Sentilan Iqbal Aji Daryono

Kembali ke Desa

Iqbal Aji Daryono - detikNews
Selasa, 30 Jun 2020 16:54 WIB
Kolomnis - Iqbal Aji Daryono (Ilustrator: Edi Wahyono/detikcom)
Iqbal Aji Daryono (Ilustrasi: Edi Wahyono)
Jakarta -

Andai wabah ini tidak datang menghajar kita, mungkin kita tidak akan pernah tahu bahwa kota-kota dan segenap gemerlapnya adalah monster plastik yang amat rapuh. Tapi sekarang kita memandangi layar cerita yang menunjukkan bahwa ketika gerak gelombang manusia berhenti, mesin-mesin akan ikut berhenti, aliran angka-angka di rekening berhenti, dan jutaan magic com penanak nasi juga turut berhenti.

Inilah masa ketika kita menjadi saksi atas entah berapa ribu orang yang berduyun-duyun pulang, meninggalkan harapan yang kandas di sela gedung-gedung besar, mengabaikan pagar-pagar protokol kesehatan pencegahan malapetaka, semata karena tak banyak lagi yang bisa dinanti di antara berbagai jenis perangkat yang berhenti menyala.

Kembali ke desa, Mas, Mbak. Mari kembali ke desa.

"Minimal kalau di kampung ada yang bisa dimakan," kata orang-orang yang memaksa pulang. Ya, ternyata di kampung memang masih ada yang bisa dimakan. Ada sawah, ada umbi-umbian dan dedaunan, ada tetumbuhan yang rimbun menyenangkan, ada tetangga dan sanak saudara yang mungkin tidak terlalu penuh perhitungan.

"Kalau memaksa tetap di kota, saya bisa mati. Tapi di desa, minimal kami tidak mati," begitu suara lainnya. Sepertinya suara itu memang benar. Kalau tidak benar, lalu kenapa orang-orang itu tetap memaksa diri untuk pulang?

Dengan kenyataan yang terang benderang, agaknya sebuah momen magis memang telah datang. Desa-desa menggeliat, bersiap untuk kembali dibangkitkan. Anak-anak muda mulai menjalankan apa yang dijalankan kakek-nenek mereka tapi selama ini selalu mereka abaikan: menanam.

Ya, menanam. Seiring dengan meledaknya tren mengayuh sepeda lipat yang nyaris tak masuk akal itu, ada kegairahan baru untuk menanam. Ada anak-anak muda yang bergerak memburu lahan tidur untuk menanam, membangun model-model medium alternatif untuk menanam, berbarengan dengan grup-grup Whatsapp yang berisi mereka yang berbagi semangat untuk kembali menanam. Menanam benih-benih baru, menanam semangat-semangat baru, menanam gambaran dunia yang juga baru.

Tentu, aktivitas menanam kali ini juga lahir dari jenis yang baru. Apa saja yang ditanam, bagaimana caranya menanam, juga seperti apa pemaksimalan nilai dari hasil tanam, semuanya mulai menampakkan kebaruan demi kebaruan.

"Dari dulu pemuda desa maunya ya ke kota. Sebab di kota ada uang. Kalau tetap tinggal di desa, tugasnya cuma ronda dan buka-tutup portal gang, atau maksimal jadi panitia tujuh belasan. Apa nggak ada yang lain, yang lebih produktif, taktis, dan strategis? Lihat, sekarang di desa juga ada uang, meski tentu saja yang kita cari bukan cuma uang!"

Baru tiga hari lalu, seorang kawan saya, pegiat desa yang militan dan berapi-api, mengomel demikian. Itu tentu omelan yang bukan sekadar omelan. Di situ ada kegelisahan, kejengkelan, bahkan kemarahan. Masalahnya, kepada siapa kemarahan itu ditujukan? Kepada negara? Ah, lagi-lagi kok negara. Negara sedang sibuk dengan tugas-tugas penyerapan anggaran.

Saya kaget menyimak omelan kawan saya, melihatnya terlalu heroik dan terlalu gegap gempita, meski kemudian diam-diam saya akui saya membenarkannya. Betul juga, betul juga. Buat apa anak-anak muda itu memaksa diri menyusul para seniornya berangkat ke kota-kota?

Toh, bekal fase sejarah untuk menjalankan yang heroik-heroik itu sudah lumayan. Ini zaman internet, Sodara! Dengan internet, bahkan batas-batas negara bisa dilompati, apalagi cuma batas antara desa dan kota. Dengan internet, informasi dan pengetahuan yang dulu kala cuma bisa didapatkan hanya dengan datang ke kota, kini sudah bisa dijumputi tanpa menggeser pantat sesenti jua.

Tak cuma itu. Dengan internet, kabar tentang apa pun yang dijalankan dan disediakan para pemuda itu bisa disebarkan sejauh-jauhnya dengan seketika. Dan dengan internet, ada jalur-jalur ekonomi yang bisa dipintasi, ada mata rantai panjang pedagang rakus yang bisa dibabat dan di-kepras-i, ada sumur-sumur penghidupan baru yang limpahan airnya bisa selalu dinanti-nanti.

Semua itu sebenarnya cukup. Syaratnya, ada banyak hal yang mesti terlebih dulu dimantapkan. Bahkan mungkin kita harus merombak paradigma dalam memandang satu hal yang paling mendasar: pendidikan.

Dulu, pendidikan dasar dirancang sekian tahun, dilanjutkan pendidikan menengah, kemudian sekian tahun lagi di perguruan tinggi. Apa orientasinya? Tentu saja ada orientasi akademis-keilmuan di sana. Namun lebih dari itu, diam-diam porsi yang jauh lebih besar dalam sistem persekolahan yang kita jalankan adalah merakit dan menyiapkan jutaan tenaga yang akan bergerak memutar roda-roda industri. Pendidikan kita memang berorientasi industri, menyiapkan apa yang selalu disebut di halaman-halaman leaflet sebagai "SDM yang siap memasuki dunia kerja."

Pertanyaannya, dunia kerja seperti apa? Tentu saja dunia kerja di kota-kota. Tapi apakah dunia kerja di desa mensyaratkan pendidikan selama dua puluh tahun lamanya? Rasanya kok tidak ya. Alih-alih mematangkan para anak muda dengan kemampuan siap kerja, pendidikan yang berlarut-larut sebagaimana yang selama ini kita jalani bisa-bisa malah menjadi alat paling efektif untuk membuang waktu secara sia-sia.

Kita selalu berbangga diri dengan bonus demografi. Para pemuda usia produktif konon berlimpah-limpah jumlahnya. Problemnya, yang kita banggakan itu jumlahnya, atau produktivitasnya?

"Jika sebagian besar di antara jumlah itu adalah mereka yang menghabiskan dua puluh tahun hidup untuk terus bersekolah, dengan ilmu yang belum tentu mereka butuhkan dan belum tentu bermanfaat bagi lingkungan, dan setelah itu produktivitas baru diwujudkan hanya setelah ijazah sarjana ada dalam genggaman, sebenarnya mereka itu bonus demografi, atau beban demografi?"

Masih mendenging di telinga saya suara serak seorang resi penunggu lereng Merapi. Jadi kita ini bonus demografi, atau beban demografi? Nyelekit sekali. Menusuk sekali. Saya kepingin sakit hati.

Tapi setelah saya pikir-pikir, memang saya sendiri pun jenis manusia yang terlalu lama sibuk di bangku kuliah, terlalu lama menjadi beban orangtua dan beban subsidi negara, untuk ilmu yang tidak saya gunakan, untuk sekian tahun waktu yang saya sia-siakan. Jadi, terus terang saya memang cukup lama menjadi beban demografi, dan itu tak bisa saya sangkal-sangkal lagi.

Ah, kita pikirkan nanti saja soal yang rumit-rumit dan menyakitkan itu. Mending sekarang saya mengekor kawan saya tadi, menyimak dia yang sedang mengajak anak-anak muda di desanya untuk tidak cuma sibuk membuka-tutup portal kampung dan menjaga pos ronda.

Iqbal Aji Daryono penulis, tinggal di sebuah desa di Bantul

(mmu/mmu)