Memori Pemberantasan Terorisme di Xinjiang

China Media Group - detikNews
Selasa, 23 Jun 2020 20:37 WIB
China
Foto: China Media Group
Jakarta -

Ini adalah film serial ketiga menyusul dua film lainnya yang diluncurkan pada akhir tahun lalu. Sebagai respons terhadap pengesahan RUU Kebijakan HAM Uyghur 2020 oleh Amerika Serikat belum lama lalu, film tersebut dengan ungkapan fakta dan detail dalam jumlah besar telah menyingkap kejahatan bertubi-tubi yang dilakukan kaum teroris di Xinjiang, yang memperlihatkan betapa mendesaknya tugas memberantas terorisme dan deradikalisasi di Xinjiang, sehingga dengan kuat meluruskan kebohongan dan kabar keliru yang disebarkan para politisi AS terkait isu Xinjiang Tiongkok.

Menurut statistik yang tidak lengkap dari 1990 hingga akhir 2016, sebanyak ribuan kasus teror terjadi di Xinjiang yang mengakibatkan kerugian besar sosial, bahkan merenggut banyak jiwa tak berdosa. Akan tetapi, duduk perkaranya jarang diketahui masyarakat internasional gara-gara manipulasi dan pengelabuan dari para politisi AS.

Demi tujuannya yang jahat untuk memukul Tiongkok, para politisi AS tak segan-segan menggunakan standar ganda terkait pemberantasan terorisme. Mereka tidak mau menarik pelajaran pahit dari peristiwa 11 September 2001, dan keberatan menyebut kaum penjahat sebagai teroris, malah secara terang-terangan menyediakan dukungan dana kepada mereka.

Kali ini AS secara terang-terangan mengesahkan RUU terkait Xinjiang Tiongkok, memfitnah HAM Xinjiang dan menyerang kebijakan Tiongkok terkait Xinjiang. Hal ini membuktikan AS masih terus bersikeras memberikan semangat kepada kaum teroris kekerasan.

ChinaFoto: China Media Group

Justru seperti apa yang ditampilkan dalam film dokumenter tersebut, dalam waktu 20 tahun yang lalu, kaum teroris Xinjiang telah dengan kejam melakukan banyak kebrutalan, dari membacok masyarakat secara membabi-buta, menindas warga tak berdosa dengan kendaraan hingga menyerang kerumunan dengan bom bunuh diri.

Mereka bersekongkol dengan Gerakan Turkistan Timur dan kekuatan teroris lainnya, menyelundupkan senjata dan merencanakan serangan teror untuk menghasut permusuhan antar etnis dalam rangka memecah belah tanah air. Akibat kebrutalannya nasib masyarakat diubah menjadi suram dan banyak keluarga tercerai berai.

Masyarakat masih mencatat bahwa dua film dokumenter besutan CGTN tentang pemberantasan terorisme di Xinjiang sempat mengundang perhatian luas komunitas internasional pada akhir tahun lalu. Tidak sedikit warganet asing bertanya apakah keganasan tumpah darah itulah hak asasi manusia yang dilindungi pemerintah AS?

Akan tetapi, sayang sekali, sejumlah media Barat hampir serentak menutup matanya terhadap fakta-fakta yang terungkap dalam kedua film tersebut. Sejumlah media bahkan menurunkan kedua film tersebut dengan aneka alasan. Hal ini telah mengungkapkan tampan aslinya yang munafik dan standar gandanya yang jahat. Menanggapi film terbaru ini, entah sikap apa yang akan diambilnya, sekali lagi pura-pura membisu, bukan?

Justru seperti apa yang ditunjukkan para analis, masalah Xinjiang bukanlah masalah etnis, agama maupun hak asasi manusia, melainkan masalah anti terorisme dan masalah anti pemecah belahan negara. Pemerintah Tiongkok telah melaksanakan serangkaian tindakan untuk memenuhi permintaan masyarakat yang mendambakan kestabilan sosial dan kesejahteraan.

Tindakan-tindakan itu juga sesuai dengan semangat dan prinsip pokok masyarakat internasional terkait anti terorisme dan deekstremisme. Untuk memberantas ekstremisme dan terorisme, pemerintah Xinjiang telah mendirikan pusat pendidikan vokasional yang memberikan peluang kepada para peserta untuk belajar keterampilan kerja.

Para peserta pusat pendidikan tersebut telah terlepas dari pahaman radikal dan menguasai keterampilan yang membantu mereka hidup sejahtera setelah diintegrasikan kembali ke masyarakat. Dalam tiga tahun lalu, di Xinjiang tidak terjadi satu kali pun peristiwa kekerasan. Pada 2019, produk domestik bruto Xinjiang membukukan pertumbuhan sebesar 6,2 persen yang lebih tinggi daripada angka rata-rata nasional. Tahun ini, Xinjiang dan berbagai daerah lainnya di seluruh negeri akan mewujudkan target pengentasan kemiskinan.

Upaya anti terorisme dan deekstremisme di Xinjiang sudah mencapai hasil signifikan. Kemakmuran dan kestabilan yang terealisasi di Xinjiang tak boleh dipungkiri. Kepada para politisi AS, kami anjurkan supaya tidak lagi melihat dari kacamata sempit, selekasnya melepaskan standar ganda, dan menghentikanlah campur tangan terhadap urusan Xinjiang Tiongkok. Kalau tidak, mereka pasti akan terbakar hangus oleh api yang disulutnya diri sendiri.

[Gambas:Video 20detik]

(ads/ads)