Kolom

"Yamko Rambe Yamko" dan Keragaman Bahasa Papua

Desy Polla Usmany - detikNews
Kamis, 02 Jul 2020 15:00 WIB
Viral Yamko Rambe Yamko
Foto: Twitter/PapuaItuKita
Jakarta -

Karya-karya seni Papua khususnya seni musik atau seni suara, di dalam lirik-lirik lagunya secara umum menceritakan tentang sebuah kisah ataupun suatu peristiwa, yang disampaikan dalam bahasa daerah Papua. Begitu pula dengan lagu Yamko Rambe Yamko, walaupun belum ada referensi yang dapat memastikan lagu itu menggunakan bahasa daerah mana di Papua, namun bila dikaji secara linguistik dapat diketahui bahwa bahasa yang digunakan dalam lagu tersebut adalah perpaduan bahasa-bahasa yang digunakan (dituturkan) masyarakat Papua.

Kita ketahui bahwa daerah Papua memiliki ratusan suku dan bahasa dengan keragaman budayanya, termasuk seni musik atau seni suara dalam syair-syair lagunya terkandung nilai-nilai budaya papua. Berdasarkan data Institute of Linguistic Internasional (SIL), di Papua terdapat 275 bahasa daerah. Dan, dari peneitian-penelitian akademik terbaru tentang bahasa-bahasa daerah Papua diketahui bahwa hingga kini tercatat Papua memiliki kurang lebih 300 bahasa daerah dan sebagian di antaranya sudah punah, dan ada juga yang terancam punah karena penuturnya berkurang.

Lagu Yamko Rambe Yamko saat ini menjadi perbincangan hangat di masyarakat karena ada yang berpendapat bahwa lagu tersebut bukan berasal dari daerah Papua. Sedangkan secara nasional bahkan internasional telah diketahui lagu tersebut berasal dari daerah Papua. Tentu hal ini menjadi perhatian banyak kalangan, termasuk kami di Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Papua selaku UPT yang berada di bawa Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Kami merasa perlu memberi tanggapan.Lewat tulisan ini akan diungkapkan beberapa hal yang dapat menyimpulkan bahwa lagu Yamko Rambe Yamko berasal dari daerah Papua.

Penyebaran Bahasa

Sedikit melihat jauh ke belakang mengenai sejarah migrasi manusia, khususnya di daerah Papua, kelompok-kelompok migrasi tersebut turut membawa budaya asal terutama bahasa sehingga terjadi penyebaran bahasa yang beragam di Papua. Bila dikelompokkan secara linguistik, di daerah Papua terdapat dua kelompok besar bahasa yaitu kelompok bahasa Astronesia dan Non-Astronesia (bahasa Papua). Penutur bahasa Astronesia lebih banyak menyebar di wilayah "kepala burung" Papua, yang berbaur dengan penutur bahasa Non-Astronesia atau bahasa Papua.

Sehubungan dengan pendapat sekelompok orang bahwa lagu Yamko Rambe Yamko bukan berasal dari daerah Papua, sebab bahasa dalam syair lagu itu --katanya-- tidak jelas dari bahasa daerah apa di Papua, maka untuk menjawab pandangan seperti itu dapat dijelaskan sebagai berikut:

Walaupun belum ada referensi berupa literatur yang menjelaskan tentang lagu Yamko Rambe Yamko, perlu diketahui secara pasti bahasa daerah Papua mana yang digunakan. Namun perlu menjadi catatan bahwa Papua memiliki ratusan bahasa daerah dan sebagian telah punah, maka tidak menutup kemungkinan bila bahasa yang digunakan dalam syair lagu tersebut berasal dari bahasa daerah Papua yang telah punah, sehingga orang tidak tahu atau tidak mengerti, dan mungkin hanya beberapa orang saja yang mengerti.

Ketika diteliti ada kesamaan kata, nama tempat, dan penyebutan bahasa yang sama dengan beberapa kata dari teks lagu Yamko Rambe Yamko. Antara lain kata nawa sama dengan nama tempat di daerah Genyem, Kabupaten Jayapura yaitu lembah Nawa. Sedangkan dalam bahasa Namatota di pesisir daerah Kaimana, Papua Barat sebutan nawa artinya teman, atau juga diartikan saudara laki-laki. Kemudian kata aro dalam syair lagu sama dengan sebutan bahasa di pesisir Kaimana termasuk Namatota. Kata aro merupakan sapaan, ungkapan perasaan bahagia atau sedih kepada seseorang.

Begitu pula kesamaan kata kombe dengan sebutan bahasa Genyem, kombe atau kumbe yang artinya teman atau saudara laki-laki. Juga terdapat beberapa kata yang sama seperti kata awe-awe, dalam bahasa Biak ada kata awe yang mengandung arti rencana atau juga menikahkan.

Kajian Linguistik

Syair atau teks lagu Yamko Rambe Yamko ketika dikaji secara linguistik menurut dosen Fakultas Sastra Universitas Negeri Papua Andreas Dedah, diketahui bahwa terdapat perpaduan dua kelompok besar bahasa di Papua yaitu kelompok bahasa Astronesia dan kelompok bahasa Non-Astronesia atau bahasa Papua. Menurutnya, kelompok bahasa Astronesia tersebar di wilayah kepala burung Papua yang juga berbaur dengan kelompok bahasa Non-Astronesia (Papua).

Hal itu menunjukkan orang yang menciptakan lagu Yamko Rambe Yamko tersebut mengerti latar belakang budaya Papua, sehingga lewat lagu itu dia mencoba memadukan dua kelompok bahasa yang berbeda agar bisa diterima semua orang Papua. Dengan tujuan, lagu itu dapat membangkitkan semangat kebersamaan orang Papua, atau dengan kata lain lewat lagu ini orang Papua bisa dipersatukan, supaya tidak saling bermusuhan.

Mengenai siapa pencipta lagu tersebut, tentu ada beberapa kemungkinan, bisa saja orang Papua sendiri yang menciptakannya, bisa juga orang lain namun melibatkan orang Papua supaya bisa memasukkan kata-kata bahasa Papua. Meskipun belum ada referensi sebagai pegangan untuk mengetahui siapa penciptanya, namun bisa diperkirakan kemungkinan adalah salah satu dari penginjil ataupun guru-guru yang bertugas di Papua pada masa kolonial Belanda. Sebab pada masa itu salah satu cara mereka mendidik anak-anak Papua adalah lewat seni musik.

Untuk itulah kita perlu lakukan penelitian lagi agar bisa mengetahui hal yang sebenarnya terkait dengan lagu Yamko Rambe Yamko, dan di sisi lain polemik tentang lagu ini merupakan suatu momentum membangkitkan semangat generasi saat ini untuk mempelajari dan melestarikan bahasanya, serta mau menggali bahasa-bahasa daerah Papua yang penuturnya sudah semakin berkurang.

Desy Polla Usmany Kepala Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Papua

(mmu/mmu)