Kolom

Dari Disrupsi Menuju Kenormalan Baru

A.M. Lilik Agung - detikNews
Selasa, 30 Jun 2020 13:30 WIB
Poster
Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom
Jakarta -

Istilah disrupsi mula pertama diformulasikan secara ilmiah dilakukan oleh Prof. Clayton Christensen, guru besar ilmu strategi dari Harvard Business School. Ia menulis artikel di Harvard Business Review pada 1995 dengan judul Disruptive Technology: Catching the Wave. Setelah itu Prof. Christensen rajin menulis tentang disrupsi dan pada 1997 mengeluarkan buku dengan tajuk The Innovator's Dilemma. Buku ini kemudian jadi babon dari semua hal yang merujuk pada inovasi disrupsi.

Menurut Prof. Christensen, terjadi kegamangan dari perusahaan (organisasi) besar untuk melakukan inovasi disrupsi. Penyebabnya karena organisasi bersangkutan sangat kuat dalam penguasaan pasar, nyaman dengan posisinya, atau terlalu percaya diri dengan berbagai keunggulannya.

Seperti dengan kajian-kajian ilmiah lainnya yang sering mendahului zaman, pun dengan risalah-risalah ilmiah karya Prof. Christensen. Inovasi disrupsi masih sebatas kajian yang masuk akal, namun belum matang untuk dieksekusi. Dunia (bisnis) masih berkutat dalam inovasi konvensional. Hingga akhirnya muncul sebuah era bernama industri 4.0.

Dengan tiga gugus utama penggerak 4.0, yaitu fisik (teknologi tiga dimensi, robotik yang semakin cerdas dan personal), biologi (DNA dan gen), digital (internet of things, kecerdasan buatan, cloud, big data), inovasi disrupsi mendapat motor penggerak nan kencang. Inovasi tidak lagi sekadar mengubah fitur, tampilan (incremental innovation), atau mengubah produk/jasa (radical innovation), namun sudah mengubah industri maupun pasar (disruptive innovation). Inovasi disrupsi membuat produk/jasa lama menjadi tidak relevan. (Rhenald Kasali, 2018)

Inovasi disrupsi menemukan jejak nyata pada ranah ekonomi (bisnis). Akibat dari inovasi disrupsi para pemain yang menguasai pasar bukan mendapat pesaing dari industri sejenis, namun dari pemain baru yang sebelumnya tidak ada. Taksi konvensional maupun jaringan hotel mendapat tekanan justru dari platform berbasis aplikasi yang tidak memiliki aset bernama mobil atau bangunan.

Media cetak mengalami kemunduran bukan karena muncul pesaing baru sesama media cetak, namun mendapat gempuran dari media sosial yang sebelumnya tidak ada. Pun televisi harus berbagi kue iklan dan penonton dengan kemunculan Youtube. Hari ini goncangan terhadap televisi ditambah dari media sosial (Instagram, Facebook) yang menampilkan konten video. Banyak jenis inovasi disrupsi lainnya yang mengguncang industri dan menciptakan pasar baru.

Kenormalan baru adalah anak kandung dari inovasi disrupsi. Per Jacobsson Foundation pada 10 Oktober 2010 mengeluarkan kajian yang ditulis oleh Mohamad El-Erian, ekonom Allianz berjudul Navigating the New Normal in Industrial Countries. El-Erian mengkaji munculnya kenormalan baru pada industri keuangan akibat dari krisis global 2008. Kenormalan baru di sektor keuangan seperti dikatakan El-Erian masih pada tahap awal.

Kenormalan baru yang kencang dialami tak lain munculnya bisnis rintisan yang bermain pada industri keuangan (finansial teknologi/fintek). Fintek ini yang menjadikan kenormalan baru pada industri keuangan. Lembaga keuangan perbankan dan non perbankan konvensional berbenah menghadapi serbuan fintek. Dengan jalan keluar yang elegan, kolaborasi antara lembaga keuangan konvensional dengan fintek. Hasilnya, industri keuangan konvensional dan fintek sama-sama bertumbuh.

Disrupsi dan kenormalan baru menjadi frasa paling populer pada ranah ekonomi (bisnis) pada tahun-tahun belakangan ini. Kemudian frasa disrupsi menelusup pada semua ranah kehidupan (sosial, politik, budaya, pertahanan, keamanan, hingga agama). Tidak demikian dengan anak kandung disrupsi, kenormalan baru. Ranah-ranah lain karena terdampak disrupsi masih pada tahap awal, alhasil tetap dengan kebiasaan normal. Kenormalan baru masih sebatas wacana.

Hingga akhirnya muncul Covid-19. Semua ranah tidak bisa menghindar dari dampaknya. Mirip dengan tiga karakter digital (cepat, skala, dampak), Covid-19 menyerang manusia dengan sangat cepat. Skala penyebarannya sangat luas dan dampaknya luar biasa.

Disrupsi lahir karena digerakkan oleh tiga gugus 4.0 yaitu fisik, biologi dan digital. Ditambah dengan satu gugus lagi, Covid-19, disrupsi mengalami lompatan supercepat. Semua sektor kehidupan terdampak Covid-19. Manusia yang dibatasi pergerakannya menyebabkan pergerakan yang lain juga terbatas. Kapan berakhirnya pandemi Covid-19 tiada satu pun otoritas yang mampu memastikan. Sementara kehidupan tetap harus berjalan. Masa depan harus dilakoni. Alhasil kenormalan baru menjadi pijakan untuk mengendorkan pergerakan dan menggulirkan kehidupan.

Kombinasi

Apakah karakter kenormalan baru sama seperti karakter disrupsi? Mengubah industri (pasar) sehingga produk (jasa) lama menjadi tidak relevan? Artinya dengan kenormalan baru, kehidupan normal yang selama ini dijalani akan diganti dan menjadi tidak relevan? Saya kira tidak. Kenormalan baru adalah kombinasi antara kebiasaan lama dan baru. Kebiasaan baru yang membentuk hidup lebih bersih, aman, dan sehat (CSH – clean, safety, healthy) akan terus berlanjut. Seperti juga berkantor dari rumah (WFH – work from home) akan semakin masif terjadi.

Hanya saja, seperti dengan digital yang tidak bisa menggantikan interaksi, cinta, dan emosi, "kenormalan lama" yang digerakkan oleh interaksi, cinta, dan emosi tetap akan dilakoni manusia. Interaksi manusia tetap terjadi, tentu dengan cara yang lebih CSH. Pun ruang-ruang kantor tetap riuh dengan aktivitas karyawan, karena pada ruang kantor ada interaksi, emosi, dan cinta yang tidak semuanya bisa digantikan oleh WFH. Hanya saja ruang-ruang kantor justru kembali pada era sebelum disrupsi.

Ruang-ruang kantor yang bergaya milenial, terbuka, setiap karyawan bisa berpindah dari satu tempat ke tempat lain mengalami "redisrupsi". Protokol Covid yang mewajibkan jaga jarak alhasil menjadikan karyawan kembali pada era lama: sekat, tempat yang statis.

Manusia dengan kehidupan kenormalan baru akan mengubah kebiasaan-kebiasaan lamanya disesuaikan dengan situasi yang ada. Pun kebiasaan-kebiasaan lama yang merupakan hakikat mutlak yang hanya dimiliki manusia (interaksi, emosi, dan cinta) tidak akan hilang. Hanya akan ada pemaknaan ulang disesuaikan dengan zamannya, yaitu era sesudah Covid.

Selamat merayakan kehidupan yang oleh orang banyak disebut kenormalan baru!

A.M. Lilik Agung Mitra Pengelola pada lembaga pengembangan SDM Galeri Human Capital

(mmu/mmu)