Sentilan Iqbal Aji Daryono

"Tikungan" di Buku Terjemahan Kita

Iqbal Aji Daryono - detikNews
Selasa, 23 Jun 2020 17:00 WIB
Kolomnis - Iqbal Aji Daryono (Ilustrator: Edi Wahyono/detikcom)
Iqbal Aji Daryono (Ilustrasi: Edi Wahyono)
Jakarta -

Dengan niat suci mengisi masa mengurung diri selama pandemi, saya sempat belanja buku-buku terjemahan yang tampak keren dan berstempel "New York Times Bestsellers". Buku-buku semacam itu selalu membuat saya tergoda. Memang, saya jenis manusia yang mudah tergiur kepada penampilan. Boleh, kan?

Sayangnya, yang tampak keren itu ternyata benar-benar cuma sekilas keren. Dalam salah satu buku, saya langsung menemukan berkali-kali sandungan terjemahan yang menyebalkan.

Ada misalnya kalimat, "Pada 1995, ia menulis kepada tim periset Italia itu dan mengirimkan gambar dirinya."

Saya mengernyit saat membaca kalimat tersebut. "Menulis kepada"? Kok terdengar ganjil dan kurang oke, ya? Tentu, dalam sepersepuluh detik langsung saya sadari bahwa kata tersebut merupakan terjemahan dari write to. Dan, write to adalah ungkapan bahasa Inggris untuk "menulis surat buat".

Tetapi, kenapa di buku itu cuma ditulis "menulis kepada"? Tentu saja karena penerjemahnya tipe malesan dan maunya kerja cepat langsung bayaran. Dia menerjemahkan kata per kata saja, apa adanya, atau barangkali dia memakai Google Translate dari versi yang sangat lama.

Sialnya, bukan cuma satu kalimat itu yang bermasalah. Ada juga "itu tidak bekerja dengan baik" untuk kalimat yang kira-kira pada teks aslinya tertulis it doesn't work well, sedangkan dalam bahasa kita normalnya "itu tidak berjalan dengan baik". Ada lagi "John melayani sebagai fotografer pasukan tempur udara". Saya duga, kalimat aslinya berbunyi John served as photographer, tapi penerjemah lupa bahwa ada kata lazim dalam bahasa Indonesia untuk konteks semacam itu, yakni "bertugas" alih-alih "melayani".

Saya langsung sebal, dan tiba-tiba melihat buku yang saya pegang itu sebagai buku yang sangat buruk. Di saat yang sama saya lupa bahwa problemnya bukan pada buku tersebut, atau pada penulisnya, melainkan pada penerjemahnya.

***

Kasus-kasus penerjemahan yang ngawur sebenarnya banyak. Di masa ini, mungkin hal-hal demikian sudah lebih terkontrol, karena secara umum publik pengakses bacaan juga kian mahir berbahasa Inggris (sebagian besar buku terjemahan di negara kita ya dari bahasa Inggris), dan program penerjemahan di internet pun semakin mematangkan diri. Namun di masa lalu, kasus-kasus eror penerjemahan bisa sampai taraf menyesatkan.

Pernah 15 tahun silam sebuah buku terjemahan atas novel Paulo Coelho dihujat karena menuliskan "Hantu Suci" untuk Holy Ghost. Padahal, Holy Ghost itu Roh Kudus! Jelas, itu bukan lagi sekadar kegagalan mencari padanan dan menyajikan kelaziman sebagaimana buku bersampul hijau mint yang saya baca di atas tadi, melainkan sudah benar-benar sesat dan menyesatkan. Bahkan dulu ada juga kasus yang lebih parah, yakni ketika seorang penerjemah mengalihbahasakan sebuah buku Nietzsche dalam bahasa Inggris, tapi buku itu hilang beberapa halamannya, dan akhirnya bagian yang bolong itu ketahuan dikarang oleh si penerjemah!

Bayangkan, betapa parah tikungan yang didapatkan oleh pembaca buku-buku tersebut. Tikungan yang bukan hanya membuat pikiran berkelok-kelok untuk kemudian kembali lagi kepada jalur utamanya, melainkan tikungan yang bisa jadi seketika memerosokkan pembaca ke jurang kegagalpahaman. Walhasil, bukan pengetahuan yang didapatkan, namun malah kebegoan yang tak termaafkan.

Bulan lalu, melintas tangkapan layar atas twit-twit dari akun @PersianPoetics yang dibagi oleh penggiat perbukuan Ronny Agustinus. Dalam rentetan twit tersebut dikuak secara mengejutkan bahwa terjemahan versi Inggris karya Coleman Barks atas puisi-puisi karya Jalaluddin Rumi adalah terjemahan yang ngawur dan jauh sekali dari makna aslinya. Bahkan, terindikasi kuat penerjemahnya memang sengaja mencerabut puisi-puisi itu dari akar budaya dan akar spiritualnya. Hasilnya adalah pembacaan yang meleset jauh atas Rumi oleh jutaan orang pembaca, mengingat buku "terjemahan" Barks atas karya Rumi sudah terjual lebih dari setengah juta kopi.

Saya sempat panik. Meski cuma sedikit, pernah pula saya membaca terjemahan karya Rumi. Hingga kemudian kawan saya Wawan Arif yang menerbitkan karya-karya Rumi versi bahasa Indonesia mengunggah pernyataan panjang bahwa terbitan-terbitannya mengambil sumber versi bahasa Arab, sehingga lumayan ada jaminan bebas dari telikungan dan penyesatan ala Barks.

Hufff....

***

Problem dunia baca-tulis kita ternyata begitu kompleks. Minat baca yang minim dan tak henti dikeluhkan, pajak penulis yang mencekik, harga kertas bahan baku buku yang terus melambung, dan sekarang saya malah menyodor-nyodorkan masalah baru yakni kualitas penerjemah yang sering tanpa standar yang jelas.

Bukan maksud saya memperumit yang sudah rumit. Namun coba bayangkan, bagaimana bersama produk-produk terjemahan yang seenaknya itu ada transfer pengetahuan yang gagal dijalankan, ada belokan-belokan pemahaman yang amat menyesatkan, dan itu semua terjadi secara masif seiring buku-buku yang terjual dan disebarkan?

Dalam situasi begini, ingin rasanya saya mengadu kepada negara, tapi saya tahu negara sedang sibuk dengan korona. Jangankan cuma soal penerjemahan, lha wong soal pembajakan buku yang kian menggurita dan membunuh banyak penerbit dan penulis saja sampai sekarang tidak ada tindak lanjut konkretnya.

Maka, saya membayangkan bagaimana masalah semacam ini cukup diselesaikan oleh ekosistem perbukuan sendiri. Saya tidak tahu pasti bagaimana cara persisnya, tapi saya rasa sudah saatnya nama-nama para penerjemah buku diangkat dan dipopulerkan. Selama ini, para penerjemah bersama para editor adalah pihak-pihak yang senantiasa terlupakan dalam setiap buku yang kita baca. Jika mereka berprestasi tak pernah memanen pujian, jika mereka gagal jarang juga nama mereka yang dipersoalkan.

Dengan mengorbitkan nama-nama penerjemah, secara natural apresiasi sosial akan mereka dapatkan, dan di saat yang sama kontrol kualitas juga akan lebih bisa dijalankan. Setuju?

Enggak setuju juga enggak apa-apa. Nanti kapan-kapan saya bongkar lagi kekonyolan-kekonyolan penerjemahan lainnya. Hehehe.

Iqbal Aji Daryono penulis dan pembelanja buku

(mmu/mmu)