perubahan. Jika kita tidak melakukan adaptasi, kita bisa tertinggal jauh. Seyogyanya kita menjadi barisan yang paling mudah untuk beradaptasi di tengah era new normal sekarang ini.

Ma'ruf Cahyono, Sekretaris Jenderal MPR RI/Direktur The Cahyono Institute

(akn/ega)