Kolom

Webinar dan Tantangan Kampus Virtual

Nur Sholikhin - detikNews
Senin, 29 Jun 2020 13:00 WIB
Jakarta -

Selama pandemi Covid-19, saya menyelesaikan sisa semester genap dengan perkuliahan via daring. Mengikuti pembelajaran dan menyelesaikan tugas akhir untuk menempuh program magister dilakukan dari rumah. Kalau dibilang tidak siap, mungkin kita semua belum siap menghadapi perubahan kondisi akibat pandemi, termasuk perkuliahan via daring.

Ada salah satu perkuliahan yang terpaksa dialihkan dengan penugasan, karena perkuliahan daring dirasa tidak efektif mengingat mata kuliah tersebut dianggap harus banyak simulasi dan dirasa akan lebih tepat jika dilakukan dengan tatap muka di kelas.

Bukan hanya kampus yang gagap menghadapi pandemi Covid-19. Mulai dari pedagang, perusahaan, organisasi masyarakat sipil, sampai pemerintah pun belum siap menghadapi perubahan akibat pandemi tersebut. Keadaan berubah, menuntut semua untuk berubah dan menyikapinya. Ada beberapa sektor yang harus terpaksa berhenti menjalankan aktivitas, ada pula sektor lain yang menyikapinya dengan mengganti platform aktivitasnya beralih ke daring, terutama sektor pendidikan.

Lembaga pendidikan, khususnya kampus tetap menjalankan aktivitas akademiknya melalui daring. Bukan hanya sekadar perkuliahannya, namun proses pelayanannya dilaksanakan dengan sistem daring. Pada akhir Maret 2020, saya kebetulan mengajukan pembimbing untuk menyelesaikan tugas akhir. Pelayanan via daring tidak sesulit yang kita bayangkan, justru lebih cepat dibandingkan pelayanan tatap muka.

Pelayanan via daring semacam itu sebelumnya memang dirasa kurang tepat, karena paradigma yang sering kita pakai adalah tatap muka. Berbeda ketika pandemi, kampus tidak ada aktivitas pertemuan fisik, yang ada pertemuan virtual antara mahasiswa, dosen, dan para staf. Kondisi semacam itu memang ada kelebihan dan tantangannya sendiri.

Bagi lembaga pendidikan yang sudah siap secara infrastruktur untuk melakukan kuliah dengan sistem daring akan lebih siap dalam menghadapi situasi pandemi. Pembelajaran akan dengan mudah dilakukan secara daring dan lebih interaktif. Pun dengan pelayanan kampus akan diakses lebih mudah oleh berbagai pihak dengan menggunakan sistem daring.

Bagi kampus yang tidak siap secara infrastruktur akan tertatih menjalankan pembelajaran via daring. Bisa jadi, kuliah hanya akan berujung pada penugasan tanpa adanya feedback dari dosen. Atau kemungkinan terburuk dari sistem daring, perkuliahan tidak ada interaksi antara mahasiswa dengan mahasiswa lainnya, pun dengan dosennya. Kuliah berjalan sebagai formalitas kehadiran tanpa mementingkan hadirnya pikiran untuk mengikuti perkuliahan.

Kesiapan Infrastruktur

Tantangan yang bersifat personal mungkin akan mudah untuk diatasi. Tantangan yang perlu direspons lebih jauh adalah kesiapan infrastruktur perkuliahan daring. Saya kebetulan mengikuti perkuliahan kurang lebih tiga bulan dengan sistem daring. Minggu pertama, mahasiswa dan dosen masih mencari pola bagaimana perkuliahan yang efektif menggunakan sistem daring. Mulai dari sistem presensi kehadiran mahasiswa, aturan main perkuliahan daring, dan platform yang digunakan.

Pada minggu kedua sudah memiliki kecenderungan sistem yang begitu baik. Presensi sudah mulai teratur dan tercatat. Presentasi bisa berjalan dengan lancar. Aturan main dalam perkuliahan sudah berjalan dengan baik. Namun, ada satu kecenderungan, lancar-tidaknya perkuliahan tersebut tergantung pada skill pengelolaan kuliah daring oleh dosen. Apabila dosen cukup menguasai skill dan ramah terhadap teknologi, termasuk metode, teknik, dan media yang digunakan, maka perkuliahan akan berjalan dengan baik dan lancar. Berbeda dengan dosen yang kurang ramah terhadap teknologi, ia akan berjalan apa adanya dan sejadinya.

Memasuki semester baru, lembaga pendidikan bisa berbenah menghadapi pembelajaran dan pelayanan akademik via daring. Apalagi dalam siaran persnya Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada 15 Juni menyatakan bahwa perguruan tinggi untuk semester baru nantinya akan tetap melakukan pembelajaran secara daring. Pembelajaran daring diberlakukan untuk semua zona daerah yang terdampak Covid-19. Keputusan tersebut diambil karena mengutamakan aspek keselamatan semua elemen yang terlibat dalam universitas. Selain itu, agar kampus atau lebih luasnya lagi lembaga pendidikan agar tidak menjadi kluster penyebaran Covid-19.

Untuk menghadapi tahun ajaran baru, lembaga pendidikan tinggi setidaknya bisa mempersiapkan dua hal. Pertama, mempersiapkan infrastruktur pembelajaran via daring. Mulai dari menyiapkan platform yang dipakai, hingga media, metode yang bisa digunakan oleh dosen dan mahasiswa dalam melaksanakan pembelajaran.

Pembelajaran via daring tentunya akan mengubah paradigma mengajar. Pembelajaran yang awalnya hanya bisa dilaksanakan ketika bertatap muka, harus bisa dikonversi menjadi pembelajaran daring. Penyiapan infrastruktur dirasa sangat penting, mengingat pengalaman saya menjadi mahasiswa yang menggunakan pembelajaran via daring selama pandemi Covid-19 belum berjalan secara maksimal.

Perkuliahan daring sekitar 95 persen dilakukan dengan menggunakan platform Whatsapp Group. Menggunakan video conference berjalan dua kali di akhir sesi perkuliahan. Platform daring yang disediakan oleh kampus hanya digunakan beberapa kali karena dirasa belum efektif untuk digunakan. Padahal di sisi lain banyak organisasi masyarakat sipil mengadakan acara baik itu seminar, diskusi, pelatihan dan agenda-agenda edukasi publik, diseminasi ataupun agenda lainnya sudah mulai menggunakan video conference, baik menggunakan Zoom Meeting, Google Meeting ataupun platform yang lainnya.

Kegiatan tersebut terkenal dengan sebutan webinar, singkatan dari web seminar. Artinya, seminar yang dilakukan melalui situs web atau aplikasi berbasis internet. Kalau kita mengamati media sosial selama pandemi, banyak webinar yang dijalankan oleh berbagai macam organisasi masyarakat sipil. Aktivitas kajian agama yang awalnya hanya diselenggarakan tatap muka, mulai tidak asing dengan pertemuan webinar dan live streaming. Seminar, diskusi, pelatihan yang awalnya hanya dilakukan melalui pertemuan tatap muka, dalam kondisi pandemi, kita mulai biasa untuk mengikutinya dalam bentuk webinar.

Support system kampus yang lebih terjamin seharusnya lebih canggih dalam mengadakan pembelajaran daring. Inisiatif dalam pembelajaran daring harus dilakukan agar menciptakan situasi pembelajaran yang lebih efektif dan menarik untuk diikuti oleh para mahasiswa. Kuliah Whatsapp saat pandemi tidak menjadi tren lagi untuk dijadikan pembelajaran atau pelatihan walaupun bisa digunakan. Poin penting dari persiapan infrastruktur pembelajaran daring adalah inovasi penggunaan teknologi dan efisiensi untuk pembelajaran.

Kedua, yang harus disiapkan dalam menghadapi pembelajaran daring adalah akses internet. Kendala klasik saat melakukan webinar ataupun kuliah daring adalah keterjangkauan internet. Tidak sedikit mahasiswa yang mendapatkan akses internet dengan baik, sehingga perlu adanya support system dari kampus terkait dengan akses tersebut.

Saat pandemi ini memang yang tepat perkuliahan dilaksanakan dengan sistem daring. Mahasiswa bisa menjalankan kuliah dari mana saja, tidak terikat oleh tempat. Daripada sistem luring yang membutuhkan banyak usaha yang lebih, sistem daring menjadi pilihan efektif. Namun, harus dipersiapkan dengan matang baik dari infrastruktur, dosen, mahasiswa, dan para staf kampus.

Nur Sholikhin mahasiswa magister UIN Sunan Kalijaga

(mmu/mmu)