Kolom

Ironi Impor Limbah Industri Makanan

Irvan Maulana - detikNews
Jumat, 26 Jun 2020 13:46 WIB
Suasana aktivitas bongkar muat di Jakarta International Container Terminal, Jakarta Utara, Rabu (5/9/2018). Aktivitas bongkar muat di pelabuhan tetap jalan di tengah nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terpuruk. Begini suasananya.
Foto: Pradita Utama
Jakarta -

Berdasarkan laporan Juni 2020, Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan bahwa kinerja impor menurun saat pandemi melanda Tanah Air. Hampir di semua komoditas impor mengalami penurunan yang sangat dramatis di tengah upaya kita memenuhi kebutuhan dalam negeri akibat pandemi Covid-19. Namun, di tengah pelemahan perdagangan internasional kita, masih ada beberapa impor komoditas yang terus tumbuh walaupun rata-rata komoditas lainnya menurun. Ironisnya, komoditas tersebut masuk dalam kelompok limbah sisa industri makanan yang digunakan untuk bahan baku pakan ternak.

Sebulan sebelumnya, BPS mempublikasikan nilai impor Indonesia pada April turun 12,54 miliar dolar AS atau sekitar Rp 180,6 triliun. Angka tersebut 6,1 persen lebih rendah dibandingkan dengan nilai impor pada Maret 2020. Impor April 2020 juga lebih rendah 18,58 persen dibandingkan April 2019. Covid-19 jelas sudah memporak-porandakan kinerja ekspor-impor kita, sehingga baik impor migas maupun nonmigas mengalami penurunan selama masa karantina wilayah.

Hampir semua golongan Barang HS 2 Digit di kelompok nonmigas mengalami penurunan. Komoditas logam mulia dan perhiasan merupakan determinan utama penyebab nilai impor turun pada April 2020. Dari 10 golongan utama HS 2 digit, nilai impor 5 golongan komoditas nonmigas mengalami peningkatan sebagai langkah antisipasi meningkatkan demand dalam negeri akibat Covid-19. Impor yang meningkat saat pandemi adalah mesin dan perlengkapan elektronik (naik 3,5%), ampas atau sisa industri makanan (naik 72%), produk kimia (naik 23,45%), pupuk (naik 109,4%), dan sayuran (naik 113%).

Komoditas yang paling menggelitik untuk dianalisis adalah kenaikan impor untuk ampas atau sisa industri makanan. Limbah industri makanan menjadi komoditas impor yang memiliki kinerja positif selama pandemi. Di saat semua golongan komoditas tumbuh negatif, impor limbah makanan justru melonjak 10,16 persen atau naik Rp 1,65 triliun selama periode Januari hingga Mei 2020.

Menurut BPS, impor limbah makanan yang didominasi bungkil kedelai dari Argentina digunakan sebagai bahan campuran pembuatan pakan ternak khususnya untuk unggas. Selama ini, Indonesia dinilai belum bisa memenuhi kebutuhan pakan dari bungkil kedelai sendiri karena semua produksi kedelai dalam negeri habis dikonsumsi dan dijadikan bahan makanan seperti tahu dan tempe. Dengan alasan tersebutlah keran impor limbah makanan terus dibuka, walaupun di tengah pandemi.

Pertanyaannya, sebegitu bergantungkah Indonesia pada ampas makanan dari negeri orang? Dan, kenaikannya justru saat terjadi pandemi. Buat siapa impor ampas makanan yang bernilai triliun rupiah tersebut?

Rata-rata tahunan domestik membutuhkan 4,2 juta ton untuk produksi pakan ternak, seperti pakan unggas, ikan, dan udang. Dan, nilai impor limbah makanan Indonesia mencapai Rp 23 triliun per tahun. Nilai impor tersebut hampir sama dengan impor bungkil kedelai seluruh daratan Eropa. Untuk menutupi kebutuhan tersebut, Indonesia terpaksa impor limbah sisa kedelai. Idealnya impor bungkil kedelai yang bernilai triliunan rupiah harus menjadi penyeimbang pasar di saat kondisi pasar melemah.

Dampak impor pertama yang mesti dirasakan masyarakat adalah harga pakan yang murah disebabkan jumlah pakan yang melimpah di pasar. Ampas bungkil kedelai yang telah diperas minyaknya digunakan sebagai bahan campuran jagung dan beberapa bahan baku pakan lainnya, memiliki harga yang mahal sehingga meskipun nilai impor limbah kedelai mencapai triliunan rupiah, tetap saja volume yang diimpor tak cukup memenuhi kebutuhan dalam negeri. BPS menyebutkan, impor ampas bungkil kedelai untuk menyokong ketahanan pangan seperti produksi daging unggas, telur, ikan, dan produk-produk ternak lainnya.

Jika impor limbah tersebut dimaksudkan untuk mendukung ketahanan pangan kita, maka barometer efektivitas impor bisa dinilai berdasarkan data dan fakta beberapa komoditas pangan. Fakta sebaliknya justru ditunjukkan berdasarkan laporan BPS; selama bulan-bulan pandemi (Februari hingga Mei 2020) daging ayam justru mengalami defisit yang cukup dalam.

Penurunan produksi daging ayam akibat PSBB akan diikuti penurunan permintaan pakan ternak dan penurunan impor bahan baku pakan ternak yang berasal dari bungkil kedelai. Artinya, impor ampas makanan selama Januari hingga Mei tidak berdampak pada kestabilan harga pakan dan kecukupan stok daging ayam.

Sementara itu selama PSBB permintaan pakan ternak juga menurun. Fakta tersebut menjadi ironi bahwa impor limbah makanan harus terus dievaluasi dan diawasi. Untuk itu, berdasarkan data dan fakta tersebut, langkah bijaksana jika kebijakan impor limbah makanan selama pandemi disesuaikan dengan situasi dalam negeri.

Indonesia harus segera menyusun strategi untuk tak lagi berlama-lama melanjutkan impor limbah makanan. Walaupun sulit, harus ada upaya untuk menemukan substitusi impor limbah makanan seperti palm kernel meal atau bungkil inti sawit karena Indonesia salah satu penghasil kelapa sawit terbesar di dunia. Sayangnya produsen palm kernel meal lebih memilih ekspor ke negara-negara produsen kosmetik. Hal ini menjadi kendala terbesar dalam menemukan substitusi impor limbah makanan. Selain itu, harga ampas inti sawit juga sangat mahal sehingga produsen ternak enggan beralih dari ampas kedelai.

Jika tak ada pilihan lain selain impor limbah makanan, maka kebijakan impor limbah juga harus terus dievaluasi dan harus mementingkan kepentingan dalam negeri. Untuk diketahui, selain limbah makanan, Indonesia juga masih "kecanduan" impor beberapa limbah berbahaya yang dapat mengancam ekosistem kita. Terlebih di saat pandemi, limbah berpotensi besar menjadi perantara penyebaran virus atau penyakit lainnya. Tidak boleh mementingkan kelompok bisnis tertentu, pengawasan impor harus lebih ketat untuk menyelamatkan ekonomi dan lingkungan kita.

(mmu/mmu)