Kolom

Mencitrakan Kembali Pariwisata Indonesia

Erda Rindrasih - detikNews
Kamis, 25 Jun 2020 12:00 WIB
Salah satu pesisir pantai Pulau Weh, Sabang, Nanggroe Aceh Darussalam
Jakarta -

Pariwisata di seluruh dunia mengalami hantaman keras akibat wabah Covid-19. UNWTO memprediksi penurunan kunjungan wisatawan internasional hingga 30% meskipun total kerugian masih belum diliris.

Dalam penanganan bencana, kita mengenal alur-hidup pengelolaan bencana (disaster management life cycle), yaitu dimulai dari kejadian (emergency), respons, pemulihan (recovery), mitigasi, pencegahan, dan persiapan. Konsep ini tidak begitu saja bisa diterapkan dalam pariwisata, karena pariwisata membutuhkan satu lagi, yaitu transformasi atau perubahan yang menyeluruh.

Sebuah destinasi yang pernah dihantam bencana tidak bisa lagi memiliki image atau citra yang sama dengan destinasi yang tidak pernah mengalami bencana. Menurut penelitian oleh Birkland et al, (2006) dan Wang (2009), publik akan memilih destinasi yang aman untuk dikunjungi daripada mengambil risiko berkunjung di daerah yang tidak aman. Oleh karena itu, Indonesia harus mampu mencitrakan kembali bahwa mengunjungi Indonesia adalah keputusan yang tepat.

Dengan adanya Covid 19 pasar wisatawan tentu akan berubah baik dari sisi jumlah, segmentasi, maupun jenis permintaan. Wisatawan akan lebih selektif mencari destinasi yang memastikan kebersihan, higenitas, dan keamanan. Indonesia harus berubah dari pariwisata gaya lama menjadi pariwisata gaya baru dengan melakukan transformasi yang mengarah pada kesesuaian kebutuhan pasar yang juga bergeser. Pendek kata, pariwisata Indonesia harus bertransformasi.

Contoh Kasus

Menilik contoh kasus penanganan pariwisata pascabencana, misalnya bencana alam, teroris, perang, wabah, dan kombinasinya, destinasi wisata melakukan perubahan dalam hal produk, pelayanan, pemasaran, dan institusi. Sebagai contoh, pascawabah penyakit mulut dan kaki (foot and mouth disease) di London pada 2001, pemerintah setempat segera membuat komite pemulihan yang bekerja dengan tahap tahap berikut: Tahap 1, memaksimalkan pasar domestik dalam jangka pendek yaitu diskon makanan, diskon hotel, diskon tiket kereta, dan lain-lain.

Tahap 2, pemasaran besar-besaran untuk pasar domestik yaitu mencanangkan "London Month", "Totally London", dan "Get into London Theather Campaign". Tahap 3 dan 4, pemasaran domestik dan sekitar Eropa, yaitu dengan bekerja sama dengan pihak swasta mempromosikan London ke sekitar Eropa misalnya dengan British Airways yang menslogankan London is closer than you think. (London lebih dekat dari yang kamu bayangkan). Tahap 5, pemasaran kegiatan pariwisata yaitu dengan membuat event sembilan hari berturut-turut dengan mengambil momen Natal dan Tahun Baru.

Contoh lain dapat dipelajari dari bagaimana Australia mempromosikan pariwisata kembali setelah musibah kebakaran hutan pada 2009. Riset yang dilakukan oleh Walters & Mairs (2012) menyimpulkan bahwa menggunakan sosok selebritas atau influencer di dalam marketing pariwisata pascamusibah kebakaran hutan dianggab lebih efektif.

Kita bisa juga belajar dari strategi Selandia Baru pascagempa bumi Christchurch 2010 dan 2011. Orchiston dan Higham (2014) menyoroti pentingnya manajemen pengetahuan, kolaborasi, dan komunikasi antarlembaga yang efektif dalam respons bencana, serta kolaborasi pengembangan dan implementasi strategi pemasaran untuk mempercepat pemulihan pariwisata jangka menengah hingga panjang.

Memantul Kembali

Singkatnya, guna menarik kembali wisatawan, Indonesia perlu melakukan transformasi, yaitu pada aspek produk, pemasaran, pelayanan, dan institusi. Diperlukan upaya menyeluruh untuk bisa bounching back (memantul kembali). Energi untuk memantul kembali didapatkan dari proses refleksi atas apa yang sudah terjadi dan cara-cara untuk bangkit kembali.

Dalam kasus Covid 19, untuk bisa bangkit kembali Indonesia memerlukan berbagai strategi. Pertama, perlunya menyelesaikan persoalan Covid-16. Semakin berhasil Indonesia mengelola Covid-19 semakin mudah bagi pariwisata Indonesia untuk pulih kembali. Maka dari itu tahapan pertama yang harus dilakukan adalah sedapat mungkin mengurangi, meredakan, dan meng-handle kasus Covid-19 di Indonesia. Dengan berhasilnya pengelolaan Covid-19 otomatis kepercayaan akan tumbuh dan Indonesia dapat dipilih menjadi destinasi tujuan wisata nantinya.

Kedua, perlunya strategi keragaman produk pariwisata dan memastikan produk dan pelayanan pariwisata memenuhi standar protokol kesehatan. Barangkali produk yang revolusioner diperlukan. Teknologi informasi telah berkembang sangat pesat; pariwisata bisa memanfaatkannya dengan menawarkan jenis virtual tourism misalnya. Bisa juga mengemas atraksi yang sama dengan perbedaan tata cara menikmatinya.

Ketiga, pariwisata Indonesia perlu dipasarkan kembali dengan dibantu oleh media, influencer, dan selebritas. Perlu dicari kata dan frase yang menarik guna mem-branding sebagai upaya mencitrakan kembali Indonesia. Keempat, perlunya sinergi antarentitas pariwisata, yaitu pemerintah, penyedia jasa pariwisata, swasta, praktisi, akademisi, media, dan masyarakat; dan perlu sinergi antara entitas pariwisata dengan entitas non pariwisata dalam hal ini adalah institusi kesehatan.

Selama ini kolaborasi antara sektor pariwisata dan kesehatan dirasa masih terbatas. Maka perlu adanya transformasi institusi pariwisata dengan memberikan ruang kepada aspek kesehatan. Contoh praktis misalnya dengan menerapkan protokol kesehatan di tempat wisata melalui kerja sama dengan institusi kesehatan.

Kelima, mengubah visi dari pariwisata Indonesia; tidak hanya menargetkan jumlah kunjungan yang besar dan massal, tetapi mulai fokus pada kualitas kunjungan, menjunjung nilai nilai budaya dan ilmu pengetahuan yang bisa dibawa pulang oleh wisatawan, lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan, serta memastikan wisatawan datang ke destinasi dan kembali ke tempat asalnya tanpa membawa penyakit.

Pariwisata global sedang mengalami tantangan serius, tetapi ini bukan akhir segalanya. Pariwisata Indonesia perlu bertransformasi dalam hal produk, pelayanan, pasar dan institusi, agar mampu memantul kembali lebih baik dari sebelumnya. Diperlukan upaya mencitrakan Indonesia sebagai destinasi yang aman dikunjungi.

Erda Rindrasih, M.U.R.P, PhD staf pengembangan program Kajian Pariwisata Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada, pendiri Indonesia Tourism Watch (ITW)

(mmu/mmu)