Kolom

Memupuk Harapan Generasi Corona

Hanifatul Hijriati - detikNews
Selasa, 23 Jun 2020 15:38 WIB
Poster
Foto: Edi Wahyono
Jakarta -

Keputusan bersama empat kementerian dalam menentukan tahun ajaran baru telah diumumkan pada 15 Juli lalu. Meskipun belum tertulis resmi dalam sebuah dokumen tercetak, sosialisasi tersebut telah memberikan beberapa informasi penting terkait keputusan kapan sekolah kembali dibuka.

Berulang kali Menteri Pendidikan menekankan kesehatan dan keselamatan siswa adalah yang utama. Pembukaan sekolah hanya diizinkan untuk wilayah zona hijau --itu berarti hanya 6 persen saja wilayah sekolah di Indonesia yang berstatus sebagai zona hijau. Sedangkan untuk wilayah zona kuning dan merah, sekolah masih harus dijalankan dengan jarak jauh.

Dan ketetapan awal tahun ajaran baru dibuka pada 15 Juli 2020. Sekolah akan dimulai dibuka dari tingkat SMA/SMK, SMP, dan paling terakhir adalah PAUD sampai SD. Sayangnya tidak dijelaskan dengan detail mengenai sistem pembelajaran jarak jauh yang akan berlangsung. Lamanya sistem pembelajaran jarak jauh ini tergantung pada perubahan status wilayah. Jika di suatu daerah bisa meningkatkan zona aman dari kuning ke hijau sekolah bisa dimulai kembali. Begitu juga sebaliknya, jika suatu wilayah berstatus zona hijau kemudian meningkat ke zona kuning atau merah, sekolah harus tutup kembali.

Sampai di sini saya sudah membayangkan ribetnya suatu sekolah. Misal pada hari pertama sekolah dibuka kembali, siswa masuk kembali meskipun mungkin dibuat bergilir, besoknya ternyata wilayah sekolah menjadi zona kuning atau bahkan merah, berarti sekolah harus tutup kembali. Sekolah harus membuat pengumuman kembali agar siswa belajar di rumah sampai ada perubahan wilayah menjadi zona hijau.

Begitu pun dengan situasi di mana sekolah diberlakukan dengan jarak jauh, ternyata besoknya ada perubahan status wilayah menjadi zona hijau. Berarti sekolah membuat pengumuman kepada siswa untuk masuk kembali. Prosedur pembukaan sekolah pun juga melalui tahap perizinan. Perizinan dari Dinas Kesehatan setempat, Dinas Pendidikan hingga terakhir orangtua.

Saya hanya membayangkan harus menunggu berapa lama sampai semua perizinan itu disahkan hingga sekolah benar-benar dianggap legal untuk dibuka. Jangan-jangan saat keluar izin sah pembukaan sekolah kembali, wilayah sekolah berubah status menjadi zona kuning atau merah. Akhirnya izin pembukaan sekolah menjadi batal seketika.

Dalam bayangan saya pula, siswa yang sebagian sudah merasa senang bisa sekolah kembali, tiba-tiba harus menelan kekecewaan setelah sekolah tiba-tiba tutup kembali karena perubahan status wilayah. Keputusan ini pula masih menyisakan pertanyaan mengenai prosedur pembelajaran jarak jauh yang akan diterapkan kepada 94% sekolah yang ada di Indonesia.

Ketua komisi X DPR meminta agar kendala tiap daerah berkaitan pembelajaran jarak jauh agar bisa diatasi. Mungkin yang dimaksud adalah keterjangkauan sinyal. Ini berarti tugas tiap kepala daerah memastikan keterjangkauan sinyal internet. Tetapi, Menteri Pendidikan meskipun tidak menjelaskan lebih mendalam, menyatakan bahwa proses pembelajaran jarak jauh dilaksanakan sesuai dengan kondisi sekolah atau wilayah masing-masing.

Saya masih berharap jika Menteri Pendidikan akan mengeluarkan petunjuk teknis pelaksanaan pembelajaran jarak jauh ini. Melihat perkembangan penanganan Covid-19 yang belum optimal dan persebaran infeksinya yang semakin merata, sepertinya sulit untuk memprediksi bahwa pembelajaran di sekolah akan banyak yang dibuka dalam waktu dekat. Itu berarti peran orangtua masih akan sangat dibutuhkan lebih besar dalam keterlibatannya untuk mendidik anak di rumah.

Dari sekian kebijakan terkait pendidikan di masa pandemi, peserta didiklah yang paling merasakan dampaknya, kemudian juga orangtua. Tuntutan pembelajaran jarak jauh jadi terasa akan lebih lama. Keterbatasan-keterbatasan fasilitas hingga sempitnya kondisi finansial sebagian besar kepala keluarga bisa menjadi kendala untuk berjalannya pembelajaran jarak jauh.

Meskipun kendala-kendala itu kemudian telah disiasati dengan Menteri Pendidikan yang memberi izin penggunaan dana BOS hingga 50% lebih untuk mendanai pembelajaran jarak jauh bagi siswa maupun guru, yang tentunya akan digunakan untuk pembelian pulsa, dana tersebut belum mampu membiayai penggunaan alat seperti gawai Android dengan kapasitas yang memadai bagi siswa yang tidak memilikinya ataupun sinyal internet yang terhubung melalui operator.

Berbagai tantangan dan kendala yang dihadapi di dunia pendidikan harus segera diatasi dengan kebijakan yang fleksibel. Generasi Corona atau generasi pelajar yang harus mengalami keberhentian aktivitas belajar di sekolah dalam jangka waktu lama adalah generasi yang kelak menghadapi tantangan hidup yang bisa jadi lebih besar. Mereka dihadapkan dengan adaptasi lingkungan dengan aturan-aturan baru.

Mereka juga harus memulai kembali memupuk semangat belajar dengan mengisi ceruk pengetahuan yang sempat kosong. Tantangan ini juga menguji para pendidik untuk kembali menyiapkan generasi dengan keterampilan dan pengetahuan yang sempat terhenti, tak terasah. Mereka harus kembali menumbuhkan tunas-tunas yang tadinya kering dan mengasah ujung yang telah tumpul.

Pembiasaan ini bisa jadi tidak terlalu berat bagi peserta didik yang memiliki privilese yaitu fasilitas belajar di rumah dan dukungan belajar yang baik dalam keluarga, namun bagi peserta didik yang hanya memiliki sekolah sebagai akses mereka memperoleh pengetahuan dan hanya memiliki guru sebagai sumber pengetahuan maka menumbuhkan kebiasaan untuk belajar kembali adalah tantangan tersendiri.

Sebagai guru, saya berharap pendidikan setelah pandemi dapat kembali dikemas untuk mengarahkan generasi pada kesiapan mereka untuk menghadapi kesulitan-kesulitan hidup di masa depan. Penguasaan soft skill dapat kemudian diusulkan kembali sebagai arahan kurikulum pasca pandemi.

Generasi Corona adalah generasi yang bisa memberikan kontemplasi pada pembuat kebijakan tentang arah pendidikan selanjutnya. Apakah pendidikan hanya terus berkutat pada teks-teks yang bersifat tekstual dengan banyaknya mata pelajaran, atau pendidikan dapat melakukan putar arah kepada pembentukan karakter melalui pendalaman minat tertentu dengan mengasah soft skill yang ada.

Sehingga generasi berikutnya dapat lahir sebagai generasi yang sadar literasi keilmuan karena minatnya difasilitasi, generasi yang kritis dan menemukan jawaban seputar kesulitan yang dihadapi tanpa harus mencontek teks yang bersifat tekstual, generasi yang disiplin dengan aturan dan kreatif juga inovatif tanpa melakukan plagiarisme.

Saya tahu mimpi saya kejauhan. Untuk melangkah menuju fleksibilitas pembelajaran masa pandemi pun pemerintah harus membuat kebijakan melalui alur birokrasi yang tidak ringkas dan efisien. Pelaksanaan Ujian Kenaikan Kelas yang terlihat begitu dipaksakan, evaluasi yang dilakukan begitu terlihat formalitasnya saja, tidak menyentuh akar sesungguhnya. Tapi, bolehlah saya terus menumbuhkan harapan pada Generasi Corona dan generasi sesudahnya.

Karena hanya dengan harapan kita bisa bergerak ke depan dan menumbuhkan mimpi-mimpi.

(mmu/mmu)