Analisis Zuhairi Misrawi

Ibadah Haji di Masa Pandemi

Zuhairi Misrawi - detikNews
Kamis, 25 Jun 2020 15:10 WIB
zuhairi misrawi
Zuhairi Misrawi
Jakarta -

Akhirnya Arab Saudi mengeluarkan keputusan perihal penyelenggaraan ibadah haji tahun ini. Yakni, ibadah haji akan tetap digelar di tengah pandemi dalam jumlah yang sangat terbatas, khususnya bagi mereka yang sudah tinggal di Arab Saudi. Ibadah haji tahun ini akan diikuti oleh warga Muslim dari berbagai penjuru dunia yang sudah menetap di Arab Saudi.

Kementerian Haji Arab Saudi mengeluarkan pernyataan bahwa ibadah haji tidak mungkin diselenggarakan dalam jumlah yang besar,sebagaimana dalam tahun-tahun normal mengingat pandemi masih belum ada tanda-tanda berakhir. Selain itu, hingga saat ini masih belum ditemukan vaksin dan obat yang dapat menyembuhkan Covid-19. Sebab itu, penyelenggaraan ibadah haji yang paling mungkin dengan mempertimbangkan aspek kesehatan masyarakat dan protokol kesehatan terkait dengan jaga jarak, yaitu menekan jumlah jemaah haji.

Sebenarnya sudah bisa diduga bahwa Arab Saudi tidak mempunyai banyak pilihan perihal penyelenggaraan ibadah haji tahun ini. Hanya ada dua pilihan yang sama-sama pahit, yaitu membatalkan penyelenggaraan ibadah haji secara total dengan alasan pandemi atau tetap menyelenggarakan ibadah haji dalam jumlah yang sangat terbatas dalam rangka memenuhi rukun Islam yang ke-5.

Rupanya Arab Saudi memilih yang terakhir untuk mengurangi polemik dan kontroversi yang mungkin saja terjadi. Mengingat dalam setahun terakhir, Arab Saudi menjadi pusat perhatian dunia dengan berbagai masalah domestik dan luar negeri yang dihadapi oleh negara kaya minyak ini.

Penangkapan dan hukuman mati bagi para ulama dan aktivis yang kritis terhadap kebijakan Muhammad bin Salman (MBS) telah mencoreng wajah Arab Saudi. Padahal MBS sudah menggelorakan "jalan moderasi" dalam berbagai sektor kehidupan dengan memberikan ruang kepada perempuan untuk mengemudikan mobil, menjadi tentara, dan berbisnis. Bahkan, MBS meluncurkan megaproyek NEOM 2030.

Namun, semua manuver dan ambisi MBS tersebut gugur sebelum merekah. Pembunuhan sadis terhadap Jamal Kashoggi, serta penangkapan dan hukuman mati bagi para ulama dan aktivis kritis telah menampilkan wajah lain dari MBS yang berlumuran darah. Ia yang sebelumnya diharapkan dapat membawa Arab Saudi pada era baru dengan membawa angin segar perubahan pada dunia, ternyata pelan-pelan membawa Arab Saudi pada jurang kegelapan dan kehancuran. Akibatnya, dunia internasional mulai kehilangan harapan terhadap MBS.

Ditambah lagi, ketidakmampuan MBS mengelola diplomasi dengan Rusia dalam perang harga minyak internasional, yang menyebabkan harga minyak terjun bebas, yang mengancam pendapatan Arab Saudi. Akibatnya, ekonomi Arab Saudi berada pada titik nadir, yang dapat menyebabkan terjadinya krisis ekonomi yang sangat serius. Celakanya, di saat ekonomi dalam kondisi krisis, MBS masih belanja senjata mematikan untuk membunuh saudara-saudaranya di Yaman Utara.

Ibadah haji pada tahun ini di tengah pandemi merupakan momen yang tidak mudah bagi Arab Saudi. Di satu sisi, Arab Saudi telah kehilangan pendapatan ekonomi yang cukup besar menyusul ditutupnya ibadah umrah dalam tiga bulan terakhir. Di sisi lain, Arab Saudi harus mengelola suara-suara protes dari berbagai dunia dalam soal penyelenggaraan ibadah haji pada tahun ini.

Dalam mengambil keputusan ibadah haji di tengah pandemi dalam jumlah yang sangat terbatas itu, Arab Saudi mempertimbangkan sikap Indonesia yang lebih awal mengambil keputusan untuk tidak memberangkatkan jemaah hajinya, karena Arab Saudi tidak memberikan kepastian perihal protokol kesehatan penyelenggaraan ibadah haji.

Maklum, jumlah jemaah haji Indonesia terbesar, sehingga apapun sikap Indonesia akan menjadi pertimbangan khusus. Sikap Indonesia diikuti oleh beberapa negara lainnya, seperti Malaysia, Singapura, Sinegal, dan lain-lain. Mereka juga memandang, penyelenggaraan ibadah haji tahun ini berisiko tinggi karena pandemi masih belum bisa diatasi.

Di samping itu, pandemi di Arab Saudi masih dalam kurva yang lumayan tinggi. Belum ada tanda-tanda pandemi akan melandai, yang membuktikan bahwa Arab Saudi masih berjuang melawan pandemi. MBS sungguh berada di tengah dilema yang sangat serius, karena seuji kemampuannya dalam menangani pandemi.

Di tengah krisis kepercayaan yang terus menumpuk atas kepemimpinannya, MBS harus mampu membuktikan kepada warga Arab Saudi, bahwa ia sudah teruji memimpin di tengah krisis. Jika tidak, maka MBS akan mengalami defisit kepercayaan yang akan menyebabkan masa depannya semakin limbung.

Terkait ibadah haji di tengah pandemi, sayangnya Arab Saudi hingga saat ini belum menjelaskan protokol kesehatan ibadah haji, perihal jumlah jemaah, dan prosesi penyelenggaraan ibadah haji. Perlu kiranya pemerintah Republik Indonesia juga memantau keselamatan Warga Negara Indonesia yang akan melaksanakan ibadah haji tahun ini.

Meskipun ibadah haji tahun ini akan diselenggarakan dalam jumlah yang sagat terbatas, perlu ada pemantauan yang sangat serius. Mengingat pandemi di Arab Saudi masih berada dalam kurva yang tinggi. Keselamatan WNI harus diperhatikan dengan baik-baik.

Bahkan, jika situasinya tidak memungkinkan perlu juga pemerintah RI mengambil sikap tegas untuk tidak mengikutsertakan WNI dalam ibadah haji tahun ini karena menghindari bahaya lebih diutamakan daripada mengambil manfaat (dar ul mafasid muqaddamun 'ala jalbil mashalih).

Akhirnya, kita perlu mengapresiasi sikap pemerintah Arab Saudi yang benar-benar mengambil keputusan bijak dalam penyelenggaraan ibadah haji di tengah pandemi. Arab Saudi telah berkorban untuk kehilangan pendapatan ekonomi dalam jumlah yang sangat besar di tengah ancaman krisis ekonomi. Dan kita semua harus memakluminya.

Dalam masa-masa pandemi ini, kita harus mengedepankan hati nurani dan rasionalitas untuk menjadikan keselamatan jiwa (hifd al-nafs) di atas segala-galanya. Sebab Islam adalah agama yang sangat memperhatikan keselamatan jiwa (hifd al-nafs) selain menjaga agama (hifd al-din).

Zuhairi Misrawi cendekiawan Nahdlatul Ulama, analis pemikiran dan politik Timur-Tengah di The Middle East Institute, Jakarta

(mmu/mmu)