Perjalanan

Galo-Galo, Ikan Asin, dan Usaha Menjadi Desa Wisata Mandiri

Adiyana Adam - detikNews
Minggu, 28 Jun 2020 14:10 WIB
Menyelam sebagai salah satu ikon wisata Pulau Galo-Galo
Jakarta -

Jika kita menyebut nama Galo-Galo, maka yang terbayang dalam benak kita adalah ikan asin. Galo-Galo memang sangat terkenal dengan ikan asinnya bahkan sampai ke pelosok Indonesia. Sebuah pulau kecil yang sekaligus disebut "desa" ini letaknya dikelilingi oleh lautan dan berada di antara beberapa pulau kecil di Kabupaten Pulau Morotai, Provinsi Maluku Utara. Tanahnya pun berupa pasir halus putih yang terhampar di seluruh bagian pulau, membuat masyarakat tidak bisa bercocok tanam sehingga mata pencaharian penduduk setempat adalah nelayan.

Hasil laut yang terdapat di pulau ini sangat banyak dan beragam; biasanya pada saat bulan terang dan keadaan air sedang pasang yaitu sekitar jam dua tengah malam, banyak penduduk yang keluar rumah untuk mencari udang, teripang, kerang, atau pun ikan yang tersangkut di bebatuan karena air surut. Tidak banyak yang dapat dilakukan penduduk desa ini dari hasil tangkapan mereka selain membuat ikan asin. Oleh sebab itu, ikan asin dari desa ini memang sangat terkenal.

Namun, hidup dengan hanya mengandalkan ikan asin membuat penduduk mulai merasa resah. Hasil penjualan ikan asin tidak terlalu mampu menopang hidup mereka, sementara kebutuhan hidup terus meningkat seiring dengan meningkatnya kebutuhan anak-anak mereka yang bersekolah di luar desa. Memang di desa ini yang tersedia hanya sekolah taman kanak-kanak, sekolah dasar, dan sebuah madrasah tsanawiyah swasta sehingga jika anak-anak mereka mau melanjutkan sekolah ke SMA atau kuliah harus keluar dari desa; biasanya ke ibu kota kabupaten yang jarak dari desa jika menggunakan perahu motor 1 jam 30 menit.

Dengan sedikit dana bantuan subsidi desa ditopang modal tekun dan ulet, sebagian penduduk setempat beralih profesi menjadi petani rumput laut. Hasil penjualan rumput laut sangat memuaskan bahkan naik beberapa kali lipat daripada hasil penjualan ikan asin. Meskipun demikian pembuatan ikan asin masih tetap dikerjakan.

Pemuda desa Galo-Galo juga tidak tinggal diam. Pada akhir 2017 mereka membentuk suatu kelompok yang dinamakan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) dengan ketuanya bernama Mugiat Kudo. Pemuda sarjana sosial politik jebolan Universitas Muhammadiyah Maluku Utara ini bersama teman-temannya berusaha mengubah paradigma dan inisiatif masyarakat setempat. Para kaum muda itu sudah tidak lagi memandang bahwa desa sebagai suatu tempat yang sepi dan terpencil yang identik dengan keterbatasan ruang kerja, tetapi desa justru menjanjikan banyak ruang kerja dengan peluang usaha yang lebih variatif.

Pokdarwis mempunyai beberapa bidang usaha yang secara keseluruhan melibatkan penduduk desa. Di antara bidang usaha yang dikelola adalah diving dan snorkeling, pembuatan kerajinan tangan seperti anyaman tikar dan tas/keranjang dari daun pandan duri, pembuatan sabun dari bunga tumbuhan mangrove, sabun dari tumbuhan lamun, sabun dari jeruk nipis, dan juga sabun dari daun lidah buaya.

Bahkan ibu-ibu dan remaja putri memanfaatkan kembang tumbuhan mangrove menjadi tepung, seperti terigu sebagai bahan dasar pembuatan kue. Sedangkan untuk kelompok bapak-bapak, usaha yang dikelola selain nelayan dan pembuatan ikan asin juga penanaman dan pengolahan rumput laut. Semua keterampilan ini kecuali nelayan dan pembuatan ikan asin tidak terlepas dari usaha dan kerja keras bersama antara masyarakat dengan tim pendampingan dari yayasan yang bernama Reef Check, yaitu suatu organisasi nirlaba di Maluku Utara yang diketuai oleh Veronicha Niken.

Sejajar dengan Pulau-Pulau Lain

Banyak pulau kecil yang bersebelahan dengan pulau atau desa Galo-Galo yang indah dan menarik, bahkan keindahannya sudah dikenal hingga ke manca negara, seperti Pulau Dodola dengan keindahan pasir putih dan terumbu karangnya, atau Pulau Zum-Zum, tempat mendaratnya Panglima Perang Dunia II Mc Arthur. Banyak wisatawan lokal maupun manca negara berkunjung ke kedua pulau tersebut. Hal inilah yang mendorong masyarakat Galo-Galo dengan Pokdarwis-nya berusaha mengembangkan desa kebanggaan mereka untuk bangkit, bisa terkenal dan sejajar dengan pulau-pulau yang lain.

Satu motto yang mereka tanamkan di hati adalah "kalau Dodola bisa, mengapa kita tidak?" Makna simbolik dari motto mereka ini adalah Pulau Dodola yang tanpa penghuni dan hanya dibantu oleh APBD pemerintah daerah setempat saja bisa terkenal dan berkembang sampai ke manca negara bahkan bisa menyumbangkan pendapatan pulau tersebut ke kabupaten, kenapa Galo-Galo tidak? Padahal Galo-Galo punya semuanya; sumber daya alam maupun sumber daya manusia.

Inilah yang menjadi alasan Pokdarwis Galo-Galo untuk memanfaatkan dan mengembangkan potensi alam yang ada di sekitar desa dalam rangka mengembangkan daerah mereka menjadi terkenal dengan sebutan Desa Wisata Mandiri. Dengan adanya julukan Desa Wisata Mandiri tentunya tidak membuat masyarakat menjadi puas; masih banyak yang harus mereka benahi hingga outcome dari apa yang diharapkan Pokdarwis terpenuhi, yaitu peningkatan pendapatan ekonomi masyarakat.

Untuk mencapai hal itu tentulah tidak mudah. Banyak faktor yang akan mempengaruhi dalam upaya mengembangkan desa tersebut, baik internal maupun eksternal, membutuhkan kerja keras serta kekompakan dari Pokdarwis maupun masyarakat.

Salah satu kendala yang dihadapi adalah belum adanya pengakuan atas Pokdarwis dari pemerintah daerah yang nantinya akan dijadikan payung hukum yang akan melindungi mereka dalam memasarkan produk olahan mereka. Oleh sebab itu sampai saat ini hasil olahan Pokdarwis belum didaftarkan ke Kementerian Hukum dan HAM guna mendapatkan HAK Kekayaan Intelektual maupun HAK Paten sebagai bukti pengakuan dan legalitas maupun perlindungan atas sebuah karya.

Permasalahan di atas berdampak pada kurangnya pemasaran hasil olahan Pokdarwis sehingga banyak masyarakat luas yang belum mengetahui keberadaan produk olahan ini. Namun, dengan bantuan beberapa kolega lewat media sosial akhirnya produk olahan Pokdarwis Galo-Galo diikutsertakan pada pameran "Wonderful Indonesia" di Thailand yang memperkenalkan (wisata) kuliner Indonesia.

Keikutsertaan di event internasional merupakan awal yang baik untuk lebih memperkenalkan produk hasil olahan mereka, dan sekarang sudah ada wisatawan asing maupun lokal yang membeli produk olahan tersebut langsung ke desa Galo-Galo. Usaha yang dilakukan Pokdarwis sudah mulai membuahkan hasil.

Dengan segala keterbatasan dana maupun dukungan, mereka tetap mengembangkan dan memajukan hasil usaha mereka agar desa yang mereka cintai bisa terkenal dan sejajar dengan desa-desa terkenal lainnya. Tentunya jerih payah ini tidak terlepas dari dukungan Kepala Desa yang sangat membantu kegiatan Pokdarwis.

Sudah sepantasnya pemerintah daerah memberikan dukungan dan penghargaan atas semua jerih payah Pokdarwis desa Galo-Galo atas keberhasilannya sebagai Desa Wisata Mandiri yang telah mengembangkan aset-aset lokal dan bisa memperkenalkan tradisi dan kekayaan lokal kepada masyarakat luas, serta mengangkat perekonomian masyarakat yang pada akhirnya akan menjadi contoh desa-desa lain di Kabupaten Morotai.

(mmu/mmu)