Kolom

Usia Masuk Sekolah dan Masa Depan Anak

Kiky C Sembiring - detikNews
Rabu, 01 Jul 2020 10:43 WIB
Siswa mengisi formulir Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) secara daring melalui gawainya di SMAN 1 Warunggunung, Lebak, Banten, Selasa (9/6/2020). Pusat informasi PPDB online SMA tetap melayani konsultasi keluhan pendaftaran secara tatap muka serta memberikan fasilitas berupa jaringan internet gratis untuk calon siswa yang akan mendaftar secara daring karena sulitnya akses sinyal di daerah. ANTARA FOTO/Muhammad Bagus Khoirunas/foc.
Suasana PPDB 2020 di sebuah sekolah (Foto: Irwansyah Putra/Antara)
Jakarta -

Pro-kontra di masyarakat semakin terasa terkait dengan sistem zonasi yang diterapkan pada penerimaan peserta didik baru. Dalam sistem zonasi, sekolah yang diselenggarakan oleh pemerintah wajib menerima calon peserta didik yang berdomisili pada radius zona terdekat dari sekolah. Masalah semakin kompleks ketika dalam pelaksanaan pendaftaran ditambahkan faktor usia, akreditasi sekolah lama, dan juga nilai akademik siswa.

Banyak orangtua mengeluhkan sulitnya mendapatkan sekolah dengan kualitas yang diinginkan meskipun merasa anaknya layak untuk masuk sekolah tersebut karena terbentur dengan usia. Tidak dapat dipungkiri bahwa paradigma semakin muda masuk sekolah akan meningkatkan kebanggaan orangtua murid dan siswa itu sendiri. Para orangtua menganggap semakin muda anaknya masuk sekolah merupakan suatu pembuktian bahwa anaknya lebih pintar secara akademis.

Bahkan di lingkaran pendidikan, usia menjadi bahan perundungan secara tidak langsung. Apakah sebenarnya usia memang sangat berpengaruh untuk melihat kualitas kepintaran seorang siswa, dan apakah juga siswa dengan usia lebih muda pasti akan memiliki masa depan yang lebih bagus?

Banyak penjelasan mengenai usia yang paling tepat untuk anak-anak memulai sekolah dasar (SD) dipandang dari sudut kemampuan intelektual dan kesiapan mental anak. Meskipun tema ini sering diangkat di berbagai diskusi di media massa maupun televisi, tetapi hasrat orangtua untuk sedini mungkin memasukkan anaknya ke SD tetap lebih mendominasi. Di sinilah sebenarnya peran pemerintah yang harus tegas memberikan batasan.

Peraturan pemerintah yang tertuang dalam Peraturan Mendikbud Nomor 44 Tahun 2019 sangat membuka timbulnya polemik. Syarat masuk SD adalah 7 tahun, paling rendah berusia 6 tahun pada 1 Juli tahun berjalan. Diperbolehkan juga masuk SD pada usia minimal 5 tahun 6 bulan dengan rekomendasi tertulis dari psikolog. Dari sini terlihat bahwa peraturannya sangat bias, tidak solid.

Peraturan seharusnya memiliki satu angka patokan. Jika sudah memutuskan syarat 7 tahun, anak dengan umur 6 tahun tidak seharusnya masuk SD. Meskipun anak berulang tahun pada 3 Juli, dia harus mengikuti penerimaan SD tahun berikutnya. Tidak diberikan celah kasus khusus bersyarat yang akan menimbulkan polemik di kemudian hari. Peraturan ini juga harus diterapkan untuk sekolah negeri maupun sekolah swasta tanpa terkecuali.

Jepang yang merupakan negara maju di Asia yang mewajibkan anak-anak dengan usia 6 tahun untuk memulai pendidikan SD. Tidak ada ujian tulis dan baca saat memulai sekolah SD. Semua anak memulai pelajaran pada garis start yang sama. Tentu saja ada anak dengan kemampuan baca dan tulis sebelum masuk SD, tetapi dia tidak mendapatkan nilai tambah apapun dari guru kelas.

Di Jepang sangat kentara sekali homogenitas siswa, siswa yang mungkin "lebih pintar" dipaksa untuk menurunkan peningkatan kemampuan belajarnya, sedangkan siswa yang "kurang pintar" dipacu lebih giat agar ritme belajar di kelas seragam. Diyakini bahwa tujuan masa awal sekolah, tiga tahun pertama untuk membangun perilaku yang baik dan mengembangkan karakter anak.

Anak-anak diajarkan pendidikan moral untuk menghormati orang lain baik teman sebaya maupun orang yang lebih tua atau lebih muda, bersikap menyayangi terhadap hewan dan alam. Anak-anak belajar menjadi dermawan, berempati, dan mampu mengontrol diri. Siswa akan memulai mengikuti ujian saat mereka kelas 4 SD. Untuk kelas 1 sampai dengan kelas 3 hanya ada tes-tes ringan.

Dan yang terpenting, tidak ada sistem tinggal kelas bagi anak yang dianggap kurang cakap sejak SD hingga SMU. Sehingga anak-anak akan mulai sekolah dan lulus dengan umur yang sama, setelah itu anak-anak bisa memilih untuk melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi ataupun untuk bekerja setelah SMU.

Jika melihat sistem yang diterapkan di Jepang, pasti kita juga bertanya-tanya pada umur berapa mereka membangun mimpi masa depannya? Dengan pengalaman mengikuti perkembangan anak sekolah SD di Jepang, anak-anak sudah diajarkan untuk memupuk mimpinya sejak kelas 3 SD. Anak-anak diberi gambaran profesi-profesi yang ada di masyarakat dan dibiarkan untuk memilih ingin jadi apa mereka kelak.

Tidak semuanya berambisi untuk menjadi pengusaha, dokter, ilmuwan, atau profesi-profesi berkelas lainnya. Banyak yang memilih cita-cita sederhana berdasarkan keseharian yang bersinggungan langsung dengan mereka, misalnya bekerja di toko kue, toko kopi, menjadi fotografer, atlet, pelawak, guru TK, guru SD, youtuber, atau bahkan masih belum memiliki gambaran masa depannya.

Banyak sekali orang Jepang yang pada saat mereka dewasa melakukan pekerjaan sesuai dengan passion yang ada di benak mereka sejak masih kecil.

Sistem pendidikan di Indonesia mengedepankan pendidikan akademik. Meskipun banyak sekolah yang menawarkan nilai plus pendidikan karakter, kehidupan sehari-hari di lapangan masih banyak yang bertolak belakang dengan apa yang mereka pelajari. Makanya tidak heran banyak kasus perundungan di lingkungan sekolah, tidak terkecuali pada sekolah yang mengusung pendidikan karakter plus. Kapankah siswa di Indonesia mulai mempunyai bayangan tentang masa depannya?

Saya rasa sebagian besar siswa di Indonesia masih akan menentukan masa depannya ketika mereka lulus kuliah. Ada sebagian yang mempunyai gambaran akan jadi apa mereka nanti, terutama untuk siswa yang mengambil sekolah kejuruan. Tetapi untuk siswa dengan jalur normal mengecap pendidikan kuliah, mereka merasa saat itu adalah waktu yang tepat menentukan masa depannya. Terkadang bukan mereka yang menentukan masa depannya, tetapi bergantung di mana mereka diterima bekerja.

Pada tahap ini bahan banyak yang pasrah di mana pertama kali diterima bekerja, di situlah nasib masa depannya ditentukan. Adakah korelasi umur disini? Saya rasa tidak. Anak pada jenjang kuliah bias lulus dengan waktu yang berbeda-beda. Meskipun mereka masuk di umur yang muda, belum tentu juga mereka akan lulus tepat waktu, setelah itu pun belum tentu juga mereka akan langsung bekerja.

Di masyarakat, ada empat hal yang bisa dijadikan landasan untuk memupuk masa depan, seperti yang juga pernah dikemukakan oleh Sandiaga Uno, yaitu kerja keras, kerja cerdas, kerja tuntas, dan kerja ikhlas. Etos kerja tersebut tidak dapat serta merta dibentuk saat dewasa, melainkan latihan dan dijadikan kepribadian atau karakter sejak kecil. Tidak ada faktor usia mulai sekolah yang berperan, melainkan faktor kapan orang menguasai dan berhasil menerapkan karakter tersebut.

Jadi, usia masuk sekolah tidak berkorelasi dengan masa depan anak.

(mmu/mmu)